MinNeul's Home

The Story Of Edelweis & Sunflower (18)


A9rdYsRCIAE1No3.jpg large

Author: @ittibanwife & @magnificentSJ

(Project Duet Orange Pumpkin Girl with Clouds Merah Muda)

Disclaimer : This is just FanFiction. The Casts belongs to their self, , their family and GOD. But the story belonging to us. Copy-Paste our story is NOT ALLOWED without our permission.

Happy Reading ^-^

Don’t forget to leave your comment, gamsahamnida my beloved reader :3

Dari ujung pintu kamar rawat Minhee terlihat satu buket bunga matahari. Minhee dan Jongwoon saling menatap bingung. Tak lama kemudian, seorang cowok berambut keemasan dengan sweater biru melangkahkan kakinya perlahan memasukki bangsal Minhee.

“Donghae Oppa?” Ujar Minhee.

Jongwoon terlihat membeku seketika, sedangkan senyum yang Donghae tunjukkan karena keceriaannya bertemu Minhee langsung memudar begitu saja setelah ia melihat seorang Jongwoon sedang berdiri di samping ranjang Minhee. Jongwoon menatap lurus kearah Donghae, namun objek yang dipandangnya itu hanya menunduk. Keadaan tidak menyenangkan itu terus berlanjut beberapa menit. Minhee hanya mematung, sambil sesekali menatap kearah keduanya takut-takut.

“Minhee-ssi… Aku akan cari angin sebentar, apa kau sudah selesai makan?” Tanya Jongwoon serius, memecah keheningan.

“Eh? Euuu~ ne…,” jawab Minhee kaku.

Jongwoon mengambil piring di pangkuan Minhee, lalu memberikan segelas air padanya sambil tersenyum, “Kamsahamnida..,” ujar Minhee sebelum meminum air mineral dari gelas itu.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jongwoon langsung meninggalkan ruang rawat Minhee, meninggalkan Donghae yang masih menunduk dan Minhee yang sedang kebingungan tak tahu harus berbuat apa.

Donghae dan Minhee tak ada yang berkata apa-apa. Sampai akhirnya…

Chakkaman, Hyung!” Donghae langsung meletakkan buket bunga mataharinya keatas sebuah meja di kamar itu, lalu ia berlari mengejar Jongwoon keluar ruangan.
Hyung, tunggu!” Donghae menarik bahu Jongwoon.

Jongwoon langsung menyingkirkan tangan Donghae dari bahunya, “Apa lagi yang kau inginkan, pengkhianat?” Tanya Jongwoon ketus.

Joesonghamnida… Aku… Aku tidak bermaksud menusukmu dari belakang… Aku hanya..,”

“Cukup!” Jongwoon memotong penjelasan Donghae. “Dulu, kau merebut Seoall dariku. Tidakkah kau tahu kalau aku sangat mencintainya? Tentu kau tahu betul! Tapi apa yang kau lakukan padaku, hah? Lalu apa sekarang? Kau ingin merebut seseorang dari sisi ku lagi? Kau…,”

“Itu karena kau tidak bergerak sama sekali, Hyung! Kau pengecut!” Sela Donghae.

Jongwoon terdiam, mencerna satu-persatu kata yang keluar dari mulut Donghae.

“Jika kau mencintai seseorang, katakan padanya! Buatlah dia tahu bahwa kau ada untuknya! Apa yang terjadi antara kau dan Seoall… Bukan apa-apa. Kita memang berteman dari kecil, tapi apakah bisa aku menyalahkan perasaan Seoall terhadapku dibanding kau?” Donghae terengah sesaat, “Ia pernah bilang padaku bahwa dia sangat mencintaimu, jauh sebelum kau menyukainya, Hyung... Tapi kau tidak pernah membiarkan Seoall tahu perasaanmu, kau membuat ia menunggu… Saat itu siapa tempatnya bercerita dan berkeluh kesah selain kau? Aku.”

