MinNeul's Home

Dream, Love, and Friendship (Part 3)


Dream, Love, and Friendship (Part 3) ^^Like a Flower^^

Annyeong Haseyo chingu… (^o^)

Langsung aja yaaa…

Selamat membaca…

Dream,, Love,, and Friendship Part 3

Musim semi tlah tiba… bunga-bunga mulai bermekaran dengan indahnya…
Moment ini digunakan oleh Bu Yoo Won untuk mengajak Lingkaran Cahaya bertamasya ke Taman Bunga. Pagi sekali mereka sudah
bersiap… Sepanjang perjalanan menuju Taman Bunga tak henti-hentinya
mereka menyanyikan senandung lagu-lagu bahagia.

Berjalan di sekeliling alam
Sepanjang perjalanan
Terpukau  aku membaca pesan
Kebesaran ILLahi
Segalanya telah nampak sempurna…
Gunung ladang air angkasa raya…Berarak pohon ditepi jalan…
sepanjang perjalanan
sejuknya sampai hinggap di hati
membuatku bahagia…

——- Edcoustic : Sepanjang Perjalanan ——-

Tibalah mereka di Taman Bunga Korea…. Berkeliling melihat beraneka jenis bunga,, begitu indahnya…. diselingi dengan canda,, tawa,, dan
tak lupa… mendokumentasikan moment yang tak kan terlupa ini… Tak ada
yang bisa mengalahkan kenikmatan berkumpul dan menghabiskan waktu
bersama sahabat hati. Saling memberikan senyum tulus persahabatan.

Setelah puas berkeliling,, mereka mencari tempat yang nyaman untuk duduk dan
memakan bekal makanan yang telah disiapkan.
“Lingkaran cahaya,,, bagaimana pendapat kalian tentang wisata hari ini?… menyenangkan
bukan?” tanya Bu Yo Woon membuka perbincangan.
“Ne… Sangaaatttt menyenangkan buuuu…” jawab Lingkaran Cahaya.
“Ayooo… Mari kita santap bekal makanan ini sambil menikmati keindahan Taman Bunga, Jal
mokessemnida (selamat makan) ” ucap bu Yo won.
“Serbuuuuuuu…. ” seru Ji Yeon dengan antusias. Lingkaran cahaya segera mengambil makanan
yang telah tersedia dan memakannya dengan lahap.Ketika mereka sedang
asik makan… Bu Yo Won kembali berbicara “Tahukah kalian… Lingkaran
cahaya ibarat bunga di hati ibu” .
“Maksudnya apa bu?… ” tanya So Eun. “Kalian adalah 9 jenis bunga berbeda yang menghiasi taman hati
ibu”jawab Bu Yoo Won.
“Ouuuhhhh,, so sweet…” seru Lingkaran cahaya serentak.

“Ah Sung” panggil Bu Yo Woon
“Ne…sonsengnim” jawab Ah Sung
“Kau bagaikan bunga teratai. Bunga teratai, walaupun hidup di lingkungan yang kotor. Akan tetap anggun walaupun lingkungan
ingin merusak, dan bahkan dialah yang menentukan kualitas lingkungannya.
Dengan kondisi yang sedemikian kotornya, orang akan menganggapnya
sebagai yang tidak berharga dan kotor, yang tidak pantas untuk diraih
karena demikian kotornya tempat ia hidup. Tapi bunga teratai mempunyai
bunga yang sangat indah dan bersih, bertolak belakang dengan
lingkungannya yang kotor. Bunga yang hidupnya di atas air yang tenang
dan kotor, dimana banyak serangga dan sumber penyakit hidup. Daunnya
yang besar terapung di atas air dan dijadikan tempat loncatan kodok. Dia
tampil dengan keindahan bunganya yang sangat menawan bagi yang
melihatnya. Dia hidup dengan keindahan dan kebersihan yang demikian
tanpa dipengaruhi oleh lingkungannya yang kotor. Betapapun kotornya
tempat dia hidup, tapi keindahannya tetap terjaga dengan baik. Bahkan
lingkungannya yang ingin merusak dirinya, bunga teratai tetap tumbuh
dengan indahnya tanpa merusak lingkungannya.


