MinNeul's Home

My Balloon My Miracle


Title : My Ballon My Miracle

Author : Irma Yuliana

Length : 2.050 words

Kira-kira sebulan yang lalu, aku dapet kiriman e-mail yang kata-katanya itu bikin nyeeees bangeeeet ;;____;;  more than sweet… >////< makasiiih yaa Na.. *peluuuks* dunno what to say, just wanna say thank you very much.. *kecuuups* terima kasih sudah mau baca tulisan-tulisanku yang masih amatir sekalii.. terima kasih untuk doa-doanya, terima kasih juga untuk ceritanya, I loveeeeeee it ♥

Irma ini nulis cerita, katanya sebagai hadiah ulang tahun , hhehehe

ini dia sebagian capture emailnya yang ngebuat aku nyeeeees terharu.. ;;____;;

And for all my beloved reader, happy reading ^-^ don’t forget to leave comments for this story, I LOVE YOU ALL❤❤

Jasmine memutar badannya untuk melihat Nalin, sedetik kemudian ia segera memeluk gadis yang lebih pendek beberapa sentimeter dihadapannya itu dan melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja diajak berlibur. Nalin mengernyitkan dahi, bingung akan apa yang terjadi pada kakak-nya itu. Ia memegang dahi Jasmine dengan telapak tangannya, ‘Tidak panas’ gumamnya. Ia menatap lekat wajah Jasmine, mengharapkan sebuah jawaban yang bisa memusnahkan kebingungannya sekarang ini.

“Besok aku akan pergi ke Seoul,” teriak Jasmine antusias.

PLETAKK..

Jitakan kedua dari Nalin dengan manisnya mendarat dikepala Jasmine. Jasmine mengelus-elus kepalanya akibat serangan Nalin barusan. “Yhaaa! Dongsaeng kurang ajar! Aku lebih tua darimu, bersikaplah sedikit sopan terhadapku. Dan hilangkanlah hobimu menjitak kepalaku. Aku tidak mau nanti otakku semakin bodoh, memangnya salahku apa?” keluh Jasmine, masih menampakkan ekspresi cemberutnya.

Nalin menatap gadis dihadapannya ini dengan matanya yang kini tengah membulat dengan sempurna. Mencoba bersabar, Nalin tidak habis pikir bagaimana bisa Eonnie-nya itu bisa meraih berbagai juara olimpiade jika dalam hal sepele seperti ini saja dia tidak mengerti. Nalin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kak Jasmine, kita tadi kan membahas tentang surat balon bodoh kakak sebulan yang lalu. Aku tidak bertanya kapan kau akan berangkat ke Seoul,” sahut Nalin dengan nada suara yang dibuat-buat.

Jasmine kembali menampakkan senyum manisnya, “Tentu saja ada! Orang yang menemukan suratku itu tadi sore mengirimkan sebuah e-mail kepadaku. Dia bilang dia yang telah menemukan suratku. Dia dari Seoul,” Jasmine berhenti sebentar, mencoba mengumpulkan kembali oksigen keparu-parunya “ Hmmm, namanya Sungmin. Dia mahasiswa di Seoul National University juga,” lanjut Jasmine sambil tersenyum lebar.

“Sungmin? Lee Sung..”

“Selama ini juga aku mengharapkan itu adalah Lee Sungmin, Labumin Pandaku. tapi aku tidak ingin berharap terlalu banyak dengan harapanku itu. Ada yang menemukan surat balonku itu saja aku sudah senang,” jawab Jasmine yang mengerti maksud pertannyaan Nalin sebelum Dongsaeng-nya itu melanjutkan pertannyaannya. Walaupun dari hati kecilnya masih tersimpan sedikit harapan itu, ia tidak ingin saat tiba waktunya ia menjadi kecewa dengan kenyataan yang ada, biarlah waktu yang akan menjawabnya kelak.

Nalin ikut tersenyum melihatnya. Tidak salah kalau Nalin menjadikan Jasmine sebagai panutan dihidupnya. Ia senang akhirnya Eonnie kesayangannya itu bisa melanjutkan kuliahnya di negara yang selama ini diimpikannya, dan sebentar lagi bertemu dengan pangeran yang diharapkannya. Terdengar sangat  konyol memang! ‘Tapi mungkin ini sebuah keajaiban,’ batin Nalin.

Nalin mengulurkan tangan kananya kepada Jasmine, gemas melihatnya yang tak merespon, Nalin menarik tangan kanan Jasmine untuk menjabat tangan kanannya “Selamat! Akhirnya kakak bisa mendapatkan beasiswa itu dan aku harap Prince SungMin-mu itu sesuai dengan harapan kakak,” Nalin terkekeh kecil.

Ne, cheonmaneyo nae Dongsaeng!” Dengan gerakan cepat Jasmine segera memeluk tubuh mungil Nalin, mencoba membagikan rasa bahagia yang tengah ia rasakan kepada adik kecilnya itu.

“Ini sudah malam. Aku mau pulang. Annyeong,” Jasmine melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari pekarangan rumah Nalin menuju rumah bercat orange yang tepat berada disebelah rumah Nalin dengan senyuman tulus yang terus terukir diwajah cantiknya.

“YAAA.. Bisakah kau berbicara dengan bahasa yang kumengerti?” teriak Nalin frustasi yang masih berdiri beberapa meter dibelakang Jasmine.

Jasmine terus melanjutkan langkahnya dan terkekeh kecil. Sebenarnya ia hanya mengucapkan bahasa korea yang sangat sederhana yang dipelajarinya selama ia menjadi seorang ELF. Jasmine memang sangat suka melihat ekspresi kesal saat ia mengerjai sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu ‘Ya kau benar Nalin, Aku juga berharap begitu. I hope my balloon is my miracle,’ batin Jasmine.

Seoul

Disinilah sekarang Jasmine berada, disebuah negara yang ia ingin kunjungi sejak beberapa tahun lalu, tapatnya saat ia menjadi seorang ELF, semenjak ia mengenal Super Junior, dan semenjak ia mengenal sosok pria yang telah mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna. Lee SungMin.

Jasmine terus melangkahkan kakinya pelan, mencoba menikmati setiap detik momen yang ingin ia ciptakan ditengah indahnya dedaunan yang berserakan disepanjang jalan. Angin musim gugur yang bisa menusuk kulit, tidak dihiraukan Jasmine. Ia terus melangkahkan kakinya mengelilingi sepanjang sungai Han dengan diiringi indahnya alunan melodi yang tercipta dari suara merdunya.

“Hikss..hikss.. balonkuu..”

Jasmine menghentikan langkahnya, ia menengok kearah sumber suara, tepat disebelah kanannya seorang anak kecil dengan lollipop ditangan kanannnya tengah berdiri yang sedang menangis dengan tatapan yang mengarah keatas. Jasmine mengikuti arah pandangan gadis kecil itu, menatap kearah pohon maple tepat dihadapan gadis itu. Jasmine tersenyum kecil, ternyata balon gadis kecil itu tersangkut di dahan yang tidak terlalu tinggi.

Nalin melangkahkan kakinya menuju gadis kecil yang diperkiraan berumur enam tahun itu yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya memperhatikan gadis kecil itu sedari tadi. Jasmine berjongkok, mencoba mensejajarkan tinggi badannya dengan gadis kecil berpita kuning itu, “Kau kenapa gadis kecil?”

Pandangan gadis kecil yang sedari tadi menatap pohon Mapple itu kini tengah beralih menatap Jasmine, ia mencoba menghapus sisa air mata dengan tangan mungilnya, “Eonnie balonku telbang dan sekalang telsangkut dipohon itu”

Jasmine hanya terkekeh kecil, mendengar suara sedikit serak dihiasi aksen cadel gadis mungil itu. Inilah salah satu alasan kenapa ia sangat menyukai anak kecil, sifat polos dan ekspresi wajah yang diciptakannya membuat Jasmine merasa senang, entahlah ia sendiri pun tidak bisa menjelaskan secara gamblang kenapa ia sangat menyukai anak kecil.

Eonnie akan mencoba mengambilkannya untukmu. Siapa namamu gadis manis?” Jasmine mecubit gemas pipi tembem gadis kecil dihadapannya itu.

“Namaku Lee Chan Mi. Eonnie bisa memanggilku Chan Mi,” jawabnya dengan senyum lebarnya, membuat mata sipitnya tenggelam karena senyumnya.

Jasmine hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan Chan Mi, ia mencoba menggapai balon kuning yang tersangkut di dahan pohon maple itu dengan lompatan-lompatan kecil yang ia ciptakan. Tinggi badannya yang hanya 160 cm itu mengharuskannya untuk lebih berusaha menggapai balon yang lebih tinggi darinya itu.

Sreeeeeetttt

Balon itu kini tengah bergerak turun, tapi tunggu dulu Jasmine sedari tadi tidak bisa menggapai balon itu, tapi kenapa balon itu bisa bergerak turun? Jasmine segera memutar tubuhnya ke kanan, seorang pria dengan hoodie pink lembut dan dengan kacamata yang hampir menutupi sebagian wajahnya tengah memberikan balon kuning itu kepada Chan Mi.

Gomawo Oppa,” teriak Chan Mi dengan ekspresi senangnya. Ia kemudian berlari menghampiri Jasmine yang masih berdiri terpaku ditempatnya. “Eonni gomawo. Namjachingu Eonnie memang baik,” Ucap Chan Mi seraya memeluk Jasmine.

Masih dengan ekspresi bingungnya, Jasmine membalas pelukan hangat Chan Mi dan mengelus kepalanya lembut. Pandangan matanya kini tertuju pada pria yang memperhatikan mereka sedari tadi, “Gamsahamnida,” ucap Jasmine tulus dengan suara yang terdengar seperti bisikan, pria berhoodie pink itu hanya membalas senyum Jasmine dan berlalu pergi.

“Kenapa kau memilih Seoul?”

Pertanyaan itu sedari tadi berputar-putar dikepala Jasmine, pertanyaan sederhana memang, tapi Jasmine tidak bisa menyimpulkan secara sederhana alasan ia memilih Seoul sekarang ini. Pertanyaan yang menurut Jasmine tidak bisa ia jawab dengan hanya sepatah atau dua patah kata, menurutnya ia memiliki banyak alasan kenapa ia memilih Seoul.

“Yhaa Jung Haneul, kau mendengarkanku?”

Jung Haneul? Yah itu adalah nama korea yang ia buat sendiiri, menurutnya  nama Haneul itu memiliki makna yang istimewa, sebuah nama yang memiliki arti ‘Sky’ itu terasa indah didengar. Namun Ia tidak berharap ia bisa menjadi langit yang selalu dilihat semua orang, ia berharap seseorang yang selama ini dicintainya bisa melihatnya saja itu sudah cukup bagi Jasmine.

Haneul mengalihkan pandangannya, mencoba memberi tahukan Shin MinRa, sahabatnya semenjak ia menginjakkan kakinya di kota ini dengan pancaran ketulusan dari kedua mata coklatnya, “Karena harapan dan impianku tertinggal di Seoul.”

“Mwo?!”

“Sudahlah kau akan mengetahuinya nanti, sebaiknya kita harus menyelesaikan dekorasi panggung festival ini. Acara festival kampus kita akan diselenggarakan besok, dan kita tidak memiliki banyak waktu lagi,” jawab Haneul yang masih sibuk bergelut dengan pita-pita ditangannya.

“Aishh!” MinRa hanya berdecak sebal.

“Hahahah.. kau kenapa MinRa? Wajahmu jelekmu bertambah jelek jika ditekuk begitu,” Suara khas HyeMi memecah atmosfir keseriusan para panitia yang sedari tadi sibuk dengan kegiatan mereka. Sontak kini mereka semua melayangkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Mereka semua ikut tertawa melihat ekspresi MinRa.

“Sudah. Sudah, sebaiknya kita cepat menyelesaikan ini semua sebelum malam menjelang larut,” Suara berat dari sang ketua mengakhiri tawa mambahana dari mereka, walaupun masih ada yang terkikik menertawakan MinRa.

Hufthh!

Haneul menyeka keringatnya dengan punggung tangannya, “Tinggal memasang balon-balon ini maka tugasku akan selesai. Haneul fighting!” semangat Haneul dengan tangan yang ia kepalkan diudara.

Ne, fighting!”

Haneul mengerjapkan matanya berkali-kali, bukankah dipojok kanan panggung ini ia hanya seorang diri. Pandangannya kini ia arahkan keberbagai arah, mencari sumber suara. Nihil. Haneul tidak menemukan siapapun.

“Apakah kau perlu bantuanku”

Suara yang sama berhasil mengagetkan Haneul untuk kedua kalinya. Haneul menolehkan kepalanya menatap sosok pria yang entah sejak kapan berdiri disampinya.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Haneul retoris.

“Aku juga panitia acara festifal ini, hanya saja aku baru datang. Dan ternyata kau juga disini. Untuk ketiga kalinya kita dipertemukan oleh balon.”

Haneul mencoba mencerna setiap kata yang didengarnya. Ekor matanya mencoba memperhatikan namja yang hanya berjarak beberapa meter disebelahnya, sosok pria dengan postur tubuh yang tak terlalu tinggi dengan hoodie pink yang dikenakannya membuat Haneul yakin sepertinya ia mengenal namja ini, Haneul ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau ia mengenal dengan jelas sosok disebelahnya ini. Namun percuma, minimnya cahaya yang mengelilinginya kembali membuatnya kembali ragu.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Haneul ragu

“Entahlah. Mungkin balon-balonmu itu yang telah mempertemukan kita.”

Sudah 6 bulan Haneul berada di Seoul, dengan segala aktifitas perkuliahannya yang membuatnya melupakan sejenak alasan ia ingin pergi ke Seoul. Selain menerima beasiswa yang ia dapatkan karena prestasi akademiknya, jika kalian bertanya mengapa Haneul tidak ingin menemui Super Junior, boyband impiannya di Negara meraka sendiri? Sederhana memang, Haneul bukanlah seperti fangirl lainnya yang akan melakukan apa saja agar bisa menemui idolanya itu, bukannya ia takut, hanya saja ia mencoba meyakinkan hatinya sendiri kalau takdir pasti akan mempertemukannya.

Dan jika kalian berpikir apakah Haneul melupakan surat yang ia terbangkan dengan balonnya dulu? Tentu tidak, Haneul mengingatnya, bahkan masih sangat mengingatnya. Bukannya ia tidak ingin memnemui seseorang itu, ia hanya berpikir pasti takdir akan mempertemukannya. Haneul sangat percaya akan hal itu.

Dengan langkah cerianya Haneul melangkahkan kaki keluar dari sebuah kedai ice cream favoritnya, kedai ice cream yang terletak di ujung taman kota ini membuatnya tidak pernah sepi dari pengunjung. Sebenarnya banyak kedai ice cream serupa di sepanjang taman kota ini, namun Haneul sangat menyukai kedai ice cream “Dream Orange” ini, bukan hanya karena rasa ice cream-nya saja yang terasa berbeda, namun Haneul sangat mengagumi interior dan warna kedai ini. Semua hal yang berkaitan dengan oranye ada ditempat ini. Itulah sebabnya Haneul tidak pernah absen mengunjunginya.

