MinNeul's Home

(FanFiction) Love is JINGGA


 Another Mineul’s story

Sebenarnya ini cerita lama..

yang udah pernah baca sebelumnya, kalau mau baca lagi juga boleh… hehehehe..

Maap author blum bisa posting cerita baru, jadinya.. posting cerita yang dulu pernah dibuat untuk ikut lomba, tapi ga jadi.. kkk xD

Happy Reading All ^^

Don’t forget to like and leave comment, thank you..😀

Title : Love is JINGGA

Author : Dierenz

Length : Oneshoot

Main Cast : Lee Sungmin, Jung Haneul (OC)

Rating : PG 13

Genre : Romance

Disclaimer : Lee Sungmin belongs to himself, SM Entertainment, his family and GOD.. But the story belonging to me. His character which I wrote is mine. Copy-Paste my story is NOT ALLOWED without my permission.

Ini memang bukan kisah cinta sempurna

Tetapi kisah dua anak manusia yang belajar menyempurnakan cinta

Belajar memberi, menerima, dan memperbarui cinta

*****

^^Sungmin POV^^

Jung Haneul, itulah namanya. Seorang gadis mungil dengan tinggi 160 cm yang beberapa jam lagi akan resmi menjadi istriku. Usia mudanya tidak menyurutkan langkah untuk menerima pinanganku beberapa bulan lalu. Haneul lebih muda 3 tahun dariku.Sebelum aku benar-benar melepas status lajangku, bolehkah aku menceritakan tentang sosoknya?

Jung Haneul adalah seorang gadis yang ceria. Perpaduan antara sanguinis dan melankolis menyatu di dalam dirinya. Bergolongan darah A, sama sepertiku. Aku mengenalnya kurang lebih setahun yang lalu. Yang paling aku ingat ketika pertama kali bertemu dengannya adalah warna baju yang dikenakannya. Warnanya cerah dengan nuansa jingga. Gadis mungil itu tersenyum dan mengenalkan namanya padaku dan juga member Super Junior yang lain. “Annyeong haseyo, Jonen.. Jung Haneul imnida, bangapseumnida”ucapnya lembut. Tidak ada yang istimewa di awal perjumpaan kami. Aku dan para member yang lain pun memperlakukannya sama seperti karyawan magang yang lain. Haneul adalah salah satu karyawan magang di SM Entertainment yang sedang melakukan penelitian untuk skripsinya.

Setelah hari perkenalan itu, aku sering melihatnya mondar-mandir di kantor SMEnt. Eiiitss, jangan salah sangka. Aku tidak ada niat untuk memperhatikannya. Setiap kali bertemu pun hanya sebatas salam dan sapa saja. Namun, ada satu hal yang menurutku menarik dari dirinya. Tiap kali aku berpapasan dengannya, pasti baju yang dikenakannya selalu bernuansa jingga. Aku mulai bertanya-tanya “Apakah gadis ini hanya mempunyai baju dengan satu warna?” ataukah ia memang sangat menyukai warna jingga? sama sepertiku yang sangat menyukai warna merah muda.

Suatu ketika, aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. Awalnya mungkin ia kaget dengan pertanyaanku, terlihat jelas di wajahnya. Tapi, saat itu juga ia menjawab pertanyaanku. Haneul berkata “Aku memang menyukai warna jingga Sungmin-ssi. Bagiku, warna jingga adalah warna yang memberikan semangat dan keceriaan. Dan aku, ingin seperti jingga yang selalu menebarkan semangat dan keceriaan untuk orang-orang disekitarku”. Satu hal yang bisa aku simpulkan dari perbincanganku dengannya, Haneul adalah gadis yang ramah dan menyenangkan. Pandangan matanya menenangkan dan senyumnya selalu tersungging di wajah mungilnya. Setidaknya kami memiliki satu kesamaan. Kami adalah orang yang sama-sama addict terhadap satu warna.

