MinNeul's Home

Perfection


#20HariNulisDuet Day 16

Author : @ittibanwife & @ShelaHarjono

Sempurna itu saat matahari terbit di ufuk timur untuk mengawali hari

Sempurna itu kala rembulan berpendar keperakan menghiasi angkasa

Sempurna itu muncul di saat semua hal berjalan dengan seharusnya

Sempurna adalah keberadaanmu disini, menjadi sandaranku

Rasa dingin menyergapku. Aku sampai harus menggosok-gosok kedua lenganku yang hanya dibalut kemeja lengan pendek. Tapi sesungguhnya, rasa dingin itu tak hanya datang dari udara malam ini. Aku menggigit bibir, merasakan rasa dingin bermuara dan menyelimuti jantungku. Aku merasakan sesuatu yang hangat meremas bahuku. Kuangkat wajahku. Aku melihatnya menatap lurus ke depan, tidak memandangku.

Hening sesaat.

Aku menunggunya berbicara, tapi tampaknya ia tetap terdiam. Begitupun denganku. Mungkin dalam diam, sebenarnya kami sedang berkomunikasi. Dalam bahasa yang hanya bisa dirasakan oleh hati.

Pandanganku kembali tertuju ke sebuah ruangan dimana beberapa hari yang lalu ruangan itu masih terisi oleh dua korban kecelakaan yang sedang berjuang untuk hidup. Melawan sang malaikat maut. Namun sekuat apapun mereka berusaha, malaikat pencabut nyawa itu tetap harus menjalankan tugasnya. Ruangan itu dipenuhi isak tangis. Aku merasakan sesak pada dadaku, mataku memanas dan untuk kesekian kalinya, bulir bulir bening meluncur mulus di kedua pipiku yg tirus dan pucat. Tubuhku menegang saat kilatan memori itu menyambar indera penglihatanku. Aku kembali menggigil. Tubuhku gemetaran. Seolah menyadari kegundahanku, ia mengangkat tangannya dari pundakku.
Saat ia melakukan itu, aku terkejut dengan rasa kesepian yang tiba-tiba kurasakan. Aku ingin ia meletakkan tangannya lagi di pundakku agar rasa dingin ini terusir pergi. Sebagai gantinya, ia
menyematkan jaket merah muda yang sejak tadi dipegangnya. Aku meraih tangannya yang bebas dan menautkan jemariku diantara jemarinya. Kugenggam tangannya, erat.

“Terimakasih,” ucapku lirih. “Kau, tidak akan meninggalkanku bukan? Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”

Bisa kubayangkan bagaimana menyedihkannya kondisiku saat ini. Ia menepuk-nepuk pundakku, “Menjadi kuatlah! Tidak ada pemilik mutlak dari apapun di bumi ini. Dan, tidak ada kesedihan ataupun kebahagiaan abadi selama kita masih menjadi penduduk bumi”.

“Orang tuaku adalah sumber kekuatanku,” aku mendengar suaraku tertahan.

Hanya menunggu waktu untukku menangis lagi. Ia duduk di sampingku. Sambil menyelipkan helaian rambut panjangnya yang bebas, ia tersenyum hangat.

“Tapi kau adalah sumber kekuatan bagi orang lain juga. Aku, misalnya? Aku memang hanya sahabatmu, sama sekali tak ada hubungan darah denganmu, tapi aku tahu aku membutuhkanmu.”
“Bagaimana aku bisa memberikan kekuatan pada orang lain sementara diriku sendiri begitu rapuh. Sumber kekuatanku telah pergi. Dengan cara apa aku melanjutkan hidupku? Untuk siapa lagi aku hidup? Sempurnalah kesedihanku.”

“Hiduplah untuk dirimu sendiri. Hiduplah untuk orang-orang yang menyayangimu. Tidak harus menjadi sempurna, tapi berusalah menjadi sebaik yang kau bisa. Ingatlah, selalu ada aku, untukmu.”

Aku memandang wajahnya yang dihiasi senyuman. Ia mungkin tak lebih pintar dariku, tak lebih kaya, bahkan mungkin tak lebih cantik dariku, tapi aku tahu ia punya satu hal yang kubutuhkan. Aku membutuhkan orang sepertinya, sahabat dengan penawaran tempat berbagi yang menyenangkan.

“Mungkin hidupmu terasa cacat, tak sempurna tanpa kedua orang tuamu,” ujarnya sambil menggenggam erat tanganku.  “Kesempurnaan memang tercipta dengan segala hal yang berjalan dengan seharusnya. Dan kau bisa tetap merasakan kesempurnaan itu dengan tetap hidup, berjuang seperti seharusnya.”

Tatapan hangat dan wajah yang penuh dengan senyuman itu telah memberiku kekuatan. Dan kini aku tahu, menjadi sempurna bukanlah memiliki segala yang kita mau, atau semua yang kita inginkan. Karena kesempurnaan bisa tercipta dari hal-hal kecil yang menjadi berarti. Sederhana, tapi bermakna.

Word Count : 536

6 responses

  1. asitawikandi

    bagus, ngingetin aku sm sahabatku yg udah lama ga ketemu😥 hiks
    tp kok bhsanya kayanya bukan dina unnie banget ya. itu pendapatku aja sih unnie ^^

    February 25, 2012 at 11:29 PM

    • karena ini tulisan duet, jadi yang nulis bukan hanya aku seorang aja, hehe.. kerasa bedanya yaah?

      February 26, 2012 at 4:14 PM

      • asitawikandi

        iya kerasa agak beda. tp tetep bagus kok ^^

        February 28, 2012 at 7:42 AM

  2. nandz

    Sempurnaaaaaaaaaaaa (º̩̩́Дº̩̩̀)

    February 26, 2012 at 5:23 AM

  3. Pingback: Daftar Tulisan #20HariNulisDuet « orangepumpkingirl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s