MinNeul's Home

The Story Of Edelweis & Sunflower (12)


Author: @ittibanwife & @magnificentSJ

(Project Duet Orange Pumpkin Girl with Clouds Merah Muda)

Disclaimer : This is just FanFiction. The Casts belongs to their self, , their family and GOD. But the story belonging to us. Copy-Paste our story is NOT ALLOWED without our permission.

Happy Reading ^-^

Don’t forget to leave your comment, gamsahamnida my beloved reader :3

Part 1

Part 2

Part 3

Part 4

Part 5

Part 6

Part 7

Part 8

Part 9

Part 10

Part 11

“Begitu ceritanya, Eonnie… Aku juga nggak tau kenapa seorang Lee Donghae bisa menganggap gantungan kunci clownfish yang nggak terlalu mahal itu sebagai salah satu barang paling berharga miliknya. Padahal kan… Gantungan kunci itu cuma pemberian dari mantan pacarnya, si… Aduh siapa ya namanya… Jung… Jung Seo All… Iya, dia.” cerita MinHee sambil menendang-nendang bebatuan kecil di taman dekat rumah.

Sore itu cuaca kota Seoul sedang sejuk-sejuknya, karena itu MinHee dan Haneul berniat untuk jalan-jalan sore di taman. Angin bertiup lembut menyisir rambut dua gadis cantik itu. MinHee sore itu memakai sweater berwarna merah muda dipadukan dengan rok mini diatas lutut berwarna hitam. Ia menguncir kesamping rambutnya. Sedangkan Haneul mengenakan t-shirt putih dan jumpsuit oranye dengan bandana sebagai penghias rambutnya.

MinHee mengarahkan pandangannya sekeliling, menikmati udara sejuk kota Seoul sore itu, lalu…

“Eh! Eonni… Itu bukannya… Lee Sungmin ya?” tanya MinHee tiba-tiba tanpa sadar membuat Haneul tersentak kaget. MinHee mengacungkan telunjuknya ragu-ragu ke depan.

Bagaikan dalam drama, langkah kaki Sungmin dibarengi dengan efek angin yang berhembus dan sinar cemerlang yang entah darimana asalnya membuat mata Haneul selalu melihatnya. Sungmin terlihat seperti malaikat atau bisa dibilang dewa, tapi bedanya lelaki ini tidak memiliki sayap.

Haneul menggelengkan kepala, berusaha membuyarkan lamunannya sendiri. Keep calm, Haneul. Andwae… Tidak bisa. Aissshh, jantungku tidak bisa diajak berkompromi, detaknya semakin kencang, semoga tidak ada yang menyadarinya. Haneul menjadi salah tingkah.

“Selamat sore, Nona-nona cantik,” itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Sungmin.

Haneul tidak menjawab, sementara MinHee…

“Soreeeeeeeeee!!!!” balas MinHee bersemangat. “Eh? Pssst, pssssssttttt!!!” MinHee menyikut-nyikut pinggang Haneul, berharap Haneul juga akan membalas sapaan namja berwajah super imut itu. Tapi tetap saja, Haneul hanya terdiam.

“Sore, MinHee-ssi,” seulas senyum tergambar di wajah Sungmin.

“Iya, hai.” MinHee melambai pelan. Huh, Haneul eonni gimana sih? Disapa, bukannya bales menyapa! Oh… Apa jangan-jangan… Dia grogi? Nervous, begitu? MinHee melayang bersama fantasi-fantasi konyolnya.

Kemudian pandangan Sungmin beralih pada Haneul, “Neo gwaenchanha?” tanya Sungmin tanpa mengalihkan sedikitpun tatapan matanya pada Haneul.

Haneul hanya mengangguk dengan ekspresi datar.

“Sepertinya kedatanganku mengganggu jalan-jalan kalian, apakah begitu, MinHee-ssi?” tanya Sungmin penuh senyum.

DEG!!! Eh? Aku harus jawab apa? MinHee menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Eeeuuu… Ah, enggaaaaak… Enggak, kok… Senang bertemu denganmu lagi, Sungmin-ssi.” Kata MinHee. Aduh… Kenapa Haneul eonni jadi mematung begini sih? Haruskah aku meng-handle situasi canggung seperti ini sendirian???? MinHee terlihat gelisah.

“Annyeonghaseyo, yeorobun!!” sapa seseorang.

MinHee, Sungmin, dan Haneul menoleh kearah sumber suara.

Waaaaaa!!! Jongwoon-ssi! Dewa penyelamat! Batin MinHee.

