MinNeul's Home

The Story Of Edelweis & Sunflower (14)


A9rdYsRCIAE1No3.jpg large

Author: @ittibanwife & @magnificentSJ

(Project Duet Orange Pumpkin Girl with Clouds Merah Muda)

Disclaimer : This is just FanFiction. The Casts belongs to their self, , their family and GOD. But the story belonging to us. Copy-Paste our story is NOT ALLOWED without our permission.

Happy Reading ^-^

Don’t forget to leave your comment, gamsahamnida my beloved reader :3

Haneul tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada bangku kosong disebelah Minhee, “Boleh aku duduk disini? Sungmin Oppa sedang memesan minuman.” Pandangan Haneul berganti pada sosok bertubuh gemuk yang hari itu mengenakan sweater berwarna jingga, warna favoritnya Haneul. “Nah itu dia,” Haneul melambaikan tangannya pada Sungmin.
    Eh? Oppa? Barusan Haneul eonni memanggil Lee Sungmin dengan sebutan ‘oppa’? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah Haneul eonni paling anti memanggil seseorang dengan sebutan ‘oppa’? 

Minhee berkata-kata dalam hatinya, ia memilih untuk diam dan memperhatikan gerak-gerik Haneul dan Sungmin, untuk mencari tahu jika ada sesuatu diantara mereka.
“Euu… Ini Donghae, seniorku di kampus. Oppa, ini Haneul Eonnie dan Sungmin Oppa, mereka temanku juga.” Minhee memperkenalkan sahabat-sahabatnya itu. Mereka berjabat tangan bergantian. Sungmin pun duduk disebelah Haneul.
Sungmin dan Haneul rupanya tak sadar jika tingkah laku mereka menjadi hal yang menarik bagi Minhee. Sikap Haneul yang biasanya dingin, acuh, malah terkadang cuek pada Sungmin sudah menghilang tergantikan senyuman penuh arti, wajah berseri, dan mata berbinar-binar, persis orang yang sedang jatuh cinta. “Atau jangan-jangan,” Minhee berspekulasi dengan hatinya.
Kecurigaan Minhee semakin menjadi-jadi ketika dengan indera penglihatannya sendiri ia melihat Sungmin membersihkan sisa minuman disudut bibir Haneul dengan tangannya lalu ekspresi wajah keduanya yang tersipu malu. Minhee seperti sedang menonton potongan-potongan adegan di berbagai film romantis yang tersaji langsung dihadapannya. Sungmin dan Haneul saling memandang, tersenyum, kemudian tanpa ragu Sungmin mencubit pipi Haneul dan itu sukses membuat Minhee terheran-heran. Minhee menatap Sungmin dan Haneul dengan bingung, ia mengerutkan alis, ‘Kayaknya ada yang nggak beres…,‘ ujarnya dalam hati. Ia terus memperhatikan Sungmin dan Haneul.

Minhee terus curi-curi pandang memperhatikan gerak-gerik Sungmin dan Haneul. Tanpa sadar tangannya mengambil cangkir kopi Donghae, dan hendak menyesap isinya.
“Minhee-ya!” Panggil Donghae.
Minhee tersadar, lalu mengalihkan pandangan pada donghae. “Eh? Ne?”
“Itu cangkir kopi ku.” Kata Donghae.
Minhee terkejut. “Eh iya… Aduh maaf, Oppa, maaf… Aku melamun.” Kata Minhee.
  Sial, Minhee-ya! Jangan lupa donk kalau disebelahmu ada Donghae oppa! Kata Minhee dalam hati.
“Minhee-ya, gwaencahana?” Sejak dari pertama datang, baru kali ini Sungmin mengalihkan pandangannya dari selain Haneul.

“Eeeuuu…… Nan gwaenchanha,” jawab Minhee. “Oh ya, aku permisi ke toilet sebentar ya… Haneul Eonnie, temani aku.” Minhee bangkit dari tempat duduknya sambil menarik tangan Haneul.