Ah Sung teringat dengan kondisi keluarganya. Ia hanya tinggal bersama dengan ibunya yang sakit-sakitan. Ayahnya pergi begitu saja
meninggalkan ia dan Ibunya ketika tau ibunya mengidap penyakit kanker.
Kakak laki-laki satu-satunya yang menjadi tulang punggung keluarga
mengalami kecelakaan ketika ia sedang bekerja dan sekarang menjadi
lumpuh. Untungnya ia mendapat beasiswa penuh untuk bersekolah di SMA KGI
karna kecerdasannya sehingga ia tak merepotkan ibunya. Tak terasa
butir-butir air mata menetes di pipinya.
“yaaaa… aku harus menjadi bunga teratai yang kuat” tekad Ah Sung dalam hati.

“Nam Ji Hyun” panggil Bu Yo Won
“Ne.. sonsengnim” jawab Ji Hyun.
“Kau bagaikan Bunga Matahari,ia dinamakan bunga matahari karena ia selalu setia
mengikuti kemana arah matahari bergulir,coba perhatikan pada pagi hari
bunga matahari akan menghadap kearah timur,kearah matahari terbit dan
dia terus mengikutinya seiring matahari bergerak kesebelah barat tempat
matahari terbenam. Jadi kalau diibaratkan dengan manusia maka ia adalah
seorang hamba yang setia mengikuti kemana saja tuannya pergi. Kau tipe
orang yang setia dan patuh  tanpa banyak protes. Kau setia pada
teman-temanmu, pada keluargamu dan tentunya pada impian dan
cita-citamu”.
Ji Hyun pun tersenyum….


“Hye Sun” panggil Bu Yo Won
“Ne.. Sonsengnim” jawab Hye Sun
“Kau bagaikan bunga Melati. Melati tak pernah berdusta dengan apa yang
ditampilkannya. Ia tak memiliki warna dibalik warna putihnya. Ia juga
tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya, apapun
kondisinya, panas, hujan, terik ataupun badai yang datang ia tetap
putih. Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati selalu putih. Putih,
bersih, indah berseri di taman yang asri. Melati tak pernah berdusta
dengan apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna dibalik warna
putihnya. Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai
keadaannya, apapun kondisinya, panas, hujan, terik ataupun badai yang
datang ia tetap putih. Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati selalu
putih. Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri.Pada debu ia tak
marah, meski jutaan butir menghinggapinya. Pada angin ia menyapa,
berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ia tetap putih
berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa.
Kekanan ia ikut, ke kiri iapun ikut. Namun ia tetap teguh pada
pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera
kembali pada tangkainya.
Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara ribuan air yang menghujani tubuhnya.
Agar siapapun tak pernah melihatnya bersedih, karena saat hujan berhenti
menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu
tak lagi menetes. Sesungguhnya, ia senantiasa berharap hujan kan selalu
datang, karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes air matanya.
Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling
menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran. Karena juga, hanya
hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi,
pada hujan juga ia mendapati
keteduhan, dengan airnya yang sejuk.Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya,
memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani
kewajibannya, menserikan alam. Agar kelak, apapun cobaan yang datang, ia
dengan sabar dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian
dari cinta dan kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa
pengorbanan? Adakah kasih sayang tanpa cobaan?
Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan hijau daun
itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih. Jika daun
itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus
meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi
putih? Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan
alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik,
karena masing-masing memahami tugas dan peranannya. Tak pernah melati
iri menjadi mawar, dahlia, anggrek atau lili, begitu
juga sebaliknya. Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning,
karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih. Pada matahari ia memohon,
tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang
menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku
oleh pekatnya malam. Sinarnya yang menceriakan, bias hangatnya yang
memecah kebekuan, seolah
membuat melati merekah dan segar di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang penuh
gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu
hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.Pada alam ia
berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang
bersamanya. Indah menghiasharumi semua
taman yang disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atas nama cinta dan
keridhoan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas
melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang putih.
Yang tetap berseri disemua suasana alam.
Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak segera pupus. Mencari
selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya, yang mungkin merobek
layarnya dan juga menggores luka di putihnya.
Mata Hye Sun berkaca-kaca terharu mendengar penjelasan dari Bu Yo Won “apakah benar
aku seperti melati?.. ” tanya Hye Sun dalam hati.

