MinNeul's Home

Everlasting Flower For My Everlasting Love


Title                       : Everlasting Flower For My Everlasting Love

Author                  : Dina Amalia

Genre                    : Romance

Cast                       :

– Jung Haneul

– Lee Sungmin

and other member Super Junior

Length                  : One Shot

Karena bunga selalu mewakili
perasaan hati yang terdalam tentang cinta yang tersimpan

 

Seoul, hari ini

Di sebuah ruangan, gadis berwajah mungil itu sedang asik membuka-buka buku hariannya dan termenung mengenang kilasan peristiwa-peristiwa yang pernah mengisi hari-harinya. Ia berusaha mengingat setiap momen yang terlewati di kehidupannya.

 

Kirin Senior High School, Februari 2005

“Kalian tahu tentang bunga edelweiss?” tanya Ibu Guru Kim kepada murid-muridnya. Ia mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas dan mendapati para siswanya mengangguk dan menjawab secara bersamaan. Ia pun melanjutkan penjelasannya, “Edelweis adalah bunga abadi. Nama latinnya edelweis adalah Anaphalis javanica. Nama bunga ini diambil dari bahasa Jerman, edel = noble (mulia), weiss = white (putih). Dari namanya, bunga ini melambangkan keagungan, kesucian, keabadian. Bunga ini merupakan tumbuhan gunung yang sangat terkenal, dapat mencapai tinggi 8 meter, batang dapat berukuran sebesar kaki manusia, dan amat sangat langka. Edelweis adalah pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan yang mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga ini sangat disukai serangga, lebih dari 300 jenis serangga terlihat mengunjunginya. Jika cabang-cabang tumbuhan ini dibiarkan tumbuh kokoh maka dapat menjadi tempat bersarangnya burung-burung. Bagian-bagian Edelweiss sering dipetik dan dibawa turun oleh para pendaki dengan alasan estetis, spiritual, atau sekedar untuk kenang-kenangan saja. Namun, sekali lagi keserakahan manusia menjadikan bunga ini menjadi amat langka padahal cara tumbuhnya amat mudah. Edelweis dapat diperbanyak melalui potongan cabang-cabangnya.

Gadis itu menyimak penjelasan yang sedang disampaikan oleh gurunya dengan penuh perhatian. Tak lupa, ia pun mencatat kalimat-kalimat yang menurutnya penting untuk ia catat. Ini  pertama kalinya ia mendapatkan penjelasan tentang filosofi bunga edelweiss. Dengan wajah cerah dan mata berbinar ia berkata pada dirinya sendiri, “Edelweis, tak kusangka filosofimu begitu luar biasa. Walau tak secantik mawar, tak harum seperti lili, bukan semenarik anggrek, dan tak istimewa seperti teratai Brazil, tapi edelweis tetaplah yang terunik. Aku ingin menjadi sepertimu, seperti bunga edelweis.”

*****

Pucha Café, Mei 2009

Gadis penyuka bunga edelweis itu kini sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu kampus populer di Korea, Seoul National University. Gadis itu menatap satu persatu koleksi gambar bunga edelweis yang ia kumpulkan dari hasil searching [1]di internet. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Suatu saat, aku harus bisa menyentuhmu secara langsung. Oh my[2] edelweis, aku ingin menjadi sepertimu. Bunga yang ‘jujur’, yang tidak menunjukan secara langsung kecantikannya lewat warna atau wanginya, tetapi orang-orang justru terpikat oleh edelweis karena kau memang memiliki sesuatu yang luar biasa indahnya.”

“Kau pasti bisa menjadi seperti edelweis,” sebuah suara terdengar dari arah depan yang membuat gadis itu mengalihkan perhatian dari edelweisnya. Ia pun menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Jwesonghamnida, nuguseyo[3]?” tanyanya.

Ahh, Mianhamnida.[4] Apakah kau masih ingat padaku? Kita pernah bertemu di kantor SMent.”

Gadis itu terlihat mengingat-ingat sesuatu, kemudian ia berkata, “Oh, ne5, aku ingat sekarang. Lee Sungmin-ssi [5]adalah rekan satu manajemen dengan Yunho Oppa[6] khan?”

Iyaaap, syukurlah kau masih mengingatku. Haneul-ssi, apa kabar?”

“Kabarku baik, bagaimana denganmu Sungmin-ssi?”

“Aku juga baik. Oh iya, bolehkah aku duduk disini?”

“Silahkan. Emm, kalau boleh tahu, apa yang sedang Sungmin-ssi lakukan disini?”

“Aku ada janji dengan adikku, tapi sepertinya dia telat. Kalau kau sendiri?”