Setelah perbincangan itu, entah kenapa dan bagaimana, setiap kali aku melihat suatu benda, apapun itu yang bernuansa jingga, pikiranku langsung tertuju pada Haneul. Bahkan, labu manis kesukaanku yang sering aku nikmati sebagai menu sarapan, tiba-tiba berubah menjadi sosok Haneul yang memperlihatkan senyumannya. Aku merasakan ketidakberesan pada diriku. Aku berusaha keras menata dan mengelola hatiku. Dan akupun semakin tidak mengerti ketika di sela-sela kesibukanku, aku masih menyempatkan diri pergi ke kantor SMEnt hanya untuk sekedar menyapa dan menanyakan perkembangan skripsinya. Tak ada yang tahu perihal kedekatanku dengan Haneul bahkan member Super Junior sekalipun. Para member beranggapan bahwa sikap perhatianku pada Haneul adalah sikap perhatian biasa yang sering aku tunjukan pada wanita-wanita lain yang ada di sekitarku. Untuk urusan hati, aku memang tidak bisa terlalu sering berbagi. Jika saja Kyu tidak berusaha mengorek-ngorek cerita, maka akupun tidak akan menceritakan perasaanku. Dongsaengku yang satu itu selalu punya banyak cara untuk membuat hyungnya mati kutu. Dan aku salah satunya. Aku bercerita tentang Haneul, dan Kyu pun menyimaknya.

Kyu berkomentar “Hyung, kau miliku. Bagaimana bisa kau berikan hatimu untuk orang lain?”

Akupun menjawab “Yya.. Cho Kyuhyun.. Aish,, Jinca..!! Kali ini aku serius”

Ne, arasoyo. Apapun yang Hyung lakukan, aku akan mendukungmu”ucap Kyuhyun “Keundae Hyung, apakah aku perlu menceritakan hal ini pada Leetuk Hyung dan juga Hyung yang lain?”tanya Kyu dengan ekspresi tanpa dosa.

Yya.. apa kau sudah bosan hidup? Keep this story only for you and me, okeh..!!”

“Tapi aku rasa, lambat laun yang lain pun akan tau”jawab Kyu dengan cuek

“Biarlah itu jadi urusanku kelak. Yang penting untuk saat ini, cukuplah aku menceritakan hal ini padamu”ucapku

Setelah bercerita pada Kyu, akupun mulai berdialog dengan hatiku “Sebenarnya, bagaimana perasaanku terhadap Haneul?” “Apakah aku menyukainya?” atau.. “Aku hanya merasa nyaman berteman dengannya?”. Aku memang tipe pria yang mudah dekat dengan wanita. Teman wanitaku banyak. Tapi, bukan berarti aku seorang playboy. Teman-teman wanitaku sering mendatangiku dan meminta bantuanku untuk mendengarkan cerita mereka dan berharap ada feedback yang bisa kuberikan berupa saran atau masukan. Selama ini, aku merasa nyaman berteman dengan banyak wanita. Tapi, kenapa dengan Haneul berbeda? Haneul belum pernah sekalipun menceritakan masalah pribadinya padaku. Walaupun ia ramah dan menyenangkan, tapi Haneul tak pernah sanggup lama-lama menatap mataku. Mungkin hanya sepersekian detik ia menatapku, dan selanjutnya ia mulai menundukan pandangannya. Rasanya aku dibuat penasaran oleh gadis yang satu ini. Rasa penasaran ini semakin menjadi-jadi semenjak aku tahu bahwa Haneul sepertinya mulai menaruh perhatian padaku. Ia memberikan hadiah berupa mug berwarna merah muda dengan kata-kata penyemangat yang tertulis di mug itu. Momen itu bertepatan dengan rilisnya album 4Jib Super Junior. Dengan ekspresi malu-malu, Haneul membawa album SJ yang baru saja dibelinya dan meminta tanda tanganku. Akupun tersenyum dibuatnya “Apakah kau salah satu dari Everlasting Friends?” tanyaku.

Haneul menganggukan kepalanya sambil menjawab “Ne..”

“Siapa member favoritmu?”tanyaku

Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukannya padaku. Terlihat foto seorang namja dengan senyum aegyonya terpampang menjadi wallpaper ponselnya. Bisa ditebakah itu siapa?.. YES, itu aku.

Saat promo album keempat dan kesibukanku mulai menjadi-jadi, aku tak punya banyak waktu untuk sekedar menengok keadannya. Di luar dugaan, pada saat aku sedang melakukan comeback stage bersama member SJ di salah satu stasiun TV, aku bisa melihat Haneul sedang duduk manis di barisan penonton bersama ELF yang lain sambil memegang lightstick Sapphire Blue dan meneriakan kata-kata “Super Junior…. Super Junior…”

*******

Hari itu, hari yang sangat tidak aku suka. Haneul berpamitan padaku dan juga pada member SJ yang lain serta tak lupa pada karyawan SMEnt. Haneul telah menyelesaikan magangnya dan penelitiannya pun telah rampung. Ada perasaan sedikit tidak rela ketika harus melepasnya. Aku baru saja hendak memulainya. Aku baru saja merasa aku ingin lebih dekat dengannya. Tapi kenapa waktu seolah-olah tidak berpihak padaku? Rasa-rasanya aku ingin memperpanjang waktu magang Haneul, tapi apa daya, aku tak punya kuasa.