“Ji Yeon” panggil Bu Yo Won.
“Ne.. Sonsengnim” jawab Ji Yeon.
“Kau bagaikan Tulip. Bukan karena asalnya dari Belanda atau mahal harganya
di toko bunga.
Tulip…Kuntum manisnya membuat siapa saja terpesona. Ia indah saat berkerumun bersama kawan
Namun juga tampak sangat tegar saat sendiri. Meski ia tak secantik bunga mawar atau sewangi rangkaian
melati. Ia tetap bunga yang disukai. Karena ketegaran hatinya dan
kekuatan cintanya. Tulip… terlihat cantik bukan karena raga,,tercium
wangi bukan karena semerbaknya.Namun tetap memiliki mahkota indah
terjaga. Walaupun hanya sang pemetik yang merasakannya. Tulip
melambangkan keceriaan warna-warni, secara umum ia dapat bermakna
Perfect Lover, sebuah simbol yang terus didengungkan di Negeri Kincir
Angin. Bagaikan sebuah nama yang merefleksikan
makna, warna pun merefleksikan rasa.

“aihhhh,,, Gomapseumnida… Bu Yo won tau saja kalo aku suka bunga Tulip” ujar Ji Yeon sambil mengedipkan mata kanannya.
“Saranghae sonsengnim” lanjutnya sambil memeluk dan mencium pipi bu yoo woon.
Lingkaran cahaya tertawa melihat tingkah lucu Ji Yeon.

“Kita lanjutkan yaa.. Min Jung” panggil Bu Yo Won
“Ne.. sonsengnim” jawab Min Jung
“Kau bagaikan Bunga Anggrek. Bunga yang memiliki penampilan eksotis dan  melambangkan kecantikan yang halus dan langka. Mereka yang
ingin memberikan kesan yang unik dan lama dalam ingatan mengatakan bahwa
anggrek adalah pilihan utama. Baik sebagai tanaman pot atau dalam
karangan bunga, penampilan bunga ini tidak dapat ditandingi. Intinya…
kehadiranmu tak kan bisa tergantikan karna kau unik dan beda.” ucap Bu
Yo Won

“Aku Setuju buuu. Wanita yang jago beladiri ini bagaikan anggrek  yang tak kan terganti dan tak kan tertandingi” ujar Geun Yong
sambil mengangkat kedua jempolnya. Bu Yo Won kembali berbicara.

“Kalau Kau Geun Yong. Kau Bagaikan Edelweis. bunga yang “jujur” artinya dia
tidak menunjukan secara langsung kecantikannya lewat warna atau
wanginya, tetapi orang-orang justru terpikat oleh Edelweis karena bunga
ini memang memiliki sesuatu yang luar biasa indahnya. Letakmu tinggi dan
dingin.Bungamu kecil sangat memikat. Tumbuh dilereng penuh bahaya.Hanya
yang terpilih mampu dapatkan. Bunga Abadi … Edelweiss. Hanya yang
“Terpilih” dengan penuh perjuangan yang mampu memelihara bahkan
memetiknya. Nama bunga ini diambil dari bahasa Jerman, edel = noble
(mulia), weiss = white (putih). Dari namanya, bunga ini melambangkan
keagungan, kesucian, keabadian. Selain cantik, bunga imut-imut ini juga
terjaga di puncak gunung, limited edition, sulit didapatkan orang, cuma
pendaki-pendaki tangguh aja yg bisa melihat bunga ini.”
Geun yong pun meyakini dalam hati “aku memang istimewa”