“Aku sedang mengerjakan tugas kuliah. Kebetulan, Café ini milik temanku, jadi aku bisa berlama-lama ada disini, hehe.”

“Apakah tugasmu berhubungan dengan bunga Edelweiss?”

Ne, Jamkanman[7]. Darimana Sungmin-ssi bisa tahu?”

“Tadi, sewaktu aku baru saja masuk kesini, aku tak sengaja mendengarkan Haneul-ssi menyebut edelweis berkali-kali.”

“Waaah, sepertinya aku tak menyadari kalau suaraku terlalu keras.”

Aniyo[8], telingaku saja yang memang peka, hehe. Oiya, bagaimana kabar SNU? Sudah lama aku tidak mengunjungi kampusku yang dulu.”

“SNU baik-baik saja, masih berada di tempatnya dan tidak bergeser sedikitpun. Oiya, kau tidak ingin memesan sesuatu?”

Haneul menyodorkan daftar menu pada Sungmin. “Apa Sungmin-ssi sudah pernah mencoba minuman andalan dari Café ini?” Sungmin menggeleng.

“Baiklah, kalau begitu aku merekomendasikan untuk mencoba orange float. Rasanya segar, apalagi di udara musim panas seperti sekarang ini.”

Sungmin pun menerima rekomendasi dari Haneul dan memesan satu gelas orange float ditambah dengan banana cupcake.

Sejak pertemuan kedua Sungmin dan Haneul di Pucha Café, mereka berdua seringkali berinteraksi. Dan tanpa mereka sadari, semakin hari hubungan mereka menjadi semakin dekat. Haneul pun sudah mulai terbiasa memanggil Sungmin dengan panggilan ‘Oppa’. Panggilan itu hanya akan Haneul pakai jika ia sudah merasa adanya kenyamanan dan keakraban yang terjalin antara ia dengan orang yang ia panggil dengan panggilan ‘Oppa’ itu.

Hari-hari berikutnya, Haneul menjadi pendengar setia bagi Sungmin. Padahal, Sungmin bukanlah tipe orang yang senang membagi ceritanya dengan orang lain. Bukan karna ia tidak punya kisah yang bisa ia ceritakan, hanya saja ia takut menyakiti orang lain dengan ceritanya. Tapi di hadapan Haneul, dengan lancarnya Sungmin bercerita tentang hal-hal yang ia alami di kehidupannya. Sungmin mulai menjadikan Haneul sebagai orang penting di hidupnya.

 

*****

 Seoul Worldcup Stadium, Oktober 2009

 

Haneul dan sahabatnya Hyoseok sedang berada di backstage Dream Concert. Jika bukan karena permintaan Hyoseok, Haneul tidak akan mau berlama-lama ada di ruangan itu. Haneul mengamati sekitar, terlalu banyak orang disini. Ia tidak suka keramaian. Perasaan Haneul sedang tidak baik ditambah ia melihat sebuah pemandangan yang membuat nuansa hatinya menjadi semakin berantakan. Ia melihat lelaki itu. Lelaki yang bisa dibilang cukup dekat dengannya belakangan ini. Haneul melihatnya dikelilingi banyak sekali yeoja. Lelaki pemilik senyum aegyo itu telihat sedang bercakap-cakap dan sesekali terdengarlah tawa renyahnya. Haneul merasa ada pecahan beling yang menusuk hatinya. Perih. Apakah ini yang dinamakan cemburu?

*****

            Sesampainya di rumah, Haneul langsung membenamkan tubuhnya di kasur. Tanpa perlu dikomandoi titik demi titik krystal bening itu mengalir di pipinya.

“Jung Haneul, kenapa kau harus menangis? Kenapa dadaku ini terasa sesak dan sakit?”

Ini pertama kalinya Haneul menangis untuk seorang lelaki. Haneul merasa lemah dan tak kuasa mengendalikan hati dan perasaannya sendiri. Haneul menatap gambar bunga edelweis yang terpampang dengan jelas di dinding kamarnya. “Aku adalah Edelweiss. Dan seorang edelweis tidak akan mudah menyerahkan keindahannya pada seorang pendaki yang biasa-biasa saja. Hanya pendaki yang tangguh yang bisa memetik dan membawaku pulang bersamanya. Jung Haneul, ingat! Jangan terlalu berharap banyak padanya. Belum tentu, ia adalah sang pemilik tulang rusukmu, tegas Haneul pada dirinya sendiri.”

Haneul membuka lembaran buku hariannya dan mulai menulis kata demi kata,

Keinginanku sederhana, aku hanya ingin menjadi perempuan yang bisa menjaga hatinya untuk seseorang yang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan jiwanya.