Eonnie-ya… Kenapa tiba-tiba Eonnie memanggil Lee Sungmin dengan sebutan ‘Oppa’? Kenapa Eonnie diam saja saat Sungmin Oppa menatapmu? Kalian pacaran ya? Kenapa tidak memberitahuku? Aku ini kan adikmu, kenapa kau…,”
Ssst,” Haneul menempelkan telunjuknya dibibir Minhee. “Ceritanya nanti saja ya, kau tidak mau kan membuat dua lelaki diluar sana terlalu lama menunggu kita?”

“Ta-tapi… Aku melihat sesuatu yang aneh…,” suara Minhee melemah.
Naega wae?” Haneul bertanya balik pada Minhee dan menarik lengannya keluar dari toilet.
Tak lama kemudian, Haneul dan Minhee kembali.
“Maaf membuat kalian semua menunggu.” Kata Minhee.
“Tidak apa-apa. Duduklah,” kata Donghae penuh senyum. Ia terlihat rapi dengan sebuah mantel cokelat yang sedang ia pakai.
Oppa? Kau mau kemana?” Tanya Minhee.
“Tadi Hyung-ku menelfon, katanya dia butuh bantuanku.” Jawab Donghae. “Maaf ya, aku duluan.” Ujarnya.
“Silakan. Hati-hati dijalan. Senang bertemu denganmu,” kata Sungmin.
Donghae hanya membalas dengan senyum. ”Aku pulang dulu ya, Minhee-ya. Sampai besok.” Ujar Donghae sambil mengacak-acak rambut Minhee, lalu beranjak meninggalkan Kona Beans.
Terjadi keheningan sesaat diantara Minhee, Haneul dan Sungmin. Sebenarnya Haneul ingin bercerita pada Minhee, tapi ia juga belum meminta izin pada Sungmin. Lagi-lagi keduanya saling menatap, mencoba menyampaikan pesan melalui pandangan mata.
“Apa Sungmin Oppa dan Haneul Eonnie sedang berkencan?” Tebak Minhee tepat pada sasaran.
Haneul masih terdiam, tidak mengiyakan ataupun menyanggah. Hanya sebentuk senyum kecil diwajahnya yang menyiratkan makna tersembunyi.
“Apa menurutmu kami sedang berkencan?” Sungmin bertanya dengan pandangan lurus menatap Minhee.
Minhee memutar bola matanya tak tentu arah, bersikap sok innocent. “Mmmm tidak sih… Aku hanya menebak-nebak saja,” jawab Minhee terlihat salting, takut kalau ia telah bertindak tidak sopan dengan menanyakan hal privasi seperti tadi. “Eh tapi kalian terlihat seperti itu, lho! Lagian kalian juga cocok jika bersama. Wah aku sebagai yeodongsaeng Haneul Eonnie akan sangat bangga mempunyai kakak ipar sekeren kau, Oppa..,” Minhee mulai mencoba menghapus atmosfer canggung barusan.
“Kami,” Sungmin menggenggam jemari Haneul tepat dihadapan Minhee “Akan menikah.”
Mwoooo?” Minhee menganga kaget. “Me-me-menikah? Kalian?” Terbentuklah sebuah senyuman bahagia dari bibir Minhee.
Sungmin mengangguk mantap.
I can’t believe it! Aku akan mempunyai kakak ipar yang ganteng! Hahahaha~” Minhee lompat kegirangan tanpa menghiraukan belasan pasang mata melihatnya dengan heran.  ”Yeah! Aku sayang kalian!” Minhee beranjak memeluk Haneul dan Sungmin bergantian. “Lalu, kapan kalian akan menikah?” Tanyanya antusias.
Haneul yang sudah terbiasa melihat tingkah dongsaeng-nya yang satu itu hanya bisa terkikik geli lalu menyambut pelukan Minhee.
Lain dengan Sungmin yang agak sedikit kaget dengan reaksi Minhee, ia pikir dirinya akan diinterogasi atau setidaknya Minhee tidak akan langsung menerimanya. Namun akhirnya Sungmin pun ikut tertawa melihat betapa antusiasnya Minhee terhadap pernikahannya dengan Haneul.
“Kami akan menikah secepatnya,” jelas Sungmin dibarengi dengan anggukan Haneul.
“Waaaaah aku ikut senang.” Minhee menarik tangan kanan Haneul dan meletakkannya diatas tangan kiri Sungmin. Dengan sorot matanya yang ceria, Minhee memandangi kedua kakaknya itu.
Tiba-tiba ponsel Minhee berbunyi, ia merogoh saku mantel Donghae yang dipakainya. Sebuah sms, dari Eomma.
“Tidak mungkin! Sepertinya aku harus pulang, Ddangkomaeng keluar dari kandangnya, aku harus segera mencarinya!” Kata Minhee panik.
Sungmin menatap Minhee tak mengerti lalu beralih pada Haneul, seakan bisa menebak arti dari tatapan itu, Haneul pun berbicara, “Ddangkomaeng itu nama kura-kuranya Minhee.”
“Kura-kura?” Sungmin mengernyitkan dahinya, “Sepertinya aku mengenal orang yang juga suka dengan kura-kura. Jongwoon Hyung?” Sungmin berbicara dengan pelan namun masih bisa terdengar oleh Haneul dan juga Minhee.
“Tidak apa-apa kan jika aku pulang duluan? Maaf yaaaa…,” Minhee membungkuk.
Eo, hati-hati di jalan, salam untuk kura-kuramu ya.” Pesan Haneul.