Di hari perpisahan itu, Haneul berkata “Sungmin-ssi, main-mainlah ke kampus. Bukankah dulu kampusku juga adalah kampusmu? Kita satu almamater khan! aku tunggu kedatanganmu di kampus yaa”. Haneul adalah mahasiswi di Seoul National University. Kampus yang dulunya adalah kampus tempat aku belajar sebelum aku memutuskan untuk pindah ke Universitas Myeongji.

Semenjak hari itu, aku tidak lagi melihat keberadaan gadis jingga di kantor SMEnt. “Gadis Jingga” itu adalah panggilanku untuknya. Rasa kehilangan mulai aku rasakan. Tidak ada lagi senyumnya, tidak ada lagi wajah cerianya yang menyapaku. Haneul memang tidak terlalu cantik. Apalagi jika dibandingkan dengan junior-juniorku di SM. Tapi, ada sesuatu yang menarik di dalam dirinya yang selalu saja membuatku ingin lebih dekat dan mengenalnya.

Sepertinya aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku merindukan dia. Merindukan sosok Haneul, dan aku memutuskan untuk segera menemuinya. Aku melangkahkan kakiku menuju kampus Seoul National University, kampus yang sudah lama sekali tidak aku kunjungi. Hanya satu yang kuinginkan, melihat sosok Haneul berada di hadapanku.

Keinginanku terkabul. Sosok yang dirindukan itu benar-benar ada dihadapanku. Masih dengan baju bernuansa jingga, namun terlihat lebih santai. Terdengar suara khasnya menyapaku. Rasa rindu ini serasa terobati. Ia mengajakku berkeliling kampus. Baru kali ini aku punya banyak waktu bersama dengannya. Jika sebelumnya kami hanya saling menyapa, kini aku bisa mendengarkan cerita darinya. Tentang kenapa ia bisa masuk SNU, tentang impian dan cita-citanya, tentang rencana masa depannya. Satu kata untuknya, visioner. Dari cerita yang ia sampaikan, aku bisa tahu bagaimana ia menyusun rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjangnya dengan sangat rapi. Haneul berkata padaku “Seindah apapun rencana yang telah kita buat untuk hidup kita, jauh lebih indah rencana Tuhan. Takdir memang telah ditetapkan, yang perlu dilakukan seorang manusia adalah menjemput takdir itu dengan seni terindah”. Aku sangat berterimakasih atas pertemuan hari itu, ada semangkuk ilmu yang aku dapatkan darinya.

Hari-hari berikutnya, Haneul menjadi pendengar setiaku. Padahal, aku bukanlah tipe orang yang senang membagi ceritaku dengan orang lain. Bukan karna aku tidak punya kisah yang bisa aku ceritakan, hanya saja aku takut menyakiti orang lain dengan ceritaku. Tapi di hadapan Haneul, dengan lancarnya aku bercerita tentang hal-hal yang aku alami di kehidupanku. Sepertinya aku mulai menjadikan Haneul sebagai orang penting di hidupku. Aku tidak perlu bertingkah “aegyo” ketika sedang berada di hadapannya. Aku juga tidak selalu menunjukan sisi “kuat” yang kerap kali aku tunjukan selama ini. Malah terkadang, aku melontarkan kata-kata keluhan di hadapannya. Percaya atau tidak, sedikitpun aku tidak merasa bosan bercerita padanya. Karena Haneul selalu bisa memberikan input positif padaku. Di hadapan Haneul, aku bisa jadi orang yang cerewet. Dan aku baru menyadari salah satu kelebihan yang dipunya Haneul adalah ia pandai merangkai kata sehingga membuat pendengarnya merasa betah mendengarkannya berbicara. Walau tak bisa dipungkiri, aku sedikit terganggu dengan suaranya yang “a liitle bit childish” tapi dibalik itu semua aku menyukai apa yang disampaikannya.

Semakin hari aku semakin memantapkan dan meyakinkan hatiku bahwa aku membutuhkannya. Aku membutuhkan Jung Haneul di hidupku. Dengan segenap kekuatan yang telah aku kumpulkan, suatu sore aku mengajaknya bertemu. Aku bertekad untuk menyampaikan perasaanku. Setelah aku selesai berbicara, Haneul membuka mulutnya dan mulai berkata “Sungmin-ssi, apa kau benar-benar serius dengan apa yang baru saja kau katakan?”

