MinNeul's Home

The Story Of Edelweis & Sunflower (13)


A9rdYsRCIAE1No3.jpg large

Author: @ittibanwife & @magnificentSJ

(Project Duet Orange Pumpkin Girl with Clouds Merah Muda)

Disclaimer : This is just FanFiction. The Casts belongs to their self, , their family and GOD. But the story belonging to us. Copy-Paste our story is NOT ALLOWED without our permission.

Happy Reading ^-^

Don’t forget to leave your comment, gamsahamnida my beloved reader :3

“Dari siapa?” tanya Jongwoon setelah Minhee kembali masuk kedalam kafe, masih dengan ponsel digenggamannya.

“Eh? Kau bertanya padaku?” tanya Minhee celingukan.

“Ya siapa lagi yang ada di depan pintu selain kau, hah?” Jongwoon masih tetap menuangkan seluruh konsentrasinya pada mesin kasir dihadapannya. Tak sedetikpun ia mengarahkan pandangannya pada Minhee.

“Yak! Kau ini kenapa jadi galak, sih?” Minhee mendekat, ia bertopang dagu disebelah Jongwoon yang sedang memberikan uang kembalian kepada seorang customer.

Jongwoon tak menjawab. Namun terlihat dari raut wajahnya bahwa mood-nya sedang tidak bagus. Minhee manyun, diliriknya barista Jongjin yang sedang meracik segelas kopi.

“Jongjin-ahPssst psssst!” Minhee berbisik memanggil Jongjin. Jongjin menoleh kearahnya. “Hyung-mu kenapa?” tanya Minhee. Jongjin mengerutkan kening  tanda tidak mengerti. “Hyung-mu-ke-na-pa?” Minhee mengulang pertanyaannya dengan nada berbisik yang agak lebih keras dari sebelumnya.

Jongjin menoleh pada Hyung-nya yang melayani pembeli dengan wajah ditekuk. Lalu ia kembali menoleh pada Minhee sambil menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya, tanda bahwa ia sendiri tidak tahu ada apa dengan Hyung-nya yang tiba-tiba berubah ekspresi itu.

“Kayaknya dia lagi ngambek deh, tapi kenapa ya? Perasaan tadi dia hepi-hepi aja tuh…,” Minhee kembali berbisik dari sudut meja kasir.

“Ah, nan gwaenchanha…,” kata Jongwoon tiba-tiba sambil melepas topinya, mengacak-acak rambut hitamnya, lalu berjalan menuju pintu kafe.

“Eh? Kau dengar ya pembicaraanku dengan Jongjin?” tanya Minhee bingung.

“Gimana aku tidak dengar? Kau berbisik tapi suaramu terdengar keras olehku.” jawab Jongwoon singkat, ia menutup pintu kafe, lalu mulai merapikan kursi.

Hyung, ini kan baru pukul lima. Kenapa toko sudah tutup?” tanya Jongjin bingung.

“Aku capek, kita buka setengah hari saja, hanya hari ini.” jawab Jongwoon sambil terus mengangkat kursi keatas meja.

Minhee menatapnya bingung. “Jongwoon-ssi…,” panggilnya sambil berjalan pelan mendekati Jongwoon. “Kau kenapa? Tadi kau senang-senang saja, kenapa tiba-tiba jadi badmood seperti itu?” tanyanya pelan dan hati-hati.

“Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja, kan?” bentak Jongwoon tiba-tiba. Hal itu membuat Minhee tersentak kaget dan spontan ia berjalan mundur dengan pelan.

Jongwoon menunduk, merasa bersalah telah membentak gadis itu. Hal itu diluar kontrolnya. Ia memegangi kepalanya, “Pulanglah…,” katanya datar.

“Ta-tapi…,”

“Pulanglah… Jongjin akan mengantarmu,” katanya. Lalu ia beralih menuju dapur, dan mulai membersihkan dapur. Minhee mematung bingung.

***

“Serius nih kau tidak ingin pulang bersamaku?” tanya Rinmi, sahabat Minhee, sambil berdiri disebelah Minhee yang masih sibuk memasukkan buku-bukunya kedalam tas ransel merah mudanya.

Minhee mengangguk sambil tersenyum.

