MinNeul's Home

The Story Of Edelweis & Sunflower (15)


A9rdYsRCIAE1No3.jpg large

Author: @ittibanwife & @magnificentSJ

(Project Duet Orange Pumpkin Girl with Clouds Merah Muda)

Disclaimer : This is just FanFiction. The Casts belongs to their self, , their family and GOD. But the story belonging to us. Copy-Paste our story is NOT ALLOWED without our permission.

Happy Reading ^-^

Don’t forget to leave your comment, gamsahamnida my beloved reader :3

Mworago???” Kyuhyun mengulang pertanyaan itu untuk kedua kalinya.

“Aku akan segera menikah, dan kau Cho Kyuhyun-ssi, berhentilah mengganggu kehidupanku!” tegas Haneul tanpa keraguan sedikitpun.

“Kau, menikah???” Kyuhyun tak bisa menahan tawanya. “Dengan siapa? Ohh, sungguh kasihan sekali laki-laki itu.”

Haneul berdecak . Ia berusaha untuk menahan emosinya setiap kali berhadapan dengan seorang makhluk paling menyebalkan  yang ada di muka bumi ini.

Geurae, aku hanya ingin memberitahukan itu saja padamu. Ah yaa, aku rasa aku tak perlu mengenalkan calon suamiku padamu. Aku khawatir kau akan merasa minder bertemu dengan lelaki baik hati sepertinya.”

Baru saja Haneul hendak melangkahkan kakinya, Kyuhyun dengan sigap menahannya. “Yya! Jung Haneul! Neo, naekkoya. YOU ARE MINE,” senyum separo muncul di wajah Kyuhyun. “Jangan pernah berpikiran untuk pergi dari pandanganku,” Kyuhyun semakin mengeratkan cengkeramannya, membuat Haneul meringis kesakitan.

“Yya! Cho Kyuhyun, neo micheosseo! Lepaskan aku, sekarang!”

Seberapa kuatpun Haneul melawan, kekuatannya tak bisa mengalahkan cengkraman Kyuhyun.

Sungmin oppa, tolong aku, Oppa, Sungmin oppa… Haneul mengulang-ulang nama itu dalam hatinya.

Kyuhyun bergerak mendekati Haneul , membunuh jarak diantara mereka. Haneul tertunduk, kedua tangannya kini sudah ada dalam cengkraman Kyuhyun, bahkan untuk bergerak pun ia tak bisa. Haneul menyesal kenapa dulu ia tak belajar ilmu bela diri. Pada saat ini, ingin rasanya Haneul melumpuhkan lelaki menyebalkan dihadapannya .

Suara itu, suara yang sangat dibenci Haneul kini membisikkan kata-kata yang membuat Haneul terkejut. “Jung Haneul, saranghae…,”

Belum pernah Haneul mendengar suara Kyuhyun selembut ini. Apa yang terjadi dengan ‘Foreva Rival’ nya itu? Dimana Cho Kyuhyun yang menyebalkan? Mengapa dalam hitungan detik ia bisa berubah seperti ini? Perlahan, cengkraman di lengan Haneul mengendur, dan tak lama lengannya terlepas dari tangan besar Kyuhyun.

Mianhae, jeongmal mianhae,” suara lembut Kyuhyun kembali terdengar.

Haneul tak bisa mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun. Sungguh, ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kyuhyun membalikkan badannya, dengan langkah pelan ia meninggalkan Haneul yang kebingungan.

Lama Haneul terdiam, mencoba mencerna kata-kata yang disampaikan Kyuhyun. “Aisshh… Cho Kyuhyun, neo jeongmal..,”

Beberapa hari yang lalu…

“Sungmin hyung!” Kyuhyun menghampiri Sungmin yang sedang  duduk di sebuah kafe, tempat biasa mereka bertemu.

Eo, Kyuhyunnie…”

Uri manneyo hyung, apa hari ini kita akan bertanding game? Ahhh, rasanya sudah lama sekali aku tidak mengalahkanmu, hyung.”

Mianhaeyo. Sepertinya untuk beberapa minggu kedepan aku tidak bisa bermain game dulu. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan.”

Seperti  bisa dilihat Kyuhyun sedari tadi Sungmin selalu menatap layar tabletnya. “Kyuhyunnie, aku akan menikah.”

Jeongmal? Waaaaa, Sungmin hyung. Chukhahaeyo!!!”

Gomawo. Ah cham, aku belum sempat mengenalkan calon istriku padamu. Tapi aku rasa kalian saling kenal. Calon istriku juga kuliah di kampusmu.”

Jinjja? Nugu? Nugu? Nugu?”

“Jung Haneul. Neo, ara?”

Kyuhyun sedang berusaha meyakini dirinya bahwa ada banyak yeoja bernama Jung Haneul. Namun rasa penasarannya, membuat Kyuhyun melontarkan sebuah pertanyaan yang kemungkinan akan meruntuhkan keyakinannya.