Akupun mengangguk. Haneul berkata kembali “Kalau begitu, aku ingin kau menemui kedua orangtuaku, meminta izin pada mereka, ini kalau kau benar-benar serius”tegasnya

Aku terkejut. Aku baru saja menyatakan perasaanku dan kini ia memintaku menemui kedua orangtuanya. Aku terdiam sejenak lalu bertanya “Kapan aku bisa menemui kedua orangtuamu?”

“Secepatnya”jawabnya

Benar saja. Selang beberapa hari setelah pertemuan itu, aku dihubungi oleh Haneul. Ia memintaku datang ke rumahnya. Aku merasakan sedikit ketidaksiapan. Tapi, jangan panggil aku Lee Sungmin jika tidak bisa mengendalikan situasi seperti ini. Aku telah mempelajari berbagai cara menaklukan hati calon mertua dari buku yang aku baca beberapa hari yang lalu. Aku hanya berharap cara ini ampuh dan berhasil.

Tibalah aku di rumah kediaman Tuan dan Nyonya Jung. Rumah sederhana yang dikelilingi oleh banyak pepohonan. Aku disambut dengan senyuman ramah. Ada Nyonya Jung yang wajahnya sangat mirip dengan Haneul. Mereka berdua terlihat seperti kakak adik, bukan ibu dan anak. Aku sempat memuji wajah Nyonya Jung yang awet muda dan ditanggapi dengan senyuman olehnya. Ada juga Tuan Jung yang tingginya tak berbeda jauh denganku. Kulihat rambutnya sudah banyak yang memutih, namun itu tidak menutupi kewibawaan dan kesahajaannya. Kami berbincang tentang banyak hal. Nyonya Jung berkata “Sungmin-ssi, tahukah kau, ini pertama kalinya Haneul memperkenalkan seorang namja pada kami loh.” Pernyataan yang baru saja dilontarkan Nyonya Jung sontak membuat wajah Haneul merah merona dan aku sempat meliriknya yang seketika itu langsung menunduk. Akupun tersenyum. Dan sampailah pada sebuah pertanyaan yan tak pernah aku siapkan jawabannya “Sungmin-ssi, kalau boleh aku tahu, kapan kau akan menikahi putri kami?” Tuan Jung bertanya dengan ekspresi serius. Aku bukan hanya kaget, tapi juga tidak tahu harus menjawab apa? Sepertinya Haneul pun tak kalah kagetnya.

“Sungmin-ssi, mianhae, nae nampyeon memang seperti itu. Sekali lagi maaf jika pertanyaan ini membuatmu kaget atau merasa tidak nyaman. Sebagai orang tua, kami hanya ingin putri kami ini bahagia dan menikah dengan orang yang tepat”jelas Nyonya Jung

Aku menarik nafas cukup dalam dan mulai menata kata-kataku “Jwesonghamnida Ahjusi, Ahjuma, untuk saat ini saya memang belum bisa menjanjikan apapun, tapi saya benar-benar serius dengan Haneul”

“Baiklah.. kami pegang kata-katamu Sungmin-ssi”ucap Tuan Jung

*****

Aku dilanda kebingungan. Menikah? apakah aku sudah siap? menikah bukanlah perkara mau atau tidak mau tetapi juga siap atau tidak siap. Berminggu-minggu aku tidak menemui Haneul. Bukannya aku menghindar darinya, tapi karena jadwalku yang tidak bisa diajak kompromi, ditambah lagi persiapan untuk Super Show bersama member SJ yang menyita banyak waktuku, lengkap sudahlah aku sebagai orang sibuk. Tapi, aku tetap berusaha menjaga komunikasi dengannya. Suatu hari, aku menanyakan sebuah pertanyaan pada Haneul.

“Haneul-ssi, jika aku benar-benar melamarmu, apakah kau sudah siap menikah denganku? Apakah kau siap menjadi istri seorang Lee Sungmin? Apa kau sudah memikirkan segala resiko dan konsekuensinya?

Haneul tidak menjawabnya. Ia hanya berkata“Tolong luangkan sedikit waktumu, untuk membuka dan membaca homepageku”

Rasa ragu mulai melandaku. Aku belum pernah tahu apakah Haneul juga merasakan perasaan yang sama denganku? aku memang belum pernah mengatakan “Saranghae” kepadanya dan ia pun begitu. Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanya. Ketika aku memiliki sedikit waktu luang, akupun membuka homepage Haneul dan mulai membaca sebuah tulisan yang di dedikasikan untukku. Dari situlah aku bisa mengetahui perasaannya. Haneul mencurahkannya lewat tulisan. Aku membacanya dengan perasaan meletup-letup. Aku dibuat tersenyum sekaligus terharu. Sekali lagi aku mengakui kelebihannya dalam merangkai kata.