“Oke, aku pulang duluan ya. Annyeong!” Rinmi menepuk pelan pundak Minhee, dan berjalan keluar kelas.

Tak lama kemudian, Minhee bangkit dari bangkunya, lalu menggendong tas ranselnya.

“Minhee-ya…,” sapa seseorang dari depan pintu kelas Minhee. Minhee menoleh kearah sumber suara, “Donghae Oppa?” ujarnya sambil tersenyum riang.

Minhee berjalan pulang bersama Donghae. Sore itu sedang gerimis salju, Minhee yang saat itu hanya memakai kaos lengan pendek berwarna merah muda dan syal berwarna sama sedang sibuk memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya. Sesekali ia mengusap-usap kedua telapak tangannya, lalu ia menempelkannya pada kedua pipinya, untuk menghangatkan diri.

“Kau terlihat sangat kedinginan, Minhee-ya…,” ujar Donghae yang sedang berjalan disebelah Minhee.

Minhee mendongak menatap Donghae, lalu mengangguk, “Aku lupa membawa mantelku, tadi saja aku hampir terlambat masuk kelas karena bangun kesiangan. Semalam aku belajar sampai tengah malam,” jawab Minhee.

Donghae menghentikan langkahnya tiba-tiba. “Eh? Waeyo, Oppa?” tanya Minhee bingung.

Tiba-tiba Donghae menarik tangan Minhee memasukki sebuah kedai kopi.

“Silakan diminum kopinya,” ujar salah seorang cowok berambut cepak kecokelatan dengan lesung pipi yang membuatnya nampak sangat good-looking.

Gomawo, Hyung…,” kata Donghae sambil mengambil secangkir kopi dihadapannya.

“Wah kelihatannya sedap…,” ujar Minhee yang juga mengambil secangkir kopi dihadapannya itu. Ia mulai meniup pelan kopinya.

“Selamat datang di Kona Beans. Ini adalah kafe teman-temanku. Yang tadi itu Jungsoo Hyung, dia termasuk salah satu pemilik coffeeshop ini, dia bekerja disini sebagai kasir, kadang…,” cerita Donghae.

Minhee mengangguk, “Oh ya, terimakasih sudah meminjamkan mantelmu.” ujar Minhee.

“Hahaha, ne, sama-sama. Maaf aku bukan tipe cowok sok romantis yang meminjamkan mantel pada seorang gadis dan sok pahlawan padahal dia sendiri kedinginan di luar sana. Jadi aku membawamu kesini, sambil minum bersama, baru aku bisa membuka mantelku dan meminjamkannya padamu. Nanti, aku pakai mantel Jungsoo Hyung untuk mengantarmu sampai ke rumah.” jelas Donghae sambil tersenyum manis.

Oh, Tuhan! Apakah ku masih bernafas? Bagaimana bisa jantungku tetap berdetak padahal di hadapanku sedang duduk seorang malaikat paling ganteng sedunia!!! Minhee mulai berkata-kata ngawur dalam otaknya, matanya terus memandangi sosok cowok berkaos putih dihadapannya yang terlihat seksi menurutnya, karena rambutnya yang basah terkena tetesan salju tadi.

“Minhee-ya…,” panggil Donghae sambil mengayunkan tangannya dihadapan Minhee.

Ne? Aduh, maafkan aku yang melamun tidak karuan.” Minhee membungkukkan badannya, lalu… “Auw!! Apo…,” kata Minhee pelan nyaris tak terdengar, kepalanya terbentur meja karena kecerobohannya.