Aku ingin dipertemukan dengan

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku
ketika aku berbuat salah
Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku
di sisinya

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang
yang tidak sempurna,
sehingga aku dapat membuatnya sempurna

Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku
untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

 

*****

            Sudah beberapa minggu ini, Sungmin agak kesulitan untuk menghubungi Haneul. Rasa kehilangan mulai Ia rasakan. Ia akui, Haneul memang tidak terlalu cantik. Apalagi jika dibandingkan dengan junior-juniornya yang lain. Tapi, ada sesuatu yang menarik di dalam dirinya yang selalu saja membuat Sungmin ingin lebih dekat dan mengenalnya. Sepertinya Sungmin tidak bisa membohongi perasaannya. Ia merindukan sosok Haneul, dan ia pun menemui Yunho yang merupakan kakak sepupu dari Haneul. Sungmin terlihat salah tingkah ketika hendak memulai percakapan dengan Yunho.

“Yunho-ya, annyeong,” akhirnya Sungmin berhasil mengendalikan dirinya sendiri.

“Sungmin Hyung, annyeong,” Yunho tersenyum kepada Sungmin dan melanjutkan perkatannya, “Apa Hyung menemuiku karna Haneul?” pertanyaan yang baru saja dilontarkan Yunho tepat sasaran. Semburat kemerahan terpancar dari wajah Sungmin dan ia pun menganggukan kepalanya.

“Apa Hyung menyukai Haneul?”

“Aku tidak tahu, tapi aku merasa nyaman ketika sedang bersama dengannya. Perasaan nyaman yang selama ini belum pernah aku temukan ketika aku dekat dengan wanita manapun, kecuali ibuku tentunya. Oh ya, bisakah kau menceritakan tentang sosok Haneul dari sudut pandangmu?”

“Ne, tentu saja Hyung,” jawab Yunho masih dengan senyuman di wajahnya. Ia pun mulai bercerita,“Jung Haneul adalah gadis yang unik. Kenapa aku bilang ia unik? Karena di abad yang sekarang ini, sangat jarang ditemukan gadis sepertinya. Haneul tidak mau terburu-buru untuk memberikan hatinya pada seorang lelaki, maka tak heran jika sampai saat ini ia masih sendiri. Bukannya Haneul terlalu pemilih, tapi ia hanya berusaha untuk mencari yang terbaik untuk masa depannya. Menurutku, Haneul adalah cerminan dari bunga edelweis. Bunga yang sejak dulu selalu ia jadikan inspirasi dalam hidupnya. Dimana ada edelweis, disitu pasti ada Haneul. Seakan-akan, edelweis dan Haneul sudah menjadi sebuah kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Tidak mudah untuk menaklukkan hatinya. Ia begitu menjaga dirinya dengan baik. Hal itu juga berkat didikan dari kedua orangtuanya. Aku, Il wo, Yonghwa, Haneul, dan So min tumbuh bersama. Sejak kecil, kami memang tidak terpisahkan. Kami saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Jika aku bukan kakak sepupunya, aku rasa aku akan jatuh cinta pada sosoknya. Haneul mempunyai cara sendiri untuk membuat dirinya terlihat istimewa. Namun, tak banyak yang menyadari keistimewaan yang dimilikinya itu. Satu hal yang ingin aku sampaikan padamu, jika Hyung memang benar-benar serius dengan Haneul, jangan pernah mempermainkan perasaannya. Datanglah padanya, dan bersikaplah sebagai seorang ksatria, karena seorang bidadari tidak akan bisa dijemput dengan cara yang biasa-biasa saja.”

“Yunho-ya, terimakasih atas informasimu tentang Haneul, aku merasa jadi semakin mengenal sosoknya. Tapi, entah kenapa aku belum memiliki keberanian untuk menyatakan perasaanku padanya.”

“Apa kau ragu?”

“Mungkin.”

“Berdialoglah dengan hatimu, Hyung. Karena terkadang, ada beberapa hal yang tidak bisa dipikir dengan logika, namun bisa dirasakan dengan hati. Jangan sampai Hyung menyesal karena telah membiarkan bunga Edelweiss itu pergi begitu saja.”

“Yunho-ya, apakah kau mendukungku untuk bisa bersama dengan Haneul?”

“Tentu saja aku mendukung kalian. Walau Haneul tidak bercerita padaku tentangmu, tapi dari raut wajahnya dan sorot matanya, aku bisa melihat bahwa Haneul sangat senang ketika sedang bersama denganmu.”

“Benarkah?”

Ne, aku bisa memastikan hal itu.”

Gomawoyo Yunhyo-ya.”

Ne, Cheonmaneyo[9] Hyung.”

Setelah perbincangan di hari itu, Sungmin berusaha untuk semakin memantapkan dan meyakinkan hatinya bahwa ia membutuhkan Jung Haneul di hidupnya. Dengan segenap kekuatan yang telah ia kumpulkan, suatu pagi di tanggal 13 oktober 2009, Sungmin pergi menuju ruang kediaman orangtua Haneul. Ia bertekad untuk menyampaikan perasaannya.

 

13 Oktober 2009

Saengil Chukahamnida [10]Putri edelweis,” suara itu mengagetkan Haneul ketika ia baru saja membuka pintu rumahnya. Di hadapannya kini berdiri seorang lelaki dengan senyum khasnya membawa beberapa tangkai bunga mawar di tangan kanannya dan sebuah bingkisan di tangan kirinya. Haneul masih memandangi sosok itu hingga sebuah suara menyadarkanya.

“Siapa yang datang Haneul-ah?” seorang wanita mengampiri Haneul.

“Ahh, eh, ini,” Haneul terlihat gugup.

Tanpa pikir panjang, Sungmin memperkenalkan dirinya, “Annyeong haseyo, Jonen Lee Sungmin imnida, bangapseumida[11],” Sungmin mengakhiri kalimatnya sambil membungkukkan badannya.

“Ahh, Annyeong Sungmin-ssi, saya ibunya Haneul. Jung Ha Ni. Mari masuk.”

“Tidak perlu Eomma[12], lagipula aku sudah mau berangkat kuliah,” cegah Haneul. “Sungmin Oppa, bisakah mengantarkanku ke kampus?”

Sungmin pun mengiyakan permintaan Haneul.

 

Dalam perjalanan menuju kampus, Haneul lebih banyak diam. Sungmin agak bingung dibuatnya. Akhirnya ia berinisitiaf untuk memulai percakapan, “Hari ini pasti adalah hari yang istimewa untukmu bukan? Apakah kau ingin pergi ke suatu tempat?”

Oppa, bisakah aku minta sesuatu padamu?”

Ne, katakan saja.”

“Tolong, jangan bersikap terlalu baik padaku. Bersikaplah biasa saja, seperti yang lain.”

“Maksudmu?”

“Seperti Leetuk Oppa, Yesung Oppa, Shindong Oppa dan yang lainnya, bisa khan!”

Sungmin menghela nafas perlahan, “Sepertinya aku tidak bisa.”

Waeyo? Aku bukanlah siapa-siapa untukmu khan Oppa. Tolong jangan biarkan orang lain salah paham dengan hubungan kita ini.”

“Kalau aku bilang, aku suka padamu, bagaimana?”

Haneul terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Sungmin menghentikan aktivitas menyetirnya dan menepikan mobilnya ke pinggir jalan.

“Jung Haneul, dengarkan aku. Saat ini aku memang belum bisa menjadi seorang pendaki yang tangguh, saat ini aku sedang dalam perjalanan mendaki puncak tertinggi untuk dapat meihat bunga edelweisku, bisakah kau memberikanku kesempatan? Aku pasti akan bisa mencapai puncak tertinggi itu, lalu memetikmu dan membawamu pulang bersamaku. Maukah kau menungguku? Sang pendaki ini sedang dalam perjalanan menuju kesana.”

Haneul menatap Sungmin dan mulai berbicara, “Maafkan aku. Tapi, aku memang tidak pernah mau mengucapkan janji atau menerima janji dari pria manapun. Jika Oppa memang benar-benar ingin memiliki bunga edelweis itu, maka buktikanlah.”

 

*****

Juli 2010

            Sungmin terlihat sedang menyiapkan berbagai peralatan untuk mendaki. Ia memberikan tanda ceklis pada list barang-barang yang sudah ia masukkan ke dalam tasnya. “Hyung, ada yang bisa aku bantu?” tanya Ryeowook.

Gwaenchana, sebentar lagi aku selesai kok.”

Hyung, apa kau yakin akan pergi mendaki?” tanya Eunhyuk

“Sangat yakin Hyukie-ya. Aku telah mempersiapkan semua ini dari jauh-jauh hari. Aku harus bisa membawa pulang bunga edelweissku.”

Hyung, mianhae. Kami tidak bisa menemanimu,” ucap Kyuhyun.

Gwaenchana Kyuhyun-ah. Keberadaan adikku Sungjin sudah cukup untuk membantuku.”

