MinNeul's Home

Januari Yang Lalu


#20HariNulisDuet Day 5

Author : @ittibanwife & @myondubu

Januari Yang Lalu

Januari yang lalu, aku masih melihatnya dengan mantel cokelat favoritnya, berjalan diantara timbunan salju yang menutupi sebagian besar jalanan sepanjang Apgujeong Road.  Aku melihatnya berjalan menunduk tanpa memperhatikan keadaan sekitar.

“Apa yang terjadi padanya?” gumamku dalam hati.

Setelah lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, aku segera menyebrang dan menghampirinya yang sedang berjalan dalam kesendiriannya itu. Karena aku tak ingin mengusiknya, maka kuputuskan untuk berjalan mengendap-endap di belakangnya layaknya seorang detektif. Ahh, aku ingin mengagetkannya. Tapi tampaknya dia sedang sedih, sebaiknya aku urungkan saja niatku.

“Haneul-ah, gwaenchanayo?” sapaku sambil menyentuh pundaknya.

Gadis yang kupanggil Haneul itu pun menoleh padaku, “Mi la-ya,” ekspresi terkejut muncul diwajahnya.

“Ada apa denganmu?” tanyaku.

Senyum tipis tergambar di wajah Haneul. Bukan senyum itu yang ingin kulihat darinya. Senyum ceria yang biasa Haneul tunjukkan entah kenapa tak bisa kulihat dari sosoknya sekarang ini.

“Aku, sedang tidak enak badan,” jawabnya singkat.

“Haneul-ah, kau tidak bohong kan?” tanyaku.

Haneul menggeleng, “Aniyo, akhir-akhir ini aku memang sering merasa lelah, ditambah aktifitasku yang padat sehingga waktu istirahatku semakin berkurang, jadilah daya imunku menurun.”

“Yya.. Haneul, kau tidak bisa bohong padaku. Kita sudah saling kenal sejak kecil,” bantahku. “Ayolah, jika ada masalah, bicarakan saja padaku. Mungkin aku bisa membantumu,” lanjutku.

Haneul menatapku, “Mi la-ya, bisakah kita membicarakan ini sambil makan jjangmyun, ramyeon, atau tteokbeoki, sepertinya perutku mulai protes minta segera diisi.”

Arasseoyo, kajja!” jawabku sambil menarik tangannya. Kami segera menuju kedai tteokbokki langganan kami yang berada di kawasan apgujeong. Sesampainya disana, kami disambut oleh senyuman hangat Jang Ahjumma yang sudah sangat hafal dengan menu yang biasa kami pesan. Sambil menunggu pesanan datang, kami berjalan menuju tempat duduk favorit yang letaknya berdekatan dengan jendela. Tidak banyak pengunjung yang datang untuk menikmati tteokbokki di kedai ini, mungkin mereka lebih memilih berdiam diri di rumah dengan cuaca sedingin ini.

Tidak perlu menunggu lama, menu pesanan kami sudah tersaji. Di udara sedingin ini, makan adalah salah satu cara menghangatkan badan.

Kulihat Haneul, ia pun sama asiknya denganku, menikmati menu makanan di kedai ini. Kami makan dalam diam. Entahlah, aku rasa Haneul memang tak banyak bicara belakangan ini. Hingga suapan terakhirku, Haneul masih saja diam. Sepertinya memang aku yang harus memulai percakapan ini.

“Haneul-ah,” panggilku.

“Ne,” gumamnya sambil menyantap makanannya.

“Kau ada masalah apa? Ayo bicarakan padaku. Aku tahu kau sedang ada masalah.”

Haneul meneguk secangkir teh hangat sebelum ia menjawab pertanyaanku. “Mi la-ya, kalau aku pergi nanti, apa kau akan merasa kehilangan?”

“Apa yang kau bicarakan, Haneul-ah? Tentu saja aku akan merasa seperti itu. Kita sudah bersahabat sejak dulu. Kau sudah sangat memahamiku, begitupun aku.”

Aku merasakan ada sesuatu yang tidak aku inginkan. Entahlah, aku tidak tahu apa itu. Yang pasti aku merasa sedih setelah mendengar pernyataan Haneul.  Kulihat mata Haneul berkaca-kaca, tentu itu bukan karena pedasnya tteokbeokki yang baru saja kami santap, tapi aku rasa ada hal lain yang membuatnya tak nyaman.

“Aku,” ucapnya pelan namun aku masih bisa mendengarnya. “Harus pergi.”

“Haneul-ah, jebal.  Marhaebwa!!

“Sebetulnya aku tidak ingin mengatakan ini. Aku benci perpisahan. Selamat tinggal adalah kata-kata yang paling aku hindari. Tapi kini, aku harus mengucapkannya pada sahabatku sendiri. Bulan depan, keluargaku akan pindah rumah. Bukan lagi di Korea, tapi Eropa.

“Mwo?” aku langsung menatap kaget padanya, “Pergi ke mana?” lanjutku.

Uri Appa ingin mengembangkan usahanya ke benua Eropa dan Appa meminta kami untuk ikut pindah bersamanya. Appa juga bilang akan memindahkanku ke Universitas favorit di Inggris. Appa bilang ini semua demi masa depan dan impianku. Aku, tak pernah kuasa menolak keinginanya.”

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Ya, aku sedih. Aku sangat susah untuk bersahabat dengan orang lain. Teman pun aku tidak terlalu banyak. Dan sekarang aku mendengar kenyataan kalau sahabatku akan pergi meninggalkanku.

“Bisakah kau tetap tinggal disini?”