*****

^^Haneul POV^^

Pemuda itu bernama Lee Sungmin. Seorang pemuda yang beberapa bulan ini mengisi hari-hariku. Rasanya aku masih belum percaya bahwa sebentar lagi kami akan menikah. Akhirnya dia memilihku sebagai pendamping hidupnya, oh bukan.. bukan dia yang memilihku. Seperti kata-kata yang pernah disampaikannya. “Bukan aku yang memilihmu, tapi Tuhan yang telah memilihkan dirimu untukku”. Ahh, aku masih ingat kata-katanya itu.

Aku menatap cermin yang ada di hadapanku. Terpantul sosok seorang gadis yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Itu aku. Cukup lama aku memperhatikan bayanganku di cermin sambil mengingat kembali waktu-waktu yang telah terlewati. Kurang lebih setahun yang lalu aku berkenalan dengannya. Dengan pemuda yang aku sebutkan tadi. Semua berjalan sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan oleh oleh Sang Maha Pemilik Kehidupan. Pertemuanku dengannya bukanlah sebuah kebetulan semata. Karna aku percaya, sekecil apapun peristiwa dan kejadian yang dialami seorang makhluk hidup, dibaliknya ada tangan-tangan yang mengaturnya.

Sampai detik ini, aku belum begitu mengenalnya. Aku hanya tahu bahwa pemuda itu bernama Lee Sungmin yang lahir tanggal 1 Januari tahun 1986, bergologan darah A dengan tinggi badan 175 cm. Lucu bukan? aku memutuskan untuk menikah dengan pemuda yang belum sepenuhnya aku kenal. Tapi, apakah harus saling mengenal dan mencintai dulu, barulah sepasang pria dan wanita bisa menikah? Sepertinya itu tidak berlaku untukku. Perrnikahan adalah proses belajar, dalam segala hal. Belajar untuk lebih bersabar, belajar untuk lebih simpati dan empati, belajar untuk saling memahami dan mengerti, belajar mencintai pasangan dengan segala kekurangan serta kelebihannya, dan masih banyak lagi pelajaran-pelajaran hidup yang bisa dipelajari dalam proses pernikahan ini.

Lee Sungmin yang aku tahu, adalah seorang pemuda baik hati yang selalu memperlakukan wanita dengan baik, bukan hanya padaku, tapi pada wanita-wanita yang dikenalnya. Seorang pemuda yang begitu menyayangi kedua orang tuanya, keluarganya, sahabat-sahabatnya. Seorang pemuda yang tidak pernah mau menunjukan sisi lemahnya di hadapan orang lain. Namun ketika bersamaku, Lee Sungmin bisa menunjukan berbagai ekspresi. Seorang pemuda yang sangat kompeten dalam martial arts dan memainkan berbagai musical instument. Seorang pria yang sangat addict terhadap satu warna, sama sepertiku. Maka, kami selalu menyebut diri kami sebagai “Pink Prince & Orange Princess”. Seorang pemuda yang dianugerahi banyak bakat. Aku selalu kagum akan kemampuannya dalam mempelajari sesuatu. Seorang pemuda yang sebenarnya belum bisa dikatakan pemuda karna wajahnya yang baby facelook like a baby” (^o^). Namun dibalik wajahnya yang cute itu, tersimpan inner strengh yang tidak semua orang tahu. He has strong personality. Suatu ketika, ia pernah bilang padaku “Tolong jangan pandang aku sebagai Super Junior Lee Sungmin, tapi pandanglah aku sebagai Lee Sungmin yang akan membersamaimu, menyayangimu, melindungimu sampai akhir waktu”

Ada sebuah kalimat bijak yang selalu aku ingat “Dibalik seorang pria hebat, pasti ada wanita hebat pula yang mendampinginya”. Dan aku, ingin menjadi wanita hebat itu. Wanita yang mendampingi suaminya kelak dalam segala kondisi, baik susah maupun senang. Wanita yang akan menegur suaminya secara baik-baik jika suaminya melakukan kekeliruan dan akan memberikan semangat pada suaminya ketika suaminya sedang berjuang untuk kelangsungan hidup. Untukmu.. seorang pria yang sebentar lagi akan menyentuh mahkota terindahku, terimakasih telah hadir di hidupku, terimakasih telah mempercayaiku untuk menjadi calon ibu bagi anak-anak kita kelak.  “Yeah, I wanna be a great wife and great mom too