“Apa Jung Haneul yang hyung maksud itu… Seorang perempuan penyuka warna jingga, dimana semua benda yang ia miliki selalu ada unsur warna itu. Jung Haneul yang punya sahabat bernama Han Minhee?”

“Jung Haneul yang ketika tersenyum maka senyumnya bisa menghangatkan sekitar. Jung Haneul… Langitku… Langit jingga yang penuh ekspresi.” tambah Sungmin. “Jadi kalian saling kenal, bukan?”

Kyuhyun mengangguk lemah dan memaksakan dirinya untuk tersenyum.

Tiada yang paling membahagiakan bagi seorang Cho Kyuhyun selain masa kecilnya bersama Haneul. Seorang gadis mungil, dengan rambut panjang yang selalu memakai pita berwarna jingga, warna favoritnya. Gadis kecil yang ingin sekali Kyuhyun lindungi, namun pada akhirnya ia meninggalkan bekas luka pada gadis kesayangannya itu. Hal yang sulit termaafkan, Kyuhyun tau dengan pasti. Sejak saat itu pula, rasa bersalah itu selalu membayangi kyuhyun. Suara tangis Haneul, ekspresi ketakutan dan kesakitannya.

Namun entah sejak kapan, rasa ingin melindungi serta rasa bersalah itu berkembang menjadi rasa suka lalu ingin memiliki.
Julukan “Foreva rival” yang Haneul berikan untuknya membuat Kyuhyun senang sekaligus sedih. Senang karena Kyuhyun menganggap bahwa Haneul memberikan tempat khusus baginya. Sedih karena julukan itu tercipta karena kyuhyun pernah berbuat salah pada Haneul, pada gadis kecil yang sangat ingin ia lindungi. Dan kyuhyun tak pernah membayangkan bahwa ia akan kehilangan Haneul secepat ini, disaat ia sedang berusaha memperbaiki hubungannya dengan Haneul. Disaat ia ingin menciptakan memori baru bersama Haneul, bukan memori buruk, tapi memori membahagiakan yang akan selalu Haneul kenang.

Malam yang dingin, ditemani dengan botol-botol wine disekitarnya, Kyuhyun merutuki kebodohannya.
“Eotokachi?” pertanyaan itu yang sedari tadi berputar-putar dalam ruang pikiran Kyuhyun.

***

Hari itu adalah hari peresmian coffeeshop keluarga Kim yang baru, Mouse & Rabbit. Sudah beberapa minggu setelah keluarga Kim menutup coffeeshop franchise mereka yang dulu, Handel & Gretel, dikarenakan tempatnya yang kurang besar menurut Nyonya Kim. Sampai dengan pukul sembilan malam, Kim Brothers masih berada di kedai kopi yang nyaman itu.

“Kalau sudah tidak mau bantu merapikan kursi, pulang saja…,” celetuk Jongjin sambil terus menaikkan kursi keatas meja.

Jongwoon yang sedari tadi hanya menyanyikan lagu ‘Waiting for You’ dengan pelan di depan pintu menoleh kearah adiknya yang sedang ngedumel. “Aku masih ingin menemanimu disini.” Ujarnya.

“Ah aku tidak butuh bantuan seseorang yang sedang patah hati, percuma tidak bisa bantu rapi-rapi.” Balas Jongjin kecut.

“Mwoya-aaa?” Jongwoon protes.

“Aku kan sudah mengusulkan untuk mengundang Minhee kesini di acara peresmian toko tadi. Lihat dirimu sekarang, kerjanya hanya melamun sambil bernyanyi bodoh. Dasar kepala batu!” Kata Jongjin.

“Jongjin-ah…,”

Jongjin menepuk bahu sang kakak, “Hyung, jangan sok tidak peduli. Kalau kau merindukannya, temui dia, kau bisa membalas sms nya. Kejar dia jika kau memang mengaguminya sejak pertama kali bertemu. Apa susahnya mengatakan kepadanya??”

“Ta-tapi… Bagaimana jika ia tidak menyukaiku?” Tanya Jongwoon tidak yakin.

“Jika dia ditakdirkan menjadi seseorang yang diciptakan untukmu, sekeras apapun usahanya untuk berpaling darimu, dia akan terus kembali padamu. Percaya padaku.” Ujar Jongjin sambil beralih menuju meja kasir dan mulai mengelapnya.

Jongwoon hanya terdiam dan kembali memalingkan pandangannya keatas langit malam itu yang bertaburkan bintang yang berwarna-warni.

***

Di sisi lain, Minhee yang juga sedang menatap langit malam itu, masih terus menekuk bibirnya. Malam ini ia sedang berbaring diatas kursi ayunan di balkon kamarnya, masih dengan iPhone digenggamannya. Sesekali ia menatap foto seorang lelaki berambut keemasan di layar ponselnya. Ya, Lee Donghae, lelaki yang fotonya Minhee jadikan wallpaper ponselnya.