Agashi, bisakah kau membantuku? Aku ingin ke toilet sebentar, bisakah kau menjagakan balon-balonku ini sebentar saja” Tanya seorang ahjumma dengan puluhan balon yang berada digenggamannya.

“Baiklah Ahjumma, aku akan menjaganya,” jawab Haneul dengan senyum tulusnya.

Ahjumma separuh baya itu segera beranjak meninggalkan Haneul. “Balon-balon ini cantik,” gumam Haneul denan pandangan mata yang fokus menatap balon-balon udara beraneka warna itu.

“Bisakah aku membeli balonmu itu?”

Suara lembut seorang namja berhasil mengalihkan fokus perhatian Haneul sedari tadi. Haneul sedikit menengadahkan kepalanya menatap namja yang lebih tinggi darinya berberapa senti yang berdiri dihadapannya. Pria dengan topi dan kacamata yang terlihat hampir menutupi sebagian wajahnya. Haneul mengerjapkan mata, merasa sangat mengenali sosok pria dihadapannya ini, hoodie pink lembut yang ia kenakan sama persis seperti pria yang ia temui beberapa hari yang lalu

Agashi, bisakah aku membeli balonmu itu?”

Untuk kedua kalinya suara lembut itu kembali menyadarkan Haneul dari lamunannya. Haneul menggaruk-garuk pipi kanannya, kebisaaannya jika ia terlihat salah tingkah. “Hmm, Mi..mian Ahjussi, aku ti..tidak tahu berapa harga balon ini,” jawab Haneul jujur

“Kau tidak menjual balon-balon itu?” tanyanya lagi.

“Aku hanya menjaga balon milik seorang Ahjumma yang tadi sedang pergi ketoilet. Kalau kau mau, kau bisa menunggunya sebentar disini, mungkin sebentar lagi Ahjumma itu akan kembali,” tawar Haneul dengan senyum manis diwajahnya.

“Baiklah, aku akan menunggu,” jawabnya seraya mendudukkan diri di bangku kosong disebelah Haneul.

Hening. Untuk sesaat keheningan menghinggapi mereka, tidak ada yang berusaha memecah kebekuan diantara mereka, mungkin dikarenakan masing-masing dari mereka tidak saling mengenal. Haneul mencoba memperhatikan pria yang duduk disebelah kirinya dengan ekspresi bingung. Namja dengan setelan kemeja putih, dan jas putih serta sepatu yang berwarna senada itu membuat rasa penasaran Haneul sedari tadi kian memuncak “Mianhamnida Ahjussi, sepertinya kau sedang sibuk yah? Ini, kau boleh membawa bebarapa balon ini, daripada kau terlalu lama menunggu disini,” Haneul memberikan beberapa ikat balon yang sedari tadi digenggamnya.

Pria itu tertegun, sedetik kemudian ia hanya menggeleng pelan dengan senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya. Walaupun masker hitamnya sejak awal tak pernah lepas dari wajahnya, namun jika diperhatikan lelaki ini pasti tengah tersenyum memandang Haneul. “Apa kau sangat menyukai balon Haneul-ah? Kenapa setiap aku bertemu denganmu pasti kau tak pernah lepas dengan hal-hal yang berhubungan dengan balon.”

DEGGG…

“K..k..kau mengenalku?”

 =================

3 responses

  1. Nggantung bgt endingnya..😦
    Eonni, namja itu Sungmin “Lee Sungmin” ny Haneul kan??

    Keep writing eonn^^ (y)

    November 24, 2012 at 7:01 PM

    • Nanti aku tagih ke authornya yaa xD

      Sungmin bukan yaa? Dari ciri-cirinya sih Sungmin, kkkk

      Thanks a lot for reading❤

      November 24, 2012 at 9:15 PM

  2. eyyy sweet sekali cerita.a … harus.a pria itu memang lee sungmin.a jung haneul kan ?
    ayyoo dina unnie, tagih seqeul.a ke author.a biar ngga gantung ending.a.

    November 26, 2012 at 3:48 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s