MinNeul's Home

The Story Of Edelweis & Sunflower (19)


A9rdYsRCIAE1No3.jpg large

Author: @Dierenz & @wooncrush

(Project Duet Orange Pumpkin Girl with Clouds Merah Muda)

Disclaimer : This is just FanFiction. The Casts belongs to their self, , their family and GOD. But the story belonging to us. Copy-Paste our story is NOT ALLOWED without our permission.

Happy Reading ^-^

Don’t forget to leave your comment, gamsahamnida my beloved reader :3

Annyeong, Minhee-ya,” Haneul yang dibantu oleh adiknya Jinyoung sebagai cameraman berencana membuat video message untuk Minhee. “Jigeumeun (sekarang) eonnie sedang membuat kue untukmu. Apa kau senang? Eonnie tahu bahwa uri Minhee sangat suka makan, majayo Jinyoung-ah?” kamera pun mengangguk menandakan setuju dengan perkataan Haneul. Terdengar suara tawa Haneul dan Jinyoung.
Tak lama Haneul kembali berbicara, “Ahhh, ada banyak sekali buