MinNeul's Home

Cinta yang menyembuhkan


Cinta yang menyembuhkan

Hanna010192 : Homesick TT____TT

Itulah status yang kutulis di akun jejaring sosial milikku beberapa menit yang lalu setelah sebuah  alarm membangun tidurku yang tidak nyenyak. Udara pagi di daerah Apgujeong, Seoul memang sudah mulai hangat, tidak sedingin hari-hari kemarin dimana salju masih menyelimuti hampir seluruh jalanan. Tapi, aku masih enggan beranjak dari tempat tidurku, tubuhku seakan-akan melekat di sprei berwarna oranye dan kuning ini. Kutatap jam kecil yang terletak di meja kecil sebelah tempat tidur, pukul 06.00 AM KST. Hari ini aku ada kelas tepat jam 08.00 AM KST,  sementara belum ada niatan sedikitpun untuk bangun dari kasur empuk ini. Kuraih bantal jeruk milikku, dan kubenamkan wajahku kembali. ‘Let me sleep for a while, I’m still sleepy.’

Perlahan, kedua mataku tertutup, dan aku sukses tidur selama beberapa menit sebelum ponselku berdering. Kuraih Samsung Galaxy yang berada tak jauh dariku itu, kutatap layarnya, “Bunda!!”

“Hallo, Bunda”

“Assalamu’alaikum neng[1] cantik, sudah bangun?” suara lembut itu menyapaku.

“Wa’alaikumsalam, euuung~baru saja bangun,” jawabku.

Neng sehat?” tanyanya yang sukses membuat genangan air mata memaksa keluar dari kedua kelopak mataku.

Hening sejenak, aku berusaha mengatur emosiku. “Neng,”suaranya kembali terdengar menyapaku.

“Bunda, neng kangen,”akhirnya aku mengungkapkannya juga.

“Bunda juga kangen. Bunda rindu sekali dengan putri bunda ini, baik-baik yaa disana, jaga kesehatan, makan tepat waktu. Jangan memikirkan hal-hal lain selain kuliahmu, Bunda dan Ayah akan selalu mendoakan neng, kami titip rindu ini pada Sang Maha Penyampai Rindu. Bunda titip pada-NYA agar DIA menjaga neng selalu.”

“Bunda,”air mataku semakin mengalir dengan deras.

“Peluk cium dari Bunda dan Ayah for our beloved daughter, Achazia Deana Hanna. Kami percaya neng kuat, neng anak yang baik. Ingat ya sayang, ketika neng merasa lelah, neng cape, ada Ayah dan Bunda yang akan selalu mendukung neng. Ada Sang Maha Kuat, mintalah kekuatan pada-NYA.”

Aku menghapus air mata dan mencoba untuk tersenyum, “Hatur nuhun[2] Bunda, terimakasih, neomu.. neomu gamsahaeyo uri Eomma [3], neng sayang Bunda selalu.”

“Sudah yaa nangisnya neng geulis[4], sok geura ibak[5].”

Aku terkekeh mendengar suara bunda yang berbicara dengan menggunakan bahasa daerahnya.”

“Siaaap bunda,”dan ia pun memutus sambungan telepon kami dengan sebuah yel-yel penyemangat yang dibuatnya sendiri. Begitulah Bunda, aku ini seakan-akan adalah muridnya di Taman Kanak-Kanak, tempat dimana Bunda mengajar sebagai Guru TK. Hanya dengan mendengar suaranya saja, aku mendapatkan kekuatan baru. Terbayang pelukan hangat Bunda dan Ayah, aku merindukannya.

Kutatap wallpaper ponselku, ada foto Ayah dan Bunda yang sedang tersenyum. Aku percaya, cinta yang diberikan keduanya padaku tidak akan pernah habis. Cinta yang selalu ada untukku kapanpun aku membutuhkan. Cinta yang memberiku kekuatan, cinta yang menyembuhkan.


[1] Neng dalam bahasa sunda berasal dari kata eneng yakni panggilan untuk seorang gadis yang lebih muda meskipun awalnya kata eneng biasanya digunakan untuk memanggil anak keluarga yang dihormati di kampung atau bisa juga sebagai panggilan kesayangan dari keluarga. Tetapi kemudian kata eneng sudah menjadi kebiasaan orang sunda untuk memanggil seorang perempuan, siapapun dia.

[2] Terimakasih

[3] Terimakasih sekali ibu

[4] Cantik

[5] Ayo cepat mandi

#FFHore #2

Word Count : 483

4 responses

  1. aniiz_bsyj

    Aku juga rindu bidadariku dirumah T.T

    March 17, 2012 at 7:58 PM

  2. erie

    kaya aku hiks T-T

    April 3, 2012 at 12:28 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s