Jongwoon masih terdiam, saat ini ia yang tertunduk.

“Saat itu, aku hanya mencoba untuk menjadi seseorang yang ada untuknya, menemaninya, disaat ia sedang membutuhkan seseorang… Nan mollaseo.. Tiba-tiba rasa simpati itu berubah menjadi rasa sayang yang berbeda dari biasanya, Hyung… Lama-kelamaan jika kau bersama seseorang, membuatnya nyaman berada di dekatmu.. Rasa itu akan tumbuh dengan sendirinya. Kupikir aku harus mengungkapkan perasaanku pada Seoall karena aku tidak mau kehilangannya, kehilangan orang yang benar-benar ku cintai… Itulah mengapa akhirnya aku dan Seoall…,” Donghae memutuskan kalimatnya.

Jongwoon berbalik, ia melangkahkan kakinya perlahan menjauhi Donghae.

“Katakan padanya jika kau mencintainya, Hyung… Aku tidak akan merebut dia darimu, aku hanya menganggapnya sebagai adikku, kau tahu kan aku tidak mempunyai yeodongsaeng? Dia seorang gadis menarik, selalu ceria, membuat siapapun yg berada di dekatnya merasa nyaman. Katakan padanya, Hyung…,” kata Donghae kemudian…

***

Uri manneyo, Wookie-ya!” Haneul menyapa lelaki yang berada dihadapannya. Kim Ryeowook, lelaki mungil dengan senyuman seperti anak kecil yang hari itu memakai kemeja lengan putih dibalut dengan cardigan ungu serta fedora yang menjadi ciri khasnya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memeluk erat Haneul. “Yya~ sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak suka dipeluk!” Haneul menggembungkan kedua pipinya, berpura-pura kesal pada Ryeowook.

“Neul-ah, bogoshipeoyo….” Ryeowook semakin mengeratkan pelukannya.

Nadooooo~~~” jawab Haneul “Kau ini, semakin sibuk saja dengan proyek drama musikalmu. Bertemu kau sekarang seperti bertemu dengan selebritis, serba sulit!” Sindir Haneul yang sukses membuat Ryeowook mendengus lalu melepaskan pelukannya dan menepuk kepala Haneul sambil tertawa. “Wook-ah,” Haneul menatap lurus ke arah wajah sahabatnya itu “Euung, aku punya kabar gembira.”

Mwonde?” Ryeowook memicingkan mata.

“Aku akan menikah,” ucap Haneul singkat dan jelas.

“Woah, jinjja? Sejak kapan uri Haneul punya namjachingu?”

“Sejak uri Wookie tidak pernah bersepeda denganku lagi.”

Mwo? Chakanman. Apa mungkin, namja yang uri Haneul maksud itu lelaki yang mengejar-ngejarmu tempo hari?”

Eo, majayo!”

“Yya, Jung Haneul, neo micheosseo? Apa yang lelaki itu lakukan hingga membuatmu menerimanya?”

“Sangat banyaaaak yang dia lakukan,” jawab Haneul mantap.

“Tsk,” Ryeowook hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Jung Haneul yang ia kenal adalah sosok gadis keras kepala yang tidak mudah ditaklukan. “Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” Ryeowook melemparkan pandangan ragu.

Haneul mengangguk, “Maka dari itu, kau harus mendukungku ya!”

Ryeowook menatap kedua bola mata Haneul, mencari apakah ada setitik keraguan dari pandangan mata itu dan Ryeowook menemukannya! “Apakah dia pria yang baik? Bagaimana dengan keluarganya? Pekerjaannya? Asal usulnya?” Ryeowook memberondong Haneul dengan banyak pertanyaan.

“Kau,” Haneul mengambil jeda sebelum melanjutkan perkatannya, “Khawatir padaku?”