“Ada acara apa nih? Kebetulan ya aku dan Jongjin tetap bisa mengikuti reuni ini, hehehe…,” ujar Jongwoon, masih diatas sepedanya. Disebelahnya, Jongjin juga sedang berpose diatas sepedanya.

“Halo… Kalian lagi jalan-jalan juga ya?” tanya MinHee. Jongwoon mengangguk sambil tersenyum. “Wah… Asyik ya… Sayangnya sepedaku rusak, jadinya sudah lama aku nggak bersepeda lagi.” Kata MinHee, raut wajahnya berubah murung.

“Jinjjayo? Kami berdua masih ingin bersepeda disekitar sini, mau pergi bersama kami?” ajak Jongwoon.

Mata MinHee kembali berbinar. KESEMPATAN EMAS!!! Saatnya aku meninggalkanmu bersama Pangeran Ganteng ini, Haneul eonni. Ha ha ha!!! Batin MinHee.

“Boleh, boleh, boleh! Dimana aku harus duduk?” tanya MinHee bersemangat.

“Biar Jongwoon hyung yang memboncengmu ya, aku lebih suka kebut-kebutan nih…,” jawab Jongjin.

“Ya, naiklah.” Ujar Jongwoon.

“Okay!” MinHee menaiki sepeda Jongwoon. “Dadah Haneul eonniiiiii….,” goda MinHee.

“Ya! MinHee-ya, neo! Aissshhh…,” Haneul menggerutu sendiri. Sementara itu Sungmin tersenyum geli melihat tingkah gadis disebelahnya itu.

Jongwoon pun mengayuh kembali sepedanya meninggalkan Sungmin dan Haneul di taman itu.

“Jja~ Mau pergi kemana kita?” tanya Sungmin.

“Terserah.” Haneul menjawab sekenanya.

“Geurae, kita ikuti saja kemana kaki ini melangkah.”

Rasa malas mulai menyergap Haneul. Ia enggan berjalan berdampingan dengan lelaki ini. Haneul bingung akan perasaannya sendiri. Sungmin memang tidak punya salah padanya, ia baik, sangat baik. Tapi sifatnya yang terlalu baik itu yang membuat Haneul merasa tak nyaman.

Di satu sisi, ia tak ingin melepas lelaki baik hati ini, tapi di sisi lain, ia tak mau cepat-cepat menikah. Membayangkannya saja sudah membuat kepalanya pusing.

“Jangan memaksakan perasaanmu sendiri,” Sungmin berkata seolah tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan Haneul. “Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman. Bolehkah aku mengajukan satu permintaan?”

Sungmin menelusuri wajah Haneul dengan kedua bola matanya. Rasa-rasanya Haneul mau pingsan saat itu juga. Pandangan mata itu, begitu kuat membiusnya. Haneul mengangguk.

Sungmin melanjutkan perkataannya, “Bisakah kita belajar saling mencintai? Tak perlu terburu-buru, asalkan kita punya keyakinan untuk saling mencintai, kini, esok, dan nanti, Bagaimana? Apa kau mau belajar mencintaiku?”

“Aku hanya sedikit takut mungkin,” Haneul menjawab dengan terbata-bata. “Kau tahu, seseorang pernah bilang padaku bahwa tulang rusuk tidak akan pernah tertukar dan tulang rusuk itu tidak pernah salah mengenali sang pemiliknya. Tapi pertanyaannya, kenapa masih ada perceraian?”

“A man dreams of a perfect wife. A woman dreams of a perfect husband. But they don’t realize that God created them to complete each other. Apakah ini bisa menjawab pertanyaanmu?”

“Saling melengkapi?” gumam Haneul. Sebuah senyuman terlukis diwajahnya. Namun dengan cepat tergantikan dengan raut wajah bingung. Haruskah aku menjawabnya sekarang juga? Menikah atau tidak menikah dengannya? Haneul mencuri pandang kearah Sungmin yang juga sedang menatapnya, pandangan mereka bertemu. Sungguh, Haneul paling tidak bisa berlama-lama tenggelam dalam kedua mata indah Sungmin, hatinya lemah. Ia menunduk, menatap rerumputan yang bergoyang diterpa angin.

Sekelebat bayangan wajah ayah dan ibunya hadir dalam pikirannya.

Eomma, Appa~ Apa yang harus aku lakukan? Haneul teringat akan nasehat ibunya…

“Menikahlah dengan ia yang tidak hanya mencintaimu, tetapi juga mencintai masa depanmu, orangtuamu, saudara-saudaramu. Jangan menikah dengan pengobral janji. Temukan sang penenang hati… Temukan ia yang bendar dan baik di hati. Jujur di ucapan dan benar di perbuatan.”