“Huh, dasar! Kenapa siiiih aku bisa terpesona dengan ketampananmu, hah? Kenapa juga aku masih mengharapkan kalau suatu saat… Kau akan putus dari Seoall dan beralih kepadaku? Oppa… Aku menginginkanmu sejak pertama kali kita bertemu di kampus…,” Minhee berkata-kata pada layar ponselnya.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Ada 1 sms yg masuk.

Dari: Jongwoon
Jangan lupa tutup kakimu dengan selimut, diluar sangat dingin. 

Minhee terkejut dan langsung merubah posisi setengah telentangnya menjadi posisi duduk. Ia melirik sekitarnya dengan panik sekaligus bingung.

Sms kedua masuk.

Dari: Jongwoon
Aku sedang berada diluar rumahku, aku masih bisa melihatmu dari sini.

Minhee tersenyum dan langsung bangkit dari kursi ayunan menuju pagar rendah di balkon yang langsung mengarah ke depan rumah. Dilihatnya sesosok cowok yang rapi dengan mantelnya sedang melihat keatas, kearah balkon rumah Minhee. Lelaki itu tersenyum miring, membuatnya tampak lebih tampan dari biasanya. Minhee balas tersenyum, lalu ia melambaikan tangan kanannya dengan semangat.

“Pakai mantelmu! Kenapa memakai celana pendek di malam yang sangat dingin seperti ini???” Kata Jongwoon sedikit berteriak.
Minhee hanya tertawa renyah.

‘Hey, aku merindukanmu, Jongwoon-ssi… Senyum itu, lama aku tak melihatnya. Terima kasih sudah kembali…’ Kata Minhee dalam hati, ditengah senyum gembiranya.

***

Eomma, aku berangkat!!” Kata Minhee sambil menutup pintu rumahnya.

“Minhee-ssi!!!” Panggil seseorang dari seberang.

Minhee menoleh kearah sumber suara, “Annyeonghaseyo~” Minhee membungkuk sopan.

Annyeonghaseyo. Mau berangkat ke kampus? Butuh tumpangan?” Tanya seorang lelaki yang pagi itu memakai setelan kaos berwarna hitam dan celana jeans tiga perempat yang sedang berdiri di depan rumah bersama sepedanya.

Minhee tersenyum, “Jika kau tidak keberatan.” Jawabnya.

Jongwoon mengisyaratkan Minhee untuk naik dibelakangnya. Minhee pun beranjak menaiki sepeda Jongwoon, ia berdiri pada dua pijakan kaki di kanan-kiri sepeda Jongwoon.

“Siap, kapten!!” Kata Minhee sambil memegang kedua bahu Jongwoon untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Jongwoon mulai mengayuh sepedanya.

 

“Kau ini kemana saja? Tidak menjawab telfonku, mengabaikan sms ku, kupikir kau marah padaku.” Ujar Minhee membuka pembicaraan.

“Aku hanya kelelahan akhir-akhir ini. Joesonghamnida.” Balas Jongwoon. “Hm, kau merindukanku ya?” Tanyanya iseng. Berharap mendapat sebuah jawaban ‘ya’.

“Tentu!” Jawab Minhee semangat.

Senyum Jongwoon merekah.

“Aku merindukan majikan Ddangko, saat kau tidak ada, aku yang pergi ke toko makanan hewan, capek…,” kata Minhee.

Senyum Jongwoon memudar seketika.

“Hahaha bercanda~ Aku merasa ada yang kurang jika tidak melihatmu sebelum aku berangkat ke kampus.” Lanjutnya.

Jongwoon tersenyum dan mengayuh sepedanya lebih semangat.

“Aku senang mendengarnya.” Kata Jongwoon pelan, hampir tak terdengar.

“Oh iya, aku turun disini saja..” Kata Minhee.

Wae?” Jongwoon menghentikan laju sepedanya.

“Aku sudah ada janji dengan temanku. Hm kurasa aku datang lebih pagi darinya.” Kata Minhee sambil turun dari sepeda.

“Oh… Arasseo.”

“Minhee-ya!!!” Panggil seseorang.

“Donghae oppa!!” Balas Minhee ceria.

‘Donghae? Oppa? Mereka… Berpacaran??’ Jongwoon berspekulasi.

“Kau nampak cantik sekali pagi ini.” Ujar Donghae sambil mencubit hidung Minhee.

Jinjjayo? Kamsahamnida~” Minhee membungkuk. “Oh iya, perkenalkan… Ini tetanggaku, Jongwoon. Jongwoon-ssi, ini Donghae oppa.” Kata Minhee.

“Ka-kau…,” Donghae terkejut melihat sosok pria dihadapannya. Ia terlihat kikuk.

Jongwoon menatapnya dengan tatapan penuh benci. Ia mengepalkan tangannya, tanpa ia sadari.

“Hey, kalian berdua sudah saling kenal ya?” Tanya Minhee polos.

Donghae tersenyum pada Minhee, dan langsung menarik tangannya menjauh dari Jongwoon. Keduanya berlalu, meninggalkan Jongwoon sendirian diatas sepedanya. Dengan penuh emosi, ia kembali mengayuh sepedanya dengan kasar.

===============

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s