MinNeul's Home

The Story Of Edelweis & Sunflower (16)


Author: @ittibanwife & @magnificentSJ

 

(Project Duet Orange Pumpkin Girl with Clouds Merah Muda)

 

Disclaimer : This is just FanFiction. The Casts belongs to their self, , their family and GOD. But the story belonging to us. Copy-Paste our story is NOT ALLOWED without our permission.

 

Happy Reading ^-^

 

Don’t forget to leave your comment, gamsahamnida my beloved reader :3

A9rdYsRCIAE1No3.jpg large

“Jongwoon Hyung!!” Panggil seseorang.

 

Jongwoon yang sedang berjalan tak tentu arah pun menoleh kearah datangnya suara, “Ah, Donghae-ah…,” ujarnya lirih.

 

“Ada apa, Hyung? Kenapa kau terlihat lesu seperti itu?” Tanya Donghae, yang sore itu mengenakan setelan kaos putih dengan celana jeans tiga perempat.

 

Jongwoon menghela nafas, “Aku baru saja bertemu gadis itu.,” jawabnya.

 

“Oh ya? Lalu bagaimana?” Tanya Donghae antusias, sambil menyamakan langkahnya dengan Jongwoon.

 

Jongwoon menghela nafas lemah, “Dia bilang dia mencintai lelaki lain.”

 

Mwo??? Kenapa bisa? Siapa lelaki itu? Akan aku buat dia menyesal seumur hidup, karena dia telah merebut calon kekasih Hyung ku ini!!!” Kata Donghae berapi-api.

 

“Tidak usah.. Aku hanya tidak mengerti. Dia bilang, dia mencintai seseorang yang sangat dekat denganku…,” kata Jongwoon.

 

“Eh? Dia menyukai Jongjin, maksudmu?” Tanya Donghae.

 

Jongwoon mengangkat bahu, “Molla… Mungkin…,” jawabnya.

 

Donghae terdiam.

 

***

 

Oppa… Oppa!!!” Minhee mengayunkan tangannya di depan wajah Donghae.

 

“Eh? Euuu… Ne?” Donghae tersadar dari lamunannya tentang masa lalu

 

Minhee cemberut, “Kau tidak mendengarkan ku, ya? Kau melamun sejak tadi, setelah kau dan Jongwoon bertemu.” Ujar Minhee.

 

Donghae tak berkata apa-apa.

 

“Kalian berdua saling kenal ya? Jongwoon itu siapa? Kalian teman dekat? Tapi kenapa tadi kalian seperti orang yang tidak saling kenal? Kenapa kalian..,”

 

“CUKUP! Cukup, Han Minhee! Aku tidak mau mendengar apa-apa tentangnya, mengerti??”

 

Minhee terhentak kaget, ini baru kali pertama ia melihat Donghae bisa semarah ini. Minhee hanya diam di tempat.

 

“Ah, Minhee-ah… Mianhae… Aku lepas kontrol.” Ujar Donghae sambil memegang bahu Minhee. Ia pun berlalu.

 

Baru pertama kali aku melihatnya semarah itu. Sebenarnya ada apa antara ia dan Jongwoon? Kenapa sepertinya… Donghae Oppa sangat membenci Jongwoon?? Minhee berspekulasi dalam hatinya.

 

***

 

“Sungmin Oppa, yeogi (disini),” Haneul melambaikan tangannya dari kejauhan ke arah Sungmin.

 

Keduanya berjalan mendekat. “Sudah makan?” tanya Sungmin ketika jarak antara dirinya dan Haneul sudah cukup dekat.

 

Ajik (belum),” jawab Haneul.

 

Kajja mokja (ayo kita makan),” Sungmin menyodorkan pergelangan tangannya yang bebas agar Haneul dapat dengan leluasa menggengamnya.

 

Tanpa ragu, Haneul meraih pergelangan tangan Sungmin yang empuk. Ia tak merasa risih ataupun canggung melakukan aktivitas skinship dengan Sungmin. Jung Haneul akan memanggil seorang lelaki yang lebih tua darinya dengan panggilan ‘Oppa’ jika ia sudah merasa nyaman dengan orang itu. Begitupun dengan skinship. Tidak sembarang orang ia biarkan menyentuh anggota tubuhnya walau hanya pundak sekalipun.

 

Keduanya berjalan menuju parkiran, ini pertama kalinya Haneul mengiyakan tawaran Sungmin untuk menjemputnya di kampus. Lee Sungmin, lelaki itu membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Haneul masuk, penuh dengan perhatian dan kehati-hatian, seakan akan Sungmin tak mau Haneul terluka sedikitpun. Selanjutnya, adegan yang banyak terlihat di drama-drama pun terjadi pada Haneul. Sungmin membantunya memasang seatbelt lalu memastikan posisi duduk Haneul dalam kondisi nyaman.

 

Gomawo,” Haneul mengucapkan kata itu dengan wajah berseri-seri. Rona merah dipipinya membuat Sungmin menahan tawa.

 

Oppa, sejak kapan bisa menyetir?”

 

“Euuum, sekitar delapan tahun yang lalu.”

 

Jinja?”

 

Eo, uri Appa yang mengajariku. Haneul-ah apa kau bisa menyetir?”

 

Haneul memamerkan deretan gigi putihnya lalu menggeleng.

 

Oppa akan mengajarimu.”

 

“Tidak perlu, Oppa. Sebenarnya dulu aku pernah belajar setir, tapi… ” Haneul terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya. “Aaa.. Aa..ku lalu menabrak tenda yang menjual tteokpoki, bagian depan mobilku penuh dengan saus tteokpoki begitupun dengan penjualnya.”

 

Mwo?” Terdengar suara tawa Sungmin.

Oppa! Kenapa menertaiwaiku?”

 

Ani, keunyang… Itu terdengar lucu buatku,” jawab Sungmin masih dengan sisa tawanya.

 

“Ish, maka dari itu aku tidak mau belajar setir lagi.”

 

Arasseo, arasseo… “Sungmin mengacak lembut rambut Haneul. “Apa ada makanan yang sedang ingin kau makan?”

Eobseo.. Apapun boleh, aku bukan tipe yang pemilih dalam hal makanan.”

 

“Woooah, jinja? Jung Haneul daebak!”

 

“Karena makanan apapun dan sebanyak apapun aku makan tidak akan membuat tubuhku gemuk,” Haneul menyipitkan matanya ke arah Sungmin.

 

“Tsk, kau menyindirku, huh?”

 

Aniya.. Keunyang kita bisa melakukan olahraga bersama Oppa, untuk membakar kalori dan membuat tubuh sehat.”

 

Eo, keurae.. (Iya, baiklah), najunge (lain kali).”

 

Oppa, apa makanan favoritmu?”

 

“Hamburger.”

 

“Eiiiiy, itu tidak baik untuk kesehatan.”

 

Sungmin terkekeh, “Aku bercanda. Euuung~ aku juga bukan tipe pemilih dalam hal makanan.”

 

“Terlihat dari postur tubuhmu, Oppa.” kali ini Haneul yang terkikik geli.

 

“Yya, Jung Haneul.. Apa aku terlihat sangat gemuk?” Tanpa sadar Sungmin mengerucutkan mulutnya.

 

Aigooo, ini pertama kalinya aku melihat sisi aegyo darimu Oppa, neomu kyeowo,” Haneul sangat ingin mencubit pipi Sungmin saat itu juga namun ia menahannya. “Selama ini yang aku tahu Lee Sungmin adalah sosok pria cool, keren dan penuh kharisma. Aku tak menyangka kau bisa ber- aegyo.”

 

Tawa Sungmin pecah seketika. “Jinja? Maka dari itu kau harus lebih dekat denganku untuk lebih tau tentang diriku.”

 

Keurae,” Haneul mengangguk. “Karena selama ini Oppa yang lebih banyak tau tentangku.”

 

“Jja, kita sudah sampai,” Sungmin memakirkan mobilnya di depan sebuah resto makanan Jepang. Keduanya disambut oleh waitress yang menyapa mereka dalam bahasa Jepang.

“Saya pesan makanan yang sama seperti satu minggu yang lalu,” ucap Sungmin pada pelayan wanita dihadapannya.

 

“Woaah, Oppa sering kesini yaa?”

 

“Begitulah,” Sungmin tersenyum. “Uri Haneul mau pesan apa?”

 

Haneul melihat daftar menu lalu menunjuk foto makanan yang ingin ia makan.

 

Tak butuh waktu lama, hidangan masakan yang mereka pesan pun sudah tersaji dan menunggu untuk disantap.

“Ittadakimasu,”ucap Sungmin yang diikuti pula oleh Haneul.

Disela-sela aktifitas makan itu, Haneul dan Sungmin meneruskan obrolan mereka.

“Aaaa, keuraekuna. Jadi Oppa bisa bahasa jepang?”

 

Chogeum (sedikit).”

 

Oppa.. ” Haneul menghentikan kegiatan makannya lalu menatap Sungmin, “Kapan aku bisa bertemu dengan Eomonim & Abonim?”

 

Sungmin tersedak. Dengan gerakan cepat ia meraih gelas berisi air mineral, lalu meminumnya sampai tak bersisa. “Keugae..” Sungmin terlihat berpikir sebelum melanjutkan perkataannya, sementara itu Haneul tetap menatap Sungmin, menunggu kelanjutan kata-katanya.

 

***

 

Di kampus saat jam mata kuliah terakhir usai, Minhee tidak segera pulang ke rumah. Ia lebih memilih untuk duduk sendirian di kafetaria, sambil terus mengaduk jus stroberinya yang masih utuh, sama sekali belum disentuhnya. Pikirannya masih terus berusaha memecahkan teka-teki antara Jongwoon, tetangga terbaiknya, dengan Donghae, orang yang disukainya. Sepertinya mereka saling kenal sebelumnya, namun hubungan mereka kurang baik saat ini.

