MinNeul's Home

Regrets


#20HariNulisDuet Day 17

Author : @ittibanwife & @SyifanaNurul

 

Sudah cukup jauh aku melangkah, melewati lorong-lorong usia yang terus melaju. Mungkin perjalanan ini membuat aku lelah. Dan memang sudah pasti melelahkan. Sebab, meski di sepanjang jalan ini aku melewati banyak keindahan yang menyegarkan, tapi juga tidak sedikit rintangan yang menghambat, mengusik jalur lurus yang aku kehendaki.

Naik dan turun, seperti itulah kehidupan. Layaknya roda yang berputar, kadang kita berada di atas, dan pada saatnya kita akan merasakan, bagaimana rasanya saat kita sedang berada dibawah roda kehidupan. Pada saat itulah, aku mulai merasakan bagaimana rasa pahitnya hidup saat kita sedang berada dibawah. Tak jarang, aku pun melampiaskan kekecewaan, kekesalan dan semua rasa yang ada didalam lubuk hatiku. Menginginkan agar perasaan itu secepatnya keluar dari hatiku. Tapi, sekeras apapun aku mencoba, kenangan itu selalu melintas dalam pikiranku. Sebuah kenangan pahit, yang aku rasakan beberapa tahun lalu.

Bahwa hidup selalu penuh resiko, itulah konsekuesinya. Aku menjadi tak berdaya disaat ingatan akan kenangan itu kembali hadir di pikiranku. Jiwa, hati, dan diri tidak sepenuhnya bisa kukendalikan. Di dalam hati ada sedih, ada gelisah, ada api yang membakar. Sejenak aku berhenti untuk melihat kembali perjalanan ini, menatap lekat-lekat wajahku pada cermin. Sebenarnya, apa yang aku cari? Apa yang aku inginkan?

Hidup itu sudah ditakdirkan, dan Tuhan sudah merencanakan semua untukku, untuk hamba-Nya. Ya, itu benar. Tapi lihatlah diriku, apakah ini rencana Tuhan? Membuat keadaanku terpuruk, mengambil semua yang aku punya, orang yang aku cintai. Apakah Tuhan masih menyayangiku? Lalu mengapa DIA tega melakukan ini semua terhadapku. Apa salahku?!!

Ketika itu, aku mulai menguasai emosi didalam hatiku. Membiarkannya mereda secara perlahan. Kutatapi bayanganku pada cermin sekali lagi. Bayanganku seolah tertawa, tertawa karena aku berhasil membuat kacau diriku sendiri. Kenangan itu terlintas lagi. Saat itu, aku sudah lulus dari perguruan tinggi, kedua orang tuaku menyarankanku agar aku mencari pekerjaan secepatnya, karena mereka sudah mulai menginjak usia lanjut. Tubuh mereka tak sekuat dulu. Aku, yang hanya anak tunggal, menuruti keinginan mereka. Hari itu, aku berjalan menelusuri jalan kota. Masuk dan keluar dari satu gedung ke gedung lain. Tapi, hasilnya nihil. Hari itu aku tak mendapatkannya. Aku pun mulai merasa putus asa, hingga sebuah dering telepon membuyarkan lamunanku. Dari temanku, ia mengajakku untuk minum di sebuah bar terkenal dikotaku, dan aku pun menyetujuinya. Kulangkahkan kakiku untuk berjalan menuju bar tersebut, dan disana, aku bersama teman-temanku meminum minuman keras sepuasnya. Hingga pikiranku mulai tidak jelas, aku rasa, aku sudah terlalu banyak minum. Aku pun memutuskan untuk pulang kerumah dalam keadaan mabuk.