******

^^Sungmin POV^^

Jung Haneul.. bukan gadis biasa, setidaknya itu menurutku. Ia bersinar dengan caranya sendiri. Dan aku tidak ingin membuat sinarnya meredup. Seperti motto hidupnya “Shining like a star

Keputusanku untuk menikah membuat kaget banyak pihak. Orangtuaku, keluargaku, para member Super Junior, dan tentu saja Everlasting Friends. Namun, keputusanku sudah bulat. Aku akan menikah dengan Haneul di usiaku yang kata orang-orang masih tergolong muda. Bahkan Leetuk Hyung berkali-kali bilang padaku bahwa ia salut dan bangga dengan pilihanku.

Aku dan Haneul sudah memikirkan resiko dan konsekuensi yang akan kami terima atas pernikahan ini. Sudah bisa ditebak, ELF mulai melancarkan aksinya. Banyak yang mulai meneror dan mencerca Haneul, tapi tidak sedikit juga yang memberikan dukungan padanya, pada pernikahan kami. Tapi aku yakin, Haneul bisa menghadapinya dengan kuat. Para fansku banyak yang memutuskan untuk berhenti jadi ELF dan menyatakan kekecewaan mereka. Aku mencoba menghadapinya dengan tenang dan tak banyak bicara, seperti yang selama ini selalu aku tunjukkan ketika Super Junior sedang dilanda masalah apapun. Aku percaya, seorang fans yang baik adalah orang yang akan tetap mendukung idolanya walau apapun yang terjadi.

Jung Haneul.. tidak perlu wajah cantik untuk membuat orang lain mengenal dan menyayanginya. Karena terkadang, wajah cantik bisa saja menipu. Haneulku hanya gadis biasa yang memiliki pandangan mata yang teduh, wajah ceria, suara childish namun memiliki inner beauty yang begitu terpancar.

Haneul memang bukan tipe idealku. Tapi, cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna. Dan “Gadis Jingga” itu kini berada di sampingku dengan senyum dan wajah cerianya. Bersiap untuk sama-sama mengucapkan janji suci pernikahan.

“Haneul-ga”sapaku lembut

Ne, Oppa”jawabnya

Saranghae”ucapku.

Ini pertama kalinya aku mengucapkan kata itu. Haneul mendekatkan tubuhnya padaku dan memelukku. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Kukecup keningnya dan kami pun tersenyum dalam suasana haru dan bahagia.

 

====== FIN======

3 responses

  1. Sekar Kinanti

    Mengharukan :”)
    Aah aku harus berkata apa lagi ya? Pokoknya yah aku suka alurnya yg pas dan tidak terlalu cepat, perwatakan dan penokohan yg digambarkan secara sempurna. (meskipun aku tidak yakin arti dari penokohan dan perwatakan itu apa, yg aku tau ya begitulah)
    HIDUP MINEUL!!! GO GO GO!!! u,u ayooo baby-nya mineul ditunggu ya *selalu -_-*😉 oh iya, kalo orangtuanya A dua-duanya, anaknya A juga atau bisa beda? .-.

    December 19, 2011 at 1:04 PM

  2. salsa a.k.a jisungELF

    selalu kehilangan kata2 buat komen. Daebak!! Onn emang pinter menguntai kata🙂

    but there’s somthg make me lil sad
    “Aku percaya, seorang fans yang baik
    adalah orang yang akan tetap mendukung idolanya
    walau apapun yang terjadi”.
    Bisa gak aku seperti itu?? aku agak takut kalo aku bukan seorang ELF yg baik. Aku berusaha melakukan yang terbaik, tapi aku g yakin yang kulakukan adalh yg terbaik😥 Nangis beneran T_T

    DAEBAK!! Gomawo udah bkin nangis #plakk hehehe😀

    December 21, 2011 at 7:36 PM

    • aiiiih *blushing* makasiih sayaang… *chuuu*
      cuuuup…cuuuup… *nyodorin tissue sekardus* kita pasti punya cari masing-masing untuk menunjukan dukungan dan cinta kita untuk oppadeul bukan? selama itu tidak merugikan diri kita sendiri + Oppadeul😉

      makaaasiih juga sudah baca..😀

      December 25, 2011 at 6:35 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s