“Jadi, kapan kita menikah?”

Sungmin terkejut dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Haneul.

“Aku tidak salah mendengar kan? Kau sudah menyetujui rencana pernikahan ini?” tanya Sungmin antusias.

“Eo,” Haneul menyembunyikan rona wajahnya yang mulai berubah kemerahan.

“Terima kasih, Tuhan. Terima kasih calon istriku! YES!” Wajah Sungmin memancarkan kebahagiaan, matanya berbinar, senyumnya merekah.

***

Di sisi lain, Jongwoon, Jongjin, dan MinHee sedang beristirahat sejenak di teras Handel & Gretel, restoran franchise keluarga Kim. Jongwoon sedang meregangkan otot kakinya, sementara Jongjin sedang asyik menyesap teh hijaunya. Ditengah-tengah mereka, MinHee sibuk sendiri dengan iPhone –nya.

“MinHee-ya,” panggil Jongwoon sambil menyenggol bahu MinHee.

“Eh? Ne?” MinHee menoleh, mengalihkan pandangan dari iPhone, akhirnya.

“Ddangko apa kabar?” Jongwoon membuka pembicaraan.

“Oh… Mereka baik. Ddangkoming dan Ddangkomaeng tambah gendut loh hehehe… Kau bilang kau akan datang ke rumahku untuk menjenguk mereka sesekali, tapi ternyata…,”

“Jongwoon hyung orang sibuk, dia jarang di rumah. Maklumi saja ya…,” celetuk Jongjin.

MinHee hanya tersenyum, “Oh ya, terima kasih banyak kalian sudah mengajakku jalan-jalan naik sepeda. Nan jeongmal haengbokhaeyoooo!!!” ujar MinHee ceria.

“Yep, anytime.” Ujar Jongwoon.

Lalu tiba-tiba ponsel MinHee berbunyi, ada panggilan masuk. MinHee melirik layar ponsel, “Waaaaa Lee Donghae oppa!!! Yay!” MinHee cepat-cepat menjawab panggilan Donghae sambil berdiri dari tempatnya duduk, dan menjauh dari Kim Brothers.

Jongwoon terdiam. Ia memandang tajam ke depan.

“Hyung? Hyung-ah?” panggil Jongjin pelan, tapi Jongwoon tidak meresponnya.

Tiba-tiba Jongwoon mengepalkan tangannya. Lee Donghae? Apa Lee Donghae yang dimaksud adalah… Dia? Tersirat raut wajah menyeramkan penuh amarah yang tergambar jelas di wajah Jongwoon tiba-tiba.

[tbc]

================

9 responses

  1. Whoa…..
    Akhirnya setelah sekian lama gantung, ff ini berlanjut lagi.. /clap/

    Jongwoon oppa, what’s happen??
    What’s wrong with Lee Donghae??

    Eonni, chap ini kependekan..😦

    November 30, 2012 at 2:49 AM

    • ahahahaha.. nungguin kelanjutannya yaa?😉
      akhirnya ada juga yang nungguin *sobs*

      oke siap next chap diusahakan lebih panjang, terima kasih sudah baca ^^

      December 1, 2012 at 6:52 PM

  2. Teguh Puja

    Ini tulisan kalian yang berlanjut sampai sekarang. Seneng banget sudah bisa sampai di chap 12.😀

    Go keep writing it you guys.

    November 30, 2012 at 7:47 AM

    • dong hae's brother

      hope chapter 13 coming soon

      November 30, 2012 at 2:39 PM

    • Iya kakak ^^
      terima kasih sudah mampir kesini🙂

      December 1, 2012 at 6:51 PM

      • Teguh Puja

        Semoga nantinya bisa jadi satu buku utuh ya.😀

        December 1, 2012 at 8:12 PM

      • Fanfiction dibukukan? :O belum pede kak, khawatir kena undang-undang hak cipta tentang pemakaian nama tokoh terkenal. Tapi saya sama Andra memang lagi nulis buku bareng🙂

        December 1, 2012 at 8:26 PM

      • Teguh Puja

        Iya, fan-fic kamu ini dijadikan buku.😀

        Nah, untuk urusan itu, gak tahu juga ya. Apa boleh apa ndak,😀

        Sukses yang pasti ya buat kalian berdua. Nunggu kabar baiknya.😉

        December 1, 2012 at 9:51 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s