“Min Ji” panggil Bu Yo Won
“Ne… sonsengnim” jawab Min Ji
“Kau bagaikan bunga Aster. Sama seperti anggrek,, Bunga Aster adalah Symbol
cinta, keindahan, dan kecantikan, Cinta yang setia. Namun,, ada
kelebihannya yang tak dimiliki oleh bunga lain. Aster memiliki kesabaran
yang luar biasa. ” jelas Bu Yo Won.


“wahhh Sonsengnim.. aku jadi merasa tersindir nihh,, kadang-kadang aku masih bersikap manja dan tak sabaran.. tapi mulai saat ini aku akan
belajar dan mencoba untuk lebih sabar” ucap Min Ji.
“Joayo…!!! (bagus),, selamat mencoba” ujar So Eun memberikan semangat.

“Ji Yun” panggil Bu Yo Won
“Ne… sonsengnim” jawab Ji Yun
“Kau bagaikan bunga Mawar. Bunga mawar  atau yang juga dikenal sebagai
American Beauty ini memang memiliki karakter yang unik, anggun, cantik.
Keindahannya sudah diketahui setiap orang di belahan dunia manapun, just
say Rose and everybody will know it… Bunga ini bisa menggambarkan
keindahan seorang wanita yang anggun, ataupun lambang cinta sejati,
namun keeksotisannya inilah yang menyebabkan hampir semua orang suka
padanya.
mawar adalah suatu lambang kehidupan. dimana dia bisa melindungi dirinya dengan duri yang menancap pada batangnya. dan dia
juga bisa menampakkan keanggunanya dengan keindahan bunganya itu. selain
itu daun2nya bisa memancarkan kesuburan. karena bunga mawar menyimpan
kecantikan yang berbeda dan makna yang luar biasa didalamnya….mawar
bukan sekedar bunga….yang indah wujud dan warnanya.. Mawar juga
lambang filosofi,,lambang kedamaian, lambang kasih, lambang pertahanan,
lambang dari segala lambang…”

“Dan.. yang terakhir adalah So Eun” ucap Bu Yo Won.
So Eun pun menatap Bu Yo Won dengan penuh perhatian.
“So Eun.. kau bagaikan Bunga Sakura. SAKURA bermakna JANJI. layaknya bunga-bunga lain yang
memiliki makna masing-masing. Bunga sakura, saat mekar tanpa pamrih,
tanpa beban apa pun, dengan ketulusan dalam memberikan kepuasan dan
kekaguman pada tiap orang untuk menikmatinya. Gugurnya bunga sakura akan
sangat disayangkan banyak orang. Hidup Sakura itu bak cermin
keberhasilan seseorang. Begitu kita mati, orang merasa kehilangan. Bunga
Sakura yang merekah indah dengan usianya yang begitu singkat, tak
pernah menghalanginya untuk menebarkan keindahan yang dimiliki. Sakura
tidak pernah melakukan hal-hal yang bombastis, hal-hal spektakuler.
Sakura tidak pernah melakukan hal-hal revolusioner. Sakura tidak pernah
melakukan eksperimen yang berujung pada penemuan terbesar yang mengubah
sejarah. Sakura hanya melakukan apa yang dia bisa selama masa hidupnya.
Dia mekar, menunjukkan keindahannya dengan begitu jujur selama dua
minggu yang singkat itu. dia memberikan perasaan menyenangkan bagi orang
yang melihatnya. Dia meneduhkan jalan-jalan yang dilalui manusia selama
dua
minggu masa hidupnya. tapi itu saja sudah cukup untuk membuat orang-orang mengenangnya dalam cara yang luar biasa. Sakura punya waktu
dua minggu setiap tahun. jadi kalaupun dia tidak memberikan yang terbaik
tahun ini, toh dia masih punya dua minggu berikutnya di tahun depan.
SAKURA adalah JANJI
yang walau usianya terlalu singkat, tapi ia BERJANJI akan kembali mekar di musim semi selnajutnya. ia akan kembali membagi
keindahannya, ia akan kembali membagi keceriaan bagi siapa saja yang
memandangnya. SAKURA BERJANJI AKAN DATANG LAGI …