Minhee mengangguk. “Eh, Jungsoo-ssi! Jungso-ssi!” panggil Minhee.

Jungsoo yang sedari tadi berdiri di depan meja kasir melihat kearah Minhee. “Ada apa?” tanyanya.

“Aku pulang dulu ya. Terima kasih kopinya. Annyeong!” Minhee membungkuk, lalu melambaikan tangan pada Jungsoo. Jungsoo membalasnya sambil tersenyum, membuat sebuah lesung pipi tampak dari wajahnya dan membuat lelaki itu terlihat tampan.

***

“Ddangko… Eodie??” Minhee membuka pintu kamarnya perlahan. Ia meletakkan tas ransel merah mudanya keatas meja belajar. Lalu ia membuka mantel Donghae yang sedari tadi membalut tubuhnya. ”Terima kasih ya, kau membuat tubuhku terlindung dari dingin.” Kata Minhee pada mantel itu. Lalu ia meletakkan mantel itu di rak pakaian, dan melihat sekeliling. ”Ddangko, kau tidak mungkin hilang, kan? Kamar ku tidak terlalu besar, pasti aku akan menemukanmu.” Kata Minhee.
Ia melihat jeli keseluruh penjuru kamarnya. Ia mulai mencari Ddangkomaeng dibawah tempat tidur, di kolong meja, sampai di dalam akuarium kosong didekat jendela kamarnya. Ddangkomaeng tidak disana.
“Aneh… Kemana dia ya? Ddangkomaeng? Makhluk kecil yang imut? Dimana kau?” Tanya Minhee bingung. Tiba-tiba ia melihat buku harian nya yang berada di keranjang mainannya, koleksi mainan-mainan saat ia kecil. Minhee berjalan kearah keranjang mainannya itu, hendak mengambil buku hariannya.
“Ddangko? Kau bermain disini?” Dilihatnya seekor kura-kura bertubuh kecil sedang bertengger manis diatas perut sebuah boneka teddy bear mungil, di keranjang mainan itu. Minhee meletakkan Ddangkomaeng keatas telapak tangan kirinya, dan mengambil buku harian dengan tangan kanannya. Lalu secarik kertas terjatuh.
“Apa itu?”
Minhee mengambil kertas tersebut. Ternyata kertas itu adalah sisa pamflet buatannya saat kura-kuranya hilang beberapa bulan lalu. Tiba-tiba Minhee teringat sesuatu.
“Hey, bagaimana kabar majikanmu itu, ya?” Tanya Minhee pada seekor kura-kura mungil di telapak tangannya.
Ia bergegas meletakkan kembali Ddangkomaeng kedalam kandangnya.  Lalu ia menatap dua ekor kura-kura dalam satu kandang itu.
“Jongwoon Oppa… Sudah berapa hari ya aku tidak bertemu dengannya? Setiap lewat di depan tokonya, aku tidak pernah melihatnya, ddangko… Menurutmu, majikanmu itu kemana? Dia marah padaku, ya? Tapi kenapa? Bahkan aku tidak tahu apa salahku padanya. Terakhir bertemu, dia sampai mengusirku dari tokonya. Aku sedih, ddangko… Sampai dengan hari ini… Tak ada kabar darinya..,”
Message sent. Sambil menunggu balasan dari Jongjin, ia iseng membuka galeri foto di ponselnya. Ia baru sadar ternyata disitu banyak foto Donghae yang ia ambil dari blognya. Lalu foto-foto ala paparazi yang ia ambil diam-diam disaat melihat Donghae di kampus. Minhee terkekeh, ternyata dia benar-benar menyukai cowok ini, pikirnya. Mengoleksi foto seorang pria keren yang… Tak mungkin ia miliki, mengingat cowok itu masih mencintai mantan kekasihnya. Minhee terus menggeser koleksi fotonya, dan jari telunjuknya berhenti pada sebuah foto lelaki dengan rambut hitam dan kacamata, melakukan self-camera. Ya, Jongwoon.
“Eh? Kapan dia mengambil gambar dari ponselku?” Minhee heran. Ia menggeser pelan koleksi gambar di ponselnya, dan ternyata banyak foto cowok itu didalamnya.
“Ah, ya… Waktu itu Jongwoon Oppa kan pernah meminjam ponselku untuk melihat foto-foto Ddangko… Dasar jahil! Ternyata dia menggunakan kamera ponselku untuk selca! Hahaha…,” Minhee tertawa renyah.
“Eh apa aku bilang? Jongwoon Oppa?..,”