Keurom,” Ryeowook menganggukan kepalanya. “Kau itu sahabatku dari sejak kecil dan aku sudah sangat mengenalmu. Aku tahu kapan kau senang, sedih, marah, kecewa dan aku juga masih ingat kapan pertama kalinya seorang Jung Haneul resmi menjadi seorang perempuan.”

“Yya~ Kim Ryeowook,” Haneul memukul bahu Ryeowook. “Jangan bahas kejadian itu lagi, kau mau mati ditanganku, huh?”

“Nah ini, calon suamimu harus tahu bahwa Jung Haneul pun bisa semenyeramkan ini,” Ryeowook terkikik geli.

“Dia tahu hampir semua tentangku, dia pun tahu kalau kita bersahabat.”

Mwo?” Mata dan mulut Ryeowook membulat. “Hoksi (apa mungkin) dia stalker?”

Molla.”

” Euung~ atau DETEKTIF?!”

“Detektif?” Haneul mengernyitkan dahi.

“Aisssh, Jung Haneul.. Neo paboya? Kalian akan menikah tapi kau juga belum begitu mengenalnya, begitu?”

Keunyang, aku merasa yakin dengannya. Dia keren karena berani memintaku untuk menikah dengannya, padahal pada saat itu dia belum tahu bagaimana perasaanku padanya”

“Sebaiknya kau selidiki dulu tentang lelaki itu.. Siapa namanya kau bilang? Lee.. Euum~ Lee Sungmin, eo?”

Keurae. Hajiman, aku takut kalau dia tidak seperti yang aku lihat selama ini.”

“Haneul-ah, dengarkan aku. Menikah itu hanya satu kali untuk seumur hidup. Kau tidak bisa bermain-main dengan itu.”

Haneul menghembuskan nafas berat lalu mulai meresapi kata-kata yang disampaikan Ryeowook.

“Satu lagi, kalau kau butuh bantuanku, bilang saja. Aku juga akan mencoba mencari tahu tentang lelaki itu. Aku belum sepenuhnya percaya dan biasanya kecurigaanku pada sesuatu atau seseorang memang sering terbukti.”

Gomawo, uri Wookie.” sebentuk senyuman terbentuk diwajah Haneul.

“Jadi, kapan kita mulai penyelidikan?” Ryeowook memakai kacamata hitamnya, berlaga menjadi seorang detektif.

Gerakan yang baru saja dilakukan Ryeowook membuat Haneul tak bisa menahan tawa, “Jigeumen! (Sekarang)”

***

Annyeonghaseyo!” Sapa seorang pria yang pagi itu memakai kaos hitam dibalut kemeja stripped abu-abu dari balik pintu bangsal Minhee.

“Jongwoon-ssi!!! Annyeong!” Balas Minhee semangat, sambil menguncir rambutnya di depan cermin.

Annyeonghasimnikka, Ahjumoni.” Sapa Jongwoon sambil membungkuk.

“Bagaimana kabarmu? Lalu Nyonya Kim?” Tanya Ibu Minhee yang pagi itu sedang membantu Minhee membereskan barang-barangnya.

Pagi itu Minhee sudah diperbolehkan pulang.

“Kami semua baik, Ahjumoni.” Jawab Jongwoon penuh senyum, “Mmm… Bolehkah aku mengajak Minhee jalan-jalan sejenak sebelum meninggalkan rumah sakit? Sekarang aku akan membantu membawa barang-barang Minhee ke mobil.”

Minhee terlihat kaget, lalu menatap Ibunya bingung.

“Tentu saja boleh. Hm, nanti Ayah Minhee yang akan membantuku membawa barang-barang Minhee ke mobil. Kalian berdua pergilah..,” Ibu Minhee tersenyum.

Jongwoon langsung menatap Minhee, lalu memberi isyarat agar ia mengikuti Jongwoon keluar kamar rawatnya.
“Maaf ya, kemarin aku langsung pulang begitu saja. Hm, akhirnya kau tahu kan… Hubungan antara aku dan temanmu, Lee Donghae.” Jongwoon membuka pembicaraan. Saat ini keduanya sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit.