Ketika aku memasuki rumahku yang terlihat sederhana ini, aku pun terkejut melihat ibuku masih terjaga. Ibuku menyadari kedatanganku dan tersenyum, lalu menanyakan bagaimana diriku hari ini, apakah aku baik-baik saja dan sudah mendapatkan pekerjaan. Aku pun hanya menggelengkan kepala lemas dan tersenyum. Kemudian, ia pun membantuku untuk memasuki kamar. Aku tahu, ibu menyadari keadaanku yang tengah mabuk ini, tapi ia tetap tersenyum, tak sedikit pun ibu memarahiku. Keesokan harinya, aku mencoba untuk mencari pekerjaan lagi, tapi tetap saja hasilnya nihil. Dan aku pun kembali menemukan diriku sedang berada didalam bar lagi. Kebiasaan ini terus berlanjut, hingga hari-hari berikutnya. Aku selalu pulang dalam keadaan mabuk, ketika ada dirumah pun, aku hanya tidur dan makan. Tak pernah lagi ada pikiran di benakku untuk mencari pekerjaan, karena aku mulai putus asa. Coba pikirkan, aku yang seorang lulusan dari sebuah Universitas terkemuka, tidak bisa mendapatkan pekerjaan satu pun?!

Selama ini, kedua orangtuaku selalu berusaha mencukupi kebutuhanku. Hingga suatu hari, aku mendapati ayahku sedang terbaring lemah dikasurnya, dan ibu yang terus menangis disamping tempat tidur. Aku pun menghampiri mereka dan bertanya, apa yang terjadi. Belum sempat pertanyaanku dijawab, aku melihat ayah terus terbatuk tanpa henti. Ia terus menutupi mulutnya ketika batuknya mereda. Dan saat itu, aku menyadari, ada sebuah cairan merah berada diselipan jemari ayah. Aku pun menghampirinya dan terus bertanya ada apa. Tapi ayah hanya menggeleng dan mengatakan kalau tidak terjadi apa-apa padanya.

Aku keluar dari kamar mereka, setelah ayah berusaha meyakinkanku kalau tidak ada hal apapun yang akan terjadi pada ayah. Aku memutuskan untuk beristirahat dikamarku, karena hari sudah beranjak malam. Keesokan harinya aku terbangun. Hari sudah menjelang siang, tak kusangka aku akan bangun telat. Aku pun menyeret kakiku untuk keluar dari kamar. Dan betapa terkejutnya diriku, mendapati ada banyak orang didalam rumahku. Mereka terus memandangiku, saat itu mataku pun terpaku pada satu tubuh yang terbaring kaku dengan kain kafan yang menutupi tubuhnya. Ayah!! Aku tak menyangka, ayahku akan pergi secepat itu. Aku pun berjalan menghampiri ibuku yang sedang menangis atas kepergian ayah.

*****

Ayah, ibu, wajah kedua malaikatku itu terus menerus membayangiku. Bodohnya aku yang telah menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih surgaku dengan membahagiakan mereka dan berbakti pada keduanya. Dan kini, hanya tinggal aku disini, meratapi kesalahan demi kesalahan yang aku lakukan dulu. Sebuah kalimat dari seseorang terlintas dalam pikiranku, “Kapan terakhir kali kau menangis karena-NYA?”

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku menangis karena-NYA. Yang pasti itu sudah cukup lama. Masih bisakah aku mendapatkan rengkuhan kasih sayang-NYA? Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain IA yang menciptakanku. Tapi aku malu karena pernah menyalahkan-NYA atas semua yang terjadi di hidupku. Aku berprasangka buruk pada-NYA. Aku menyangka IA tak pernah memperhatikanku, menyayangiku. Kudengar suara adzan di mesjid dekat rumahku. Sebelumnya aku tak pernah menyadari bahwa lantunan ayat-ayat suci ini begitu indah didengar, menggetarkan hati. Teringat cerita ibu, ketika aku lahir, suara pertama yang diperdengarkan oleh telingaku adalah suara adzan ayah. Tuhan, aku begitu merindui mereka. Aku juga merindukan-MU. Setetes kristal bening jatuh membasahi pipiku. Kuraih peralatan sholat dan bergegas melangkahkan kakiku menuju rumah-NYA. Aku ingin menangis lagi, menangis karena-NYA.

Ini pertama kalinya sejak terakhir kali aku menginjakkan kakiku dirumah-Nya. Menghadap pada-Nya, menyembah-Nya, dan bersimpuh pada-Nya. Perbuatan yang selama ini aku lakukan, menjadi pelajaran bagiku. Pelajaran untuk terus mengingat-Nya, bersyukur pada-Nya, karena IA telah mengatur kehidupan semua hamba-Nya.

 Word Count : 945

One response

  1. Pingback: Daftar Tulisan #20HariNulisDuet « orangepumpkingirl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s