MinNeul's Home

The Meaning Of Trust


The Meaning Of Trust

#20HariNulisDuet Day 4

Author : @ittibanwife &  @martadina_nana

Ada yang mengatakan kalau kepercayaan itu sangatlah mahal dan tak terkira harganya, dan inilah sebuah kisah tentang kepercayaanku dan suamiku.

*****

Masih terekam dengan jelas dalam ingatan ketika hari itu aku harus melepasnya pergi. Bukan pergi meninggalkanku tapi pergi untuk menggapai masa depan yang telah kami rangkai bersama.  Saat itu dia menyerahkan sebuah amplop putih yang membuatku harus memilih. Memilihnya tetap tinggal bersamaku dan menghancurkan impiannya, atau melepaskannya untuk memenuhi impiannya yang berpengaruh besar pada masa depan kami.  Pergolakan batin terjadi padaku. Ini bukanlah pilihan yang mudah. Keduanya memiliki resiko tersendiri. Jika aku egois, bisa saja aku memintanya untuk tetap tinggal bersamaku dan merelakan impiannya. Tapi, apakah aku setega itu?

Dengan penuh kebimbangan dan hati yang berat, akhirnya aku memutuskan untuk melepaskannya, karena saat ini kami tidak hanya hidup berdua, ada nyawa seorang manusia yang ada di dalam rahimku.

Pagi ini tak seperti pagi biasanya, si kecil yang ada di rahimku bergerak lebih gesit, membuat ibunya merasa sedikit tak nyaman. Kulihat kalender, tinggal beberapa hari lagi menjelang persalinan dan rasa rinduku padanya semakin memuncak. Aku ingin ia hadir disini, menemaniku selama persalinan berlangsung, tapi sudah beberapa hari ini aku kesulitan menghubunginya. Si kecil terus bergerak aktif dalam rahimku, dan membuatku jadi berpikiran yang tidak-tidak. ‘Apakah sesuatu yang buruk akan terjadi?’

Untuk menenangkan diriku, segera kuambil ponselku dan menghubunginya. Bagai tersambar petir saat pada nada sambung ketiga, suara seorang wanita yang menyapa.    Pikiran buruk mulai menyerang akal sehatku, siapa dia? Siapa wanita itu? Namun aku berusaha untuk bersikap tenang dan menjawab sapaan hallo darinya.

*****

 Hari-hariku di Solo selalu ditemani oleh seorang wanita dengan kulit coklat dan senyum yang manis. Wanita itu bernama putri. Sama seperti namanya, Putri berperilaku seperti putri keraton. Ia santun, jalannya selalu lambat-lambat, dan bicaranya pelan. Aku menyukainya. Jenis wanita yang lain daripada di Jakarta. Satu ciri khas kota Solo adalah orang-orangnya yang selalu membantu tanpa pamrih. Aku bertanya pada Putri. Mengapa penduduk Solo bisa bersikap baik seperti itu? Apakah ada undang-undang yang mengatur mereka? Ataukah adat? Putri tertawa kecil. Baginya, semua itu alami. Dari lahir, mereka sudah seperti itu. Lingkungan dan masyarakat yang mengajarkannya dan membentuk mereka. Ini sudah turun temurun dari dulu.

Sebuah pertanyaan mengejutkan terlontar dari mulut Putri, beberapa bulan setelah aku berada di Solo.   “Maaf sebelumnya pak Roy, kalau saya lancang menanyakan hal ini,” ucap Putri di suatu sore.

“Apakah bapak sudah menikah?”

Aku terdiam sejenak. Saat ini aku memang tidak mengenakan cincin kawinku, aku takut benda berharga itu rusak karena terbentur material bangunan. Sebenarnya saat itu bisa saja aku mengaku bujangan pada wanita manis dan berhati lembut seperti Putri. Tapi, aku memutuskan, aku pergi ke Solo untuk mengejar impianku, bukan membuat masalah. Dengan mantap aku berkata, “Saya sudah menikah. Istri saya sedang hamil.”

Saat itu mata Putri seperti terkejut dengan perkataanku, tapi cepat wanita itu tersenyum senang.
“Oh ya? Bapak pasti bahagia sekali akan punya momongan,” katanya, terdengar sedikit kegetiran di suaranya. Tapi, aku tidak mau menghiraukannya. Aku lalu tersenyum, “Tentu saja saya bahagia.”

*****

“Ini nomer ponselnya Mas Roy bukan?” tanyaku pada wanita yang baru saja berkata hallo dengan menggunakan ponsel suamiku.

“Iya, ini saya Putri, asistennya Pak Roy. Saat ini beliau sedang ada dilapangan, sementara ponselnya tertinggal di ruangan.”

Aku terdiam. Benarkah wanita ini asisten suamiku? Lalu mengapa belakangan ini aku kesulitan mengubunginya? Apa ia begitu sibuk dengan pekerjaannya? Berbagai macam pertanyaan berkumpul di otakku.

Suara wanita itu kembali terdengar menyapaku, “Hallo, apa ibu masih disana?”                                                 “Ahhh yaa, kalau begitu nanti saja aku menghubunginya lagi,”jawabku seraya memutuskan sambungan telepon.