So Eun pun tersenyum penuh arti. Pemaparan yang baru saja disampaikan oleh Bu Yo Won memang persis seperti yang ia pikirkan selama
ini… “Yaaa… aku ingin seperti Bunga Sakura” ucap So Eun dalam hati.

Bu Yo won menutup pemaparannya dengan berkata “Manusia dan bunga itu
serupa; takdir telah menentukan bahwa manusia juga pasti akan mati,
seperti bunga-bunga itu.Itu memang benar, tapi ada perbedaannya, yaitu
cara kita menemui kematian.Bunga-bunga itu akan gugur bukan karena rapuh
ataupun lemah, melainkan karena mereka telah selesai melakukan apa yang
harus mereka lakukan. Lihatlah! Mereka gugur dengan cara yang paling
indah! Itu karena tidak ada penyesalan yang mereka rasakan. Begitu pula
dengan kita, bila mati telah menyelesaikan apa yang harus kita lakukan,
mengapa perlu menyesal?”

Malam hari… Di Ruang Musik SMA KGI

Terlihat Lingkaran Cahaya tanpa Min Jung dan Ah Sung menyanyi bersama. Mereka sedang membantu Hye Sun untuk mempersiapkan drama
musikalnya. Mencoba memilih lagu demi lagu yang tepat untuk digunakan
pada drama musikal.

Akhirnya telah diputuskan bahwa lagu yang akan menjadi pembuka dari drama musikal adalah “Reflection”

Look at me
You may think you see who I really am
But you’ll never know me
Every day
It’s as if I play a part
Now I see
If I wear a mask
I can fool the world
But I cannot fool my heartWho is that girl I see
Staring straight back at me
When will my reflection show
who I am inside?

I am now in a world where I have to hide my heart
And what I believe in
But somehow I will show the world
What’s inside my heart
And be loved for who I am

Who is that girl I see
Staring straight back at me
Why is my reflection someone I don’t know?
Must I pretend that I’m someone else for all time?
When will my reflection show
Who I am inside?

There’s a heart that must be free to fly
That burns with a need to know the reason why
Why must we all conceal
What we think
How we feel?
Must there be a secret me
I’m forced to hide?

I won’t pretend that I’m someone else for all time
When will my reflection show
Who I am inside?
When will my reflection show
Who I am inside?

——— Reflection : Christina Aguilera ———-

“Chingu… aku akan memberitahukan tugas kalian masing-masing,, Jal dereseyo…!! (dengarkan baik-baik)” ucap Hye Sun.
“So Eun,, kau bersama denganku menjadi juri dari audisi untuk mencari pemain drama
musikal ini. Naskah untuk drama ini sudah aku selesaikan. Ji Yun.. kau
bertugas untuk mendesign panggung,, gunakan kemampuanmu design grafismu.
Geun Yoong dan Min Ji bertugas menyiapkan segala sesuatu yang
berhubungan dengan logistik baik selama kita latihan maupun pada saat
perform. Hyun Jung bertugas mengurus administrasi dan keuangan,, dan Ji
Yeon.. aku minta kau mendesign kostum setiap pemain dari drama musikal
ini.  Apakah kalian paham?” tanya Hye Sun.
“Ne.. algessemnida” jawab So Eun,, Ji Yun,, Geun Yoong,, Min Ji,, Hyun Jung,, dan Ji Yeon
bersamaan.
“Gamsahamnida,, Kita punya waktu 3 bulan untuk menyiapkan drama ini,, mari kita lakukan dengan sebaik-baiknya” ucap Hye Sun.
“Aza..aza… Hwaiting!!!!!” seru mereka.
“Oiya,, aku tak melihat Min Jung dan Ah Sung,, kemanakah mereka?…” tanya Hye Sun.
“Min Jung sedang berlatih karate,, sedangkan Ah Sung sedang bimbingan dengan Bu Yoo Won untuk
olimpiade matematika” jawab So Eun.