Minhee hanya mengangguk-angguk, membuat poni miringnya bergerak dan wajahnya terlihat imut, menurut Jongwoon.

“Uhmm… Omong-omong, aku senang kau sudah sembuh. Kau bisa masuk kuliah lagi kan? Aku janji, aku akan mengantarmu ke kampus setiap hari.” Kata Jongwoon pada gadis disebelahnya.

“Hihi… Tidak usah repot-repot. Aku kan bukan anak kecil,” kata Minhee.

“Kalau aku memaksa dan kau tidak boleh menolak?” Tanya Jongwoon diiringi tonjokan pelan Minhee di lengannya. Keduanya tertawa renyah.

Lalu Jongwoon menghentikan langkah kakinya. Saat ini, ia dan Minhee berada di taman rumah sakit.

“Minhee-ssi… Uhm… Dulu aku seorang pengecut… Membiarkan gadis yang aku sukai menjadi milik orang lain.” Kata Jongwoon tanpa menatap lawan bicaranya.

Minhee mendengarkan dengan seksama, kelanjutan kata-kata Jongwoon.

Jongwoon berdiri di hadapan Minhee, “Tapi aku sadar, aku telah melakukan hal yang salah dengan memendam perasaanku dan membiarkan gadis itu menunggu.”

Jongwoon merogoh sesuatu dari kantong celana jeansnya. Sebuah cincin kura-kura. “Sudah lama aku ingin memberikan ini padamu,” Jongwoon menaruh cincin itu di telapak tangan Minhee.

“Whoa… Ippeuda…,” Minhee berbinar.

“Tadinya cincin ini ingin ku berikan pada seseorang, tapi dia tidak menyukai kura-kura, jadi kuurungkan niatku untuk…,”

Mwo??? Seoall tidak suka kura-kura???” Tanya Minhee memotong perkataan Jongwoon.

Jongwoon tersentak, “Kau..?”

Minhee menutup mulutnya, “Mianhamnida….,” Ia membungkuk berkali-kali. “Aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Donghae Oppa kemarin sore. Mianhamnida.”

“Kau… Mendengar percakapan kami? Seberapa banyak?” Tanya Jongwoon, keringat dingin mulai mengucur dari dahinya.

“Mmm… Hampir semuanya… Aku mohon jangan benci aku, jangan benci aku.” Minhee kembali membungkuk berkali-kali.

“Minhee-ssi…,” Jongwoon memegang kedua bahu Minhee, menghentikannya dari sikap membungkuk berulang-ulangnya tadi.

Gwaenchanha…,” ujarnya sambil tersenyum.

Minhee menunduk, terlihat raut penyesalan yang amat sangat dari wajahnya.

“Jadi… Kau sudah tahu… Bagaimana perasaanku padamu?” Tanya Jongwoon.

Minhee hanya terdiam, ia lebih memilih untuk menatap kearah lain dibanding menatap lawan bicaranya yang menjulang lebih tinggi darinya beberapa senti itu.

“Aku tidak akan memaksamu untuk merasakan hal yang sama. Paling tidak, aku sudah lega karena kau tahu perasaanku sekarang.” Kata Jongwoon. “Jangan lupa dipakai ya cincinnya. Ayo kita kembali ke bangsalmu,” Jongwoon berlalu.

Minhee masih tetap berdiri dibelakang Jongwoon sambil menatap cincin kura-kura di telapak tangannya. Selang beberapa detik, ia langsung memakai cincin kura-kura itu di jari manis tangan kanannya, lalu ia mengejar Jongwoon.

Oppa!!” Panggilnya.

 

=======================

One response

  1. gita

    sangat berharap chapter selanjutnya segera di publish…
    ditunggu banget lho bun kelanjutannya…😀😀

    June 4, 2013 at 9:27 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s