***

Hyung, aku bilang apa nih? Minhee menanyakan keadaanmu.” Kata Jongjin, masih dengan iPhone ditangannya.
“Bilang saja kau tidak tahu.” Jawab Jongwoon santai sambil terus memandangi tetesan salju dari jendela.
“Mana mungkin? Aku kan adikmu, seharusnya aku tahu bagaimana keadaanmu.” Kata Jongjin.
“Yasudah jujur saja, aku sedang tidak mau menerima tamu.” Kata Jongwoon lagi, Jongjin hanya mengangkat bahu dan menuruti perkataan hyungnya.
  Maafkan aku, Minhee-ya… Aku hanya sedang tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu apa yang harus aku ikuti, rasa dendam yang tak akan padam sampai kapanpun atau… Mengorbankan perasaanku padamu. Kata Jongwoon dalam hati. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, berisi sebuah cincin sederhana berbentuk kura-kura.

 

***

One Message received.

Jongwoon Hyung sedang sakit. Sebaiknya kau jangan ganggu dia dulu.

“Jongwoon sakit??? Sakit apa dia? Kenapa tidak ada yg memberitahu ku? Apa sakitnya parah? Aku harus menjenguknya!” Minhee bangkit dari tempat tidur, hendak mengambil mantel Donghae dan pergi menuju rumah Jongwoon. Tapi… Ponselnya berdering, ada panggilan masuk.

Minhee melihat layar ponselnya. ‘Donghae Oppa’. Minhee mengurungkan niatnya, dan lebih memilih menjawab panggilan dari Donghae.
Yeoboseyo?” Sapanya.
“Minhee-ya! Kau disana? Kau tau tidak? Tadi aku bertemu Seoall, dia benar-benar kembali! Dan kau tahu, dia juga masih mencintaiku!!” Seru Donghae dari seberang.
Minhee menjauhkan ponselnya perlahan dari telinganya. Lalu kedua matanya mulai berkaca-kaca. Selang beberapa detik, butiran bening mengalir dari matanya. Ia menangis.

 

=======================

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s