*************

Keesokan harinya . . . Di SMA KBI

Terlihat Kim Bum sedang berada di perpustakaan,,

“Bum-ah” panggil Joong Ki. Kim Bum pun menoleh lalu berkata “Whaeyo?”
“Kau diminta untuk menghadap Pak Kepsek di ruangannya,,sekarang..!!” ucap Joong Ki. “Aku akan segera kesana,,
gomawoyo..” ujar kim bum

***************

Di ruang kepala sekolah SMA KBI.

terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam
“Silahkan masuk” ucap Pak Kepsek
“Selamat siang pak” sapa kim Bum
“Selamat siang Kim Sang Bum,, Jal jinaego issoyo (apa kabar)?” tanya Pak kepsek.
“Jonen,, jal jinaego issoyo (kabar saya baik)” jawab Kim Bum.
“Langsung saja ya.. saya ingin memberitahu bahwa tulisan essaymu yang berjudul “Mari
buat dunia tersenyum bersama Romantika Korea” masuk ke tahap final,,
Chukahamnida Kim Bum”
“Jongmalyo (benarkah)?” tanya kim bum tak menyangka. “Saya senang sekali mendengarnya”.
“Yang ingin saya sampaikan adalah persiapkan dirimu dengan sebaik-baiknya,, karna pada
saat acara final nanti.. akan ada banyak pertanyaan yang dilontarkan
terkait tulisamu itu. Jadi kau harus banyak membaca buku,, mencari
berbagai referensi,, dan yang paling utama adalah berdo’a serta meminta
restu kepada kedua orang tuamu” jelas Pak Kepsek.
“Ne Sonsengnim.. saya akan berusaha melaksanakan apa yang sudah bapak sampaikan,,
gomapseumnida” ucap Kim Bum.
Kim Bum pamit untuk menuju ruang kelas TP 44 karena bel tanda masuk telah berbunyi.

***************

Di SMA KGI

So Eun menatap serius layar chibiusa. (FYI : Chibiusa itu nama laptopnya So Eun). Ia sedang mencari materi untuk bahan siaran
selanjutnya. Tema kali ini cukup membuat So Eun kelimpungan. Temanya
tentang “wanita di mata seorang pria”
“Huft…” So Eun sedikit mengeluh. “Apa yang harus ku lakukan ?… !!! aku benar-benar sedang
tidak ada ide” So Eun berkata dalam hati.
Setelah berjam-jam browsing internet,, perjuangannya pun tak sia-sia. Ia menemukan sebuah
artikel yang ditulis oleh seorang siswa SMA KBI yang bernama Kim Sang
Bum. So Eun membaca kata demi kata dari artikel tersebut. Ia pun
berdecak kagum. Satu kata untuk menggambarkan tulisannya “Inspiratif”.
Setelah membaca artikel tersebut,, So Eun semakin penasaran dengan
penulisnya. Ia pun mengklik profilnya dan membaca riwayat hidup penulis.
“Ternyata ia adalah seorang Presiden siswa” gumam So Eun dalam hati. So
Eun semakin kagum membaca rangkaian prestasinya dalam dunia
jurnalistik,, pengalaman organisasinya,, visi dan misi hidupnya,, semua
terlihat sempurna di mata So Eun. Ada kata pembuka di blognya yang cukup
menarik bagi So Eun
” Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnya,, tapi Anda tak akan bisa memimpin
seseorang tanpa mencintainya”