*****

“Pak Roy, tadi saat bapak sedang di lapangan, ada seorang wanita yang menghubungi ponsel bapak, tapi wanita itu sama sekali tidak memberitahu namanya.”

Aku lalu mengambil ponselku dan melihat nama istriku yang sangat kucintai ada di daftar panggilan masuk.

“Maaf, pak. Saya tidak bermaksud lancang menjawab panggilan di ponsel bapak. Tadi saya kira itu telepon penting dari kantor pusat di Jakarta,” ujar Putri dengan wajah menyesal.

“Tidak apa-apa, saya tahu maksud kamu baik,” jawabku. Aku berharap istriku tidak berpikiran jelek tentang Putri.

*****

“Suamimu sulit dihubungi?” tanya Naya sahabatku, aku mengangguk lemah. “Dan asistennya itu seorang wanita?” tanya Naya lagi dan aku kembali mengangguk.

“Aduh… Hati-hati loh, jangan-jangan suamimu ada ‘sesuatu’ sama asistennya itu.”
Perkataan Naya tadi membuatku semakin bimbang.

*****

Seperti inikah yang dirasakan para ibu ketika bayi di rahim mereka sudah waktunya terlahir ke dunia? Perutku sakit. Lebih sakit daripada nyeri datang bulan. Yang bisa kulakukan saat ini hanya berdoa dan mengatur nafasku agar aku dan sang bayi bisa selamat. Entah darimana datangnya, ada seseorang yang mengenggam tanganku erat. Kulihat ia, suamiku ada disampingku. Apakah aku berhalusinasi? Namun mengapa halusinasi ini begitu nyata? Terlebih ketika ia mengecup keningku dan membisikan kata-kata penyemangat padaku. “Berjuanglah, demi aku, kamu dan anak kita.”

Setelah melalui menit demi menit yang penuh perjuangan, akhirnya aku bisa menatap bayi mungilku. Ia menangis dan tangisan itu membuatku mengucap syukur. Aku berhasil melalui satu moment yang begitu menegangkan sekaligus membahagiakan. Kutatap lelaki yang sejak tadi tak pernah sekalipun beranjak dari sisiku. Kini kami telah menjadi ayah dan ibu. Perasaan bahagia seperti ini rasa-rasanya tidak ingin aku rusak dengan prasangka yang mampir di pikiranku. Hal itu semakin dikuatkan dengan perkataannya, “Aku ingin tua bersamamu menatap anak-anak yang meneruskan jejak kita tanpa perlu kau khawatir hatiku pergi meninggalkanmu.”

 

 ===================

14 responses

  1. Kang Hyemin

    Nice..

    February 13, 2012 at 1:09 PM

  2. Kyaaaa~~ ini aku sambil mbayangin Umin Dan Haneul unnie.. Knapa jadi ngakak ya?? **membayangkan umin pulang konser liat anaknya mau lahiran** unyuu :3

    Chukaaee buat umin dan haneul unnie ^^ (??)

    February 13, 2012 at 1:18 PM

    • jiaahaahaha… berarti dirimu sudah terdoktrin (?) sama storynya Mineul.. #aseeeek xDD
      AAAAAAA, yang ada itu bayi enggak mau keluar dari rahim ibunya karna takut kalah saing (?) sama keimutan Sungmin…
      terimakasih sudah baca😀😀 ayoooo, mana tulisanmu hari ini? *nagih*

      February 13, 2012 at 1:26 PM

      • Iya ini gak tahu aku kena doktinn.. Ahh mana dokter-mana dokter..
        aku mau cuci otakk biar gak terpengaruh cerita umineul egen ~~ **terbang

        February 13, 2012 at 1:51 PM

      • enggak bisa.. sekali terdoktrin, maka selamanya akan begitu… hidup(?) doktrin xDD

        February 14, 2012 at 5:39 PM

      • Mamamama… mamammaa.. tolonglah aku yang kena Doktrin (?) kurasakan virus2 doktrin.. kubutuh dokter gigi (?) *semakin ngawurrr..

        February 14, 2012 at 7:19 PM

  3. manis ceritanya….🙂

    February 13, 2012 at 7:28 PM

  4. rizkha_vilnae elfinspirit

    hyaaaa, aku bayanginnya malah tokohnya aku ama si kyuhyun .
    kekekekk ..
    part paling menyentuh. waktu udah mau ngelahirin trus tiba2 ada suaminya ..
    sumpah deh, (?)
    nice onni ..

    February 15, 2012 at 5:42 PM

    • hahahahaha.. silahkan-silahkan.. khan masing-masing orang bebas berimajinasi..😉
      iyaaa yaah.. itu tuh sweeeeet sekaliii…
      makasiih yaa sudah baca.. ^-^

      February 22, 2012 at 12:41 PM

  5. Pingback: Daftar Tulisan #20HariNulisDuet « orangepumpkingirl

  6. selfania

    cieeee cieeeeee…. fiuwitt….

    March 14, 2012 at 1:33 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s