MinNeul's Home

Sepenggal Kata Dari Sahabat


Sepenggal Kata Dari Sahabat

#20HariNulisDuet Day 12

Author : @ittibanwife & @ditakw_

Mataku tertuju pada sosok perempuan yang berdiri di seberang jalan minimarket tempat dimana aku berada sekarang. Apa itu dia?

Perempuan itu menyeberang hingga sampai di depan minimarket. Iya, itu dia, seseorang yang aku kenal. Ia membawa sebuah kotak plastik cukup besar yang di dalamnya masih terdapat beberapa buah kue.

Aku berpikir apakah aku harus menyapanya atau tidak saat dia mulai berjalan menyusuri trotoar jalan. Meski aku masih ragu, tapi kakiku bergerak menyusulnya, meninggalkan semua barang yang tadinya akan kubeli dari minimarket. Aku tidak tahu kemana, tapi aku terus mengikutinya. Kami tak berjalan terlalu jauh hingga sampai ke sebuah rumah kecil, bahkan lebih kecil daripada garasi rumahku.

Dia masuk ke rumah itu sementara aku masih terpaku melihatnya sekitar sepuluh meter dari jaraknya berdiri. Aku butuh waktu setidaknya lima menit sampai akhirnya aku mengetuk pintu.
Terdengar suara pintu dibuka dan munculah ia yang terlihat sangat terkejut saat mengetahui bahwa akulah yang mengetuk pintu.

“Ternyata benar kau,” ucapku diiringi hela napas lega dan sebuah senyuman.

Dia tak mampu berkata untuk beberapa saat, hingga akhirnya dia bertanya, “Bagaimana kau bisa ada di sini?”

“Aku melihatmu dan berpikir bahwa aku harus menyapamu,” aku tak menyadari bahwa saat ini mataku menyusuri tubuhnya dari atas hingga bawah. Dia sangat berbeda dengan yang kukenal dulu.

Dia tersenyum, “Silahkan duduk,”  menunjuk sebuah dipan bambu yang terletak di teras rumah itu.

“Ah, sebentar!” ucapnya lagi sebelum ia kembali dengan membawa sehelai baju yang kemudian dibentangkannya di atas dipan itu. Sehelai baju yang dibawanya adalah seragam SMA kami dulu. Dia membentangkannya untuk memberiku tempat yang bersih untuk duduk karena dipan itu cukup kotor.

“Kenapa kau menghilang?” tanyaku setelah beberapa saat kami duduk berdampingan dalam diam.

Dia menghela napas, “Aku malu padamu. Kau tahu kan seperti apa hidup kita dulu? Selalu bersenang-senang, mendapatkan semua yang kita inginkan, kita bahkan tak pernah berpikir bahwa orang miskin itu ada.”

Kenanganku berjalan seiring dengan kata-katanya. Kami dulu adalah dua sahabat yang selalu bersama sejak SMP. Hidup kami bisa dibilang jauh di atas cukup sehingga kami bisa menikmati masa-masa itu jauh lebih daripada siapapun.

“Mungkin aku terlalu kekanak-kanakkan,” lanjutnya, “Aku terbiasa mendapatkan semuanya, sehingga aku tidak pernah mau mengerti dengan sekitarku. Saat kita lulus SMP, ayahku memberitahuku bahwa keadaan bisnisnya sedang buruk dan memintaku untuk sekolah di sekolah negeri. Tapi kau tahu kan bagaimana tidak terpisahkannya kita dulu? Aku tetap meminta untuk sekolah di sekolah yang sama denganmu, sekolah swasta yang mahal. Bukan hanya karena aku tidak ingin berpisah denganmu, tapi juga karena aku tidak mau menerima kenyataan bahwa hidup kami tidak akan bisa semewah dulu. Egoisnya aku yang tidak mau tahu bagaimana susahnya kedua orangtuaku berjuang agar aku tetap bisa bersekolah disana. Aku selalu saja menuntut agar segala kebutuhan dan keinginanku bisa terpenuhi, hingga suatu hari Papa sakit dan kami sudah kehabisan biaya untuk mengobati penyakitnya. Mama berusaha mencari pinjaman kebanyak orang, mengubur dalam dalam rasa gengsinya demi mendapatkan pinjaman dana untuk kesembuhan Papa. Tapi, dari banyak orang itu, hanya sedikit sekali yang peduli. Semakin hari, kondisi Papa makin memburuk dan hari yang sangat tidak aku sukai itu tiba. Papa pergi meninggalkan kami.”

Kulihat butiran-butiran bening mengalir di kedua pipinya. Kuraih ia kedalam pelukanku dan ia pun terisak. Hatiku perih melihatnya seperti ini. Aku tak bisa menahan lagi genangan air mata yang sudah ingin kutumpahkan sedari tadi. Kami menangis, bersama. Mungkin, ini adalah pertama kalinya kami berpelukan dan menangis dalam keharuan. Setelah agak tenang, ia mulai melanjutkan ceritanya, “Kepergian Papa, berdampak besar bagi kehidupan aku dan Mama. Aku sudah tak bisa seperti dulu lagi. Aku harus berubah. Kondisilah yang memaksaku untuk berubah dan bersikap dewasa. Kini, hanya tinggal aku dan Mama.”

Ia memandangku dengan tatapan yang sayu dan menelusuriku dari kepala hingga kaki, “Sepertinya kau masih sama seperti dulu.”

Aku terdiam, mencoba mencerna maksud perkataannya. Ia pun bertanya padaku, “Apa gaya hidupmu masih seperti dulu?”

Dan ia pun menceritakan hal-hal yang sering kami lakukan bersama. Aku hanya bisa tertunduk, entah kenapa aku malu. Ia menepuk lembut pundakku, “Sebenarnya menjadi dewasa atau tidak adalah sebuah pilihan, tapi bagiku, tidak ada pilihan itu. Aku memang harus jadi dewasa. Dan untukmu, dewasalah sebelum keadaan memaksamu untuk dewasa, karena itu akan lebih berat rasanya.”

Degh~ kalimat itu. Kalimat yang sederhana namun bermakna besar bagiku. Kalimat itu seperti tamparan bagiku dan itu adalah kalimat terindah yang pernah kudengar dari sahabatku ini.

===========

 Word Count : 715

One response

  1. Pingback: Daftar Tulisan #20HariNulisDuet « orangepumpkingirl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s