So Eun memutuskan untuk menggunakan artikel  yang ditulis Kim Bum sebagai bahan untuk siarannya. Namun sebeum itu,, ia harus meminta izin
kepada penulisnya. So Eun mencatat nomer handphonenya dan berniat untuk
menghubunginya.Terdengar nada sambung,, tak lama kemudian terdengar
suara “Yoboseyo” ucap Kim Bum.
“Apakah benar ini adalah Kim Sang Bum?” tanya So Eun.
“Iya benar,, saya sendiri. Nuguseyo?.. (ini siapa) dan ada perlu apa?” tanya Kim Bum.
“Perkenalkan,, nama saya Kim So Eun. Silahkan memanggil saya So Eun. Saya bersasal dari SMA KGI.
maksud saya menelepon anda adalah karna saya baru saja membaca artikel
anda di blog dan saya berkeinginan untuk menjadikannya sebagai bahan
siaran. Untuk itu,, saya perlu bertemu langsung dengan Anda untuk
melakukan sedikit wawancara,, apakah Anda bersedia?” tanya So Eun.
“Kalau begitu,, silahkan datang ke SMA KBI sore ini. Nanti kita bertemu di
Taman. Oiya,, karna SMA KBI adalah SMA khusus laki-laki,, sebaiknya Anda
membawa teman perempuan Anda agar ada yang menemani” ucap Kim Bum.
“Jinca ? (benarkah )Baiklah,, saya akan datang sore ini,, gamsahamnida ” ujar
So Eun.
“Choenmaneyo (sama-sama)” jawab Kim Bum.

So Eun segera mematikan Chibiusa dan bergegas mencari keberadaan Hye Sun. Ia ingin
Hyu Sun yang menemaninya ke SMA KBI. So Eun mengirim sms pada So Eun
“Hye Sun,, kau ada dimana sekarang? aku butuh bantuanmu”
Hye Sun pun menjawab “aku sedang berada di Kantin bersama dengan Min Ji dan Min
Jung”

So Eun segera menuju kantin untuk menemui Hye Sun. “Hai So Eun,, ada apa mencariku?.. Mwosei dowaderilkayo? (apa yang bisa saya
bantu)” tanya Hye Sun.
“Aku ingin kau menemaniku bertemu dengan Presiden Siswa SMA KBI sore ini,, apakah kau bisa?” tanya So Eun.
“Ohhh,, tentu saja aku bisa” ucap Hye Sun.
“Tadi kau bilang,, kau ingin pergi ke SMA KBI bukan?.. tanya Min Ji.
“Ye… “jawab So Eun.
“Apakah aku juga boleh ikut?.. aku ingin menemui saudara kembarku.
“Mwo?.. kau punya saudara kembar Min Ji?… kenapa kau tak pernah cerita?.. kali
ini Min Jung yang bertanya.
“Bukan tak mau cerita,, hanya saja aku malas membahasnya” ucap Min Ji.
“Arasoyo (baiklah),, kau boleh ikut Min Ji “ujar So Eun.
“Kalo begitu,, aku ikut juga yaaa.. aku khan bisa melindungi kalian jika ada yang berani macam-macam” seru Min Jung.
“Siipplah.. kita pergi berempat” ucap So Eun.

*************
Di Taman SMA KBI

Terlihat Kim Bum,, Hyun Joong,, dan Geun Suk sedang duduk bersama di bangku taman.
“Jadi,, sore ini kau punya janji bertemu dengan penyiar wanita di taman ini,, tapi kenapa kau meminta kami
menemanimu?” tanya Hyun Joong.
“Karna penyiar wanita yang bernama So Eun itu membawa teman wanitanya,, bisa mati gaya aku jika menjadi
satu-satunya pria di antara kerumunan wanita” ucap Kim Bum.
“hahahaha… ternyata seorang Presiden Siswa bisa mati gaya juga yaaaa… “sindir
Geun Suk.
“ahhhhhh… kalian ini,, aku khan juga manusia biasa” bela Kim Bum.