Kulihat Haneul menggigit bibir bawahnya, satu butir airmata jatuh di pipinya. “Ini pilihan yang tidak mudah buatku,” Haneul menyeka air mata dengan punggung tangannya.

Melihtnya menangis, aku juga merasakan bagaimana susahnya menentukan pilihan tersebut. Air mataku pun mulai menetes.

“Banyak yang aku tinggalkan disini, tapi ini kulakukan demi meraih cita-citaku, apa kau bisa menerima dan memahami keputusanku?”

Aku hanya diam sambil menundukkan wajahku. Aku benar-benar bingung harus menjawab apa? Jika aku egois, aku ingin sekali melarangnya pergi. Karena selain Haneul, tidak ada orang lain yang bisa aku datangi ketika aku ingin mencurahkan perasaanku.

“Aku pernah mendengar kalimat ini, ‘Sesuatu yang kau genggam dengan erat, ada saatnya kau harus melepasnya, itulah kehidupan’ apa kau pernah mendengar kalimat itu?”

Aku hanya bisa menganggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya. Haneul menggenggam jemariku, “Mi la-ya Nan, jeongmal mianhaeyo.”

*****

Januari ini, tanpa terasa sudah satu tahun aku melepasnya. Sosok sahabat yang aku sayangi. Tidak ada lagi yang menjadi tempatku menyandarkan kepala ketika lelah, tidak ada lagi yang meminjamkan bahunya ketika aku menangis. Namun aku percaya, dimanapun ia berada, selama kami masih memandang langit yang sama, itu tandanya kami dekat.

Word Count : 788

7 responses

  1. mybabyLiOnew

    “Haneul-ah, jebal. Marhaebwa!! Mwo? Pergi ke mana?”

    itu harusnya dipisah.. *eh gitu kan aku nulis di YM pagi td*

    ____

    “Haneul-ah, jebal. Marhaebwa!!”

    “Sebetulnya aku tidak ingin mengatakan ini. Aku benci perpisahan. Selamat tinggal adalah kata-kata yang paling aku hindari. Tapi kini, aku harus mengucapkannya pada sahabatku sendiri. Bulan depan, keluargaku akan pindah rumah. Bukan lagi di Korea, tapi Eropa.”

    “Mwo?” aku langsung menatap kaget padanya, “Pergi ke mana?” lanjutku.

    “Uri Appa ingin mengembangkan usahanya ke benua Eropa dan Appa meminta kami untuk ikut pindah bersamanya. Appa juga bilang akan memindahkanku ke Universitas favorit di Inggris. Appa bilang ini semua demi masa depan dan impianku. Aku, tak pernah kuasa menolak keinginanya.”

    ____

    gitu kan ya urutannya *mikir* *buka YM*

    eh tp terserah eon juga sih.. hahahahaahahhahahaa

    February 14, 2012 at 5:57 PM

  2. mybabyLiOnew

    bc ini berulang ulang.. jd pngen deh ad sequelnya… ato dr pov haneul /plaakkkk *digiling2 kak dina*

    February 15, 2012 at 7:55 AM

  3. aau

    Keren.. SaLam kenaL yoo.. Aku temen.a istri Jinki. Ech, btw.. Jgn biLang” sama mimi yoo kLo aq d paksa mimi suruh baca ini.
    ╔╗╔╦══╦╗╔╦══╦╗╔╦══╗ 
    ║╚╝‎​║╔╗║╚╝‎​║╔╗║╚╝‎​║╔╗║ \=))_
    ║╔╗║╔╗║╔╗║╔╗║╔╗║╔╗║ (( 
    ╚╝‎​╚╩╝‎​╚╩╝‎​╚╩╝‎​╚╩╝‎​╚╩╝‎​╚╝‎​ <,'\
    Tp beneran bagus kock isi.a N aq jg tar komen d bLog dia d crita yg sama. Нεнε¨☺¨нεнε¨☺¨нεнε .. Dadaaaah😉

    February 15, 2012 at 2:04 PM

    • Salam kenal juga ^-^ I’m Lee Sungmin’s edelweis princess *shake hands*😀
      jiahahahaha… okeh, siyaaap.. aku ga akan bilang2😉
      terimakasih sudah baca..🙂

      February 15, 2012 at 4:24 PM

  4. Pingback: Daftar Tulisan #20HariNulisDuet « orangepumpkingirl

  5. Ms. B

    Halooo^^ Saya sedang blogwalking dan menemukan tulisan ini…^^

    WOW, tulisan kalian rapi dan bagus sekali. ^^ pesan ceritanya juga tersampaikan dengan baik. Hanya saja… well, saya boleh keritik kan? *toleh kanan-kiri*

    – Sepertinya revisi teman Kakak di atas belum di penuhi, padahal menurut saya bagian itu sangat penting, karena tepat saat si Haneul menyampaikan kepergiannya. Saya liat tanggalnya juga…err, febuari, waktunya cukup lama juga ya buat ngerevisi. Kenapa tidak dilakukan?

    – Ada sedikit typo, tapi okelah, gak begitu siknifikan juga.

    – The last, saran untuk kalimat ini : “Kami makan dengan saling diam.” Saling diam? Agak gak masuk akal kalau buat saya, sebaiknya diganti: Kami makan dalam diam. Yah, itu aja sih..^^ Sekian.

    Yah, Sekian dan terima kasih.^^

    July 22, 2012 at 11:03 AM

    • Hallo^^

      terima kasih sudah mengkoreksi tulisan saya. Sudah saya edit tulisannya ^-^

      August 25, 2012 at 2:56 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s