“Minhee-ya! Hati-hati…,” kata Donghae sambil mengusap-usap pelan dahi Minhee dengan kedua ibu jarinya. “Kau tidak apa-apa? Sepertinya kepalamu terbentur lumayan keras, kau tidak apa-apa?” tanyanya panik.
Minhee menggeleng pelan, rasa sakit dikepalanya menghilang begitu saja, berubah menjadi rasa gugup yang amat sangat, jantungnya berdebar sangat kencang. Ini baru pertama kalinya ia merasakan hal yang seperti itu. Pandangan mata Donghae berhenti pada kedua bolamata Minhee. Ditatapnya mata indah itu dalam-dalam, lalu tangannya melemah, dan berhenti diatas kedua pipi Minhee yang memerah.
Selama beberapa detik, lalu.. “Astaga…,” Donghae tersadar, ia menarik kembali kedua tangannya. “M-mianhae…” ujarnya lirih. Ia menunduk malu.
Minhee pun hanya bisa menunduk. Suasana di meja nomer 5 itu pun menjadi sangat canggung, keduanya tak ada yg memulai pembicaraan.
Sial, sial! Aku harus bagaimana sekarang? Jangan sampai Donghae Oppa tahu kalau aku… Aku sangat gugup berada didekatnya saat ini. Aku tidak bisa mengartikan pandangannya padaku tadi, apakah dia juga… Menyukaiku?  tanya Minhee dalam hatinya.
“Mmm… Minhee-ya…,” panggil Donghae, akhirnya.
Minhee mulai mengatur nafasnya, “Ne?”
“Bolehkah aku bercerita sesuatu? Ini tentang wanita, jadi tak mungkin aku menceritakannya pada Hyukjae, dia mana ngerti soal itu…,” kata Donghae memulai pembicaraan, sebisa mungkin ia membangun kembali suasana enjoy seperti sebelumnya.
“Hahaha okay, sure.” jawab Minhee sambil tersenyum. Situasi kembali normal. Minhee mulai menyesap pelan kopinya.
“Mmm… Kau tahu kan gantungan kunci clownfish milikku?”
Minhee mengangguk.
“Itu adalah gantungan kunci pemberian dari seorang gadis, dia pernah mengisi hatiku selama beberapa tahun. Dia sempat menghilang, meninggalkanku begitu saja, hatiku sakiiiit sekali. Sudah hampir dua tahun kami tidak bertemu, karena ternyata ia meneruskan studinya di luar negeri. Dan sekarang… Dia kembali! Aku sih masih SANGAT mencintainya, bagaimana menurutmu? Apa aku harus mengabaikannya? Atau malah mempertahankan cintaku untuknya?” cerita Donghae panjang lebar.
Senyum dan atensi Minhee yang sedari tadi tertuang penuh pada cerita Donghae, kini merubah ekspresi wajahnya menjadi muram. Minhee tiba-tiba terdiam, rasanya seperti baru saja ada benda sangat keras yang jatuh dari langit menghantam tubuh mungilnya.
 Oh tidak, aku tidak suka ini. Kata Minhee dalam hati.

***

Eottokaji?” Sudah beberapa hari ini perasaan Haneul dibuat tak menentu. Keputusannya untuk menerima lamaran Sungminlah penyebab semua ketidakberesan dalam pikirannya. ‘Apa aku terlalu terburu-buru? Bagaimana jika Appa dan Eomma tidak menyetujuinya? Jung Haneul neo jinja paboya’ Haneul terus merutuki dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ia tak kan bisa merubah keputusannya itu, tapi ia juga belum mengumpulkan keberanian untuk mengatakan perihal rencana pernikahannya kepada kedua orangtuanya. ‘Lee Sungmin itu seperti apa? Aku bahkan baru sedikit tahu tentangnya, tapi aku begitu terkesan karena ia sangat mengenalku’

***

“Han Minhee, kaukah itu?” suara seorang wanita menyapa indera pendengaran Minhee diikuti oleh langkah kaki yang semakin mendekat.
Minhee menoleh kearah sumber suara dan matanya menangkap sosok seorang perempuan berbalut mantel jingga yang sedang berjalan kearahnya.
Minhee terkejut, “Ha-Haneul Eonni?!”

============

3 responses

  1. This is gettng better, well couple typo such as ‘hepi-hepi’, ‘psstt pssttt’, which you can typed it in italic. ‘Eottokachi’? I thought its ‘Eottokaji’ (어떡하지).. One more thing, when you typed foreign language that followed bt bahasa you should put (-) dash between it, ex : ‘mood-nya’ dont forget to italic the foreign word before it ^^

    December 19, 2012 at 8:41 PM

    • sudah direvisi sesuai dengan yang Eonnie koreksi, thank you so much Eon *peluks* ^-^

      December 21, 2012 at 10:03 AM

      • Good then, thankyu.. Keep writing, sorry for so rare come to your place ^^

        December 25, 2012 at 1:45 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s