*************

Di depan Gerbang SMA KBI

Terlihat 4 gadis cantik celingak-celiguk meihat ke sekeliling.
“Owhhh,, jadi ini yang namanya SMA KBI” gumam Min Jung
“Sebaiknya kita segera menemui Satpam Sekolah ini untuk menjelaskan kedatangan kita,, yuuukk”
ajak So Eun yang diikuti oleh Hye Sun,, Min Jug,, dan Min Ji.

****************

Setibanya di Pos Satpam

“Silyehamnida (permisi) Ahjusi” sapa So Eun
“Ye… Jega jom dowa derilkalyo? (bisa saya bantu)” tanya Pak Satpam.
“Jonen.. So Eun imnida,, I Saram (orang ini) Hye Sun,, I saram Min Jung dan Ge
saram (orang itu) Min Ji. Kami berasal dari SMA KGI. Kami telah membuat
janji untuk bertemu dengan Presiden Siswa SMA KBI yaitu Kim Bum sore ini
di Taman untuk melakukan wawancara” jelas So Eun.
“Ohhh begitu,, mari saya antar” ajak Pak Satpam.
“Gamsahamnida”jawab mereka berempat.

So Eun,, Hye Sun,, Min Ji,, dan Min Jung pun segera mengikuti langkah kaki pak satpam. Karena hari sudah menjelang sore,,
hanya ada beberapa siswa SMA KBI yang masih berada di lingkungan
sekolah,, kebanyakan sudah kembali ke asrama. Ini membuat mereka
berempat lebih nyaman karna bisa dengan bebas berjalan. Belum juga
sampai di tempat yang dituju,, langkah kaki mereka terhenti
karena mereka melihat pak satpam memberikan salam hormat kepada seorang pria
yang tak lain adalah Pak Nam Gil.
“Selamat sore Pak” sapa Pak Nam Gil
“Selamat sore,, mau kemana pak?… dan,, siapa siswi-siswi ini?” tanya Pak Nam
Gil.
“Ini siswi dari SMA KGI ingin bertemu dengan Kim Bum,, maka saya bermaksud untuk mengantarnya” ucap Pak Satpam.
“ohhhh,, kalo begitu silahkan,, tapi ingat… batas waktunya hanya sampai jam 9 malam” tegas
Pak Nam Gil
“Baik pak,, saya permisi” ucap Pak Satpam.

Mereka pun melanjutkan langkah kaki menuju Taman SMA KBI. Tak lama kemudian
mereka telah sampai…

*******

Bersambung….

Segini dulu ya chingu…

Bagi yang penasaran gimana kelanjutannya,,, apa yang akan terjadi di pertemuan pertama Kim Bum dan Kim So Eun?…

Nantikan part selanjutnya yaaa…

Saran dan Kritik sangat amat dinanti,, ditunggu,, dan diharapkan…

Dari lubuk hatiku yang terdalam *ceile bahasanya* ku ucapkan gamsahamnida… (^o^)

*****dieRenZ FuLL OF L O V E*****

si penyuka jeruk…

5 responses

  1. putrii***

    keren..

    June 25, 2011 at 11:26 AM

  2. kerennn bangett chingu!!! tapi aku penasaran siapa yaaa saudara kembarnya si minji hehe aku maunya Kim Hye-sung yang jadi junno huhuhuhu dia kerenn bangett!!!

    June 25, 2011 at 8:32 PM

    • ayooo tebak siapa saudara kembarnya Min Ji?…
      jawabannya udah ada di part selanjutnya loh… kkk XDD
      makasiih yaa sudah baca…😀

      June 25, 2011 at 10:06 PM

  3. Keren kak makin keren hehe😀 sukaa deh smaa karakter Bumsso dkk hehe😀 , mmm Bumsso mau ketemu nih cihuyy makin penasaran *lgsg lanjut hehe😀

    October 21, 2012 at 11:51 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s