 

“Ah, ige mwoyaaaaa???” Tanpa sadar Minhee mengeluh sambil menghentakkan kakinya. Tak peduli berapa pasang mata langsung memandanginya dengan bingung. Minhee memegangi kepalanya, “Ini memang bukan urusanku, keunde… Aku penasaran…,” ujarnya pada dirinya sendiri.

 

“Dasar aneh!” Tiba-tiba seseorang berdiri tepat di hadapan Minhee.

 

Minhee menoleh pada namja itu, pemilik pose berdiri santai sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. “Neo…??”

 

Lelaki itu dengan santainya duduk di hadapan Minhee, “Berbicara sendiri, seperti orang kesepian, michyeosseo…,”

 

“Yak! Beraninya kau berkata seperti itu? Dasar Cho Kyuhyun sok tahu, sok pintar, sok mengerti segalanya! Kau itu tidak tahu apa-apa tentang aku, hidupku, urusanku, jadi jangan berlagak seperti kau tahu segalanya!” Kata Minhee dengan nada rendah, tetapi terdengar kekesalan dalam cara bicaranya.

 

Well, terkadang seseorang memang butuh orang lain untuk mendengarkan ceritanya, membantu menyelesaikan masalahnya… Namun disaat kau tak punya siapa-siapa untuk membagikan ceritamu? Lawan bisa menjadi teman.” Namja itu, Cho Kyuhyun, terus berbicara semaunya.

 

“Apa sih yang kau bicarakan…,” kata Minhee hampir tak terdengar.

 

“Dimana seseorang itu? Seseorang yang selalu ada ketika kau membutuhkannya? Seseorang yang selalu ada jika kau susah ataupun senang? Dia pasti sedang bersama pacarnya.. Kenapa kau begitu yakin kalau Eonnie mu akan bahagia dengan lelaki itu? Apa karena ia baik? Kau juga belum begitu mengenalnya bukan?” Kyuhyun mencondongkan wajahnya lebih dekat pada Minhee, “Kau tahu tidak? Orang yang akan menikah itu pasti menghabiskan waktu mereka bersama-sama supaya bisa lebih mengenal satu sama lain… Kau itu siapa?” Bisik Kyuhyun.

 

Butiran-butiran bening hampir jatuh dari kedua mata Minhee. Ia langsung melihat keatas, mencegah airmatanya mengalir, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Jangan katakan apa-apa lagi tentang aku dan dia. Kau hanya orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang kami.” Minhee bangkit dari duduknya, dan mendorong tubuh Kyuhyun sekuat tenaga. Lalu ia berlari meninggalkan pria itu.

 

Minhee terus berlari dan airmatanya pun mengalir deras. Tiba-tiba pikiran jahat datang, tentang apa yang telah dikatakan Kyuhyun. Apakah Haneul melupakan Minhee? Apakah Minhee tidak berarti untuk Haneul? Langkah Minhee pun terhenti, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menahan suara tangisannya. Dari sebuah laboratorium komputer yang berada tepat di depan Minhee, terdengar percakapan dua orang lelaki. Awalnya Minhee tidak tertarik untuk mendengarkan percakapan dua lelaki itu lebih jauh, namun salah satu dari mereka menyebut nama Minhee, membuat Minhee mendekat kearah sumber suara.

 

“Aku tak menyangka kalau aku akan bertemu dengannya. Mengapa dunia begitu sempit? Dan kenapa dia juga harus mengenal Minhee? Kenapa setiap gadis yang menjadi temanku… Harus berhubungan dengan dia?”

 

“Apakah Minhee sudah tahu tentang hal ini? Kau pikir dia akan kecewa padamu?”

 

“Entahlah… Aku tidak akan memberi tahunya. Sebisa mungkin aku akan merahasiakan hal ini darinya. Hm… Ya, mungkin dia akan membenciku. Aku tidak mau itu terjadi. Lagipula… Kurasa aku tidak bisa kehilangannya.”

 

“Bagaimana dengan Seoall?”

 

“Aku juga menyayanginya… Dulu. Entah mengapa, saat ini… Minhee lah yang sering merasuk dalam pikiranku, menggangguku mengerjakan proyek-proyek dari dosen karena senyumnya yang manis.”

 

“Dasar playboy~”

 

“Hahahaha bukan begitu… Dia masih anak kecil, paling tidak… Saat Seoall tidak ada, aku masih bisa menelfon Minhee untuk sekedar teman ngobrol. Dia anak yang asyik,”

 

Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat kearah pintu laboratorium komputer.

 

“Oh… Hanya sebagai seseorang untuk menemanimu ngobrol disaat pacarmu sedang tidak ada?”

 

Kedua lelaki itu terkejut mendengar suara lirih seseorang.

 

======================

 

One response

  1. gita

    lanjut ke chapter 17…😀😀

    June 4, 2013 at 8:47 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s