“Semoga berhasil membawa pulang edelweismu itu, kami disini akan membantu dengan doa. Hati-hati Sungmin-ah.”

Ne, Teuk Hyung. Gomapseumnida. Aku pamit dulu.”

Sungmin dan Sungjin memulai perjalanan mereka mendaki pegunungan untuk menjumpai bunga edelweiss. Bunga yang kata banyak orang adalah bunga abadi perlambang cinta yang abadi.

 

Seoul, hari ini

Haneul membuka lembaran terakhir di buku hariannya, tertulis keterangan : Juli 2010. Ada beberapa kalimat yang ditulis oleh sang pendaki untuk bunga edelweisnya.

Bunga edelweiss memang tidak begitu indah bentuknya tetapi perjuangan untuk memperolehnya telah membuatnya sangat berkesan dan indah untuk diceritakan. Namun, apapun akan dilakukan untuk melihat dan menikmati bunga EDELWEIS. Bagi seorang pecinta alam, ia pasti TIDAK AKAN MEMETIKNYA UNTUK DI BAWA PULANG bila mereka menyebut dirinya sebagai PECINTA ALAM.

Di balik keindahan dari bunga edelweis ternyata tersimpan sebuah mitos, dimana bagi yang memberikan bunga ini kepada pasangannya, maka cintanya akan abadi. Tidak sedikit para pencinta yang menjadikan bunga abadi ini menjadi salah satu hadiah spesial bagi pasangannya. Konon, hal itu dimaksudkan agar cintanya abadi.

Di bagian akhir dari tulisan sang pendaki itu, terpampang fotonya ketika sedang mencapai puncak tertinggi dan di sebelahnya ada bunga edelweiss. Di bawah foto itu tertulis sebuah kalimat “For my edelweiss princess[13], aku memang tidak bisa memetik edelweiss ini dan membawanya pulang untukmu, karena ia terlalu berharga untuk kusentuh. Tapi satu hal yang pasti, aku sangat ingin memiliki bunga langka ini. Bisakah aku memilikinya?”

            Haneul membaca jawaban yang ia tulis untuk sang pendaki setahun yang lalu, “Bunga edelweiss ini kini sudah menjadi milikmu. Jagalah ia agar ia menjadi bunga yang tak lekang oleh waktu.”

Tepat ketika Haneul menutup buku hariannya, sang pendaki tangguh itu telah duduk di sebelahnya sambil memperlihatkan senyumannya. “Sedang apa?” tanyanya.

“Seperti yang Oppa lihat, aku sedang membaca kembali kisah kita,” jawab Haneul.

“Kisah kita?”

“Kisah tentang bunga edelweiss dan pendaki tangguhnya.”

“Bagaimana akhir dari kisahnya?”

Haneul tersenyum sambil menyandarkan kepala dibahu lelakinya dan berkata, “Kisah ini tak kan pernah berakhir, kisah ini akan terus berlanjut because our story is never ending story.”

 

-SELESAI-


6 responses

  1. pertamax!!!😀 woowww..keren mba critanya!!berharap bs spti edekweis..hhmmmm…keren,keren,keren…lanjutkan mba!!! \(^0^)/

    July 15, 2011 at 10:22 AM

    • HOREEE…~~ hadiahnya silahkan di ambil di pom bensin terdekat (?)
      makasiih yaa mbaa udah mampir, baca dan ninggalin jejakmu disini… *hughug*😀

      July 16, 2011 at 10:16 AM

  2. Ah ! Saya jadi tersenyum sendiri.
    Lee Sungmin~ :3
    Boleh deh saya jadi gunungnya (?)
    /blink blink/😄

    July 15, 2011 at 10:46 AM

    • Hati-hati ahh kalo suka senyum2 sendiri…. itu tanda-tanda… emmmm~~😉
      jadi Gunungnya??.. MAKSUDNYA APAAAAAAHHH ?~ *culik Yhoon*~

      July 16, 2011 at 10:18 AM

  3. die onn…. teriak2 pkk speaker masjid..
    #ditendang
    loh perasaan q dah pernah bc nie dieeehhh, pa crtnya bd???
    wae?wae?WAE?
    muncul lg??
    pah sengaja membuat q mati sekarat lg hahahaha ^^yg lebay kelaut jah^^

    July 17, 2011 at 7:51 PM

    • Gag sopaaaan… >.< itu marboth masjidnya nyari2 speaker yang dicolong (?) fit tuh… ayo balikin lagi…
      ini sengaja di posting lagi buat ikutan Fanfic contest fit sayaaang…😀

      July 19, 2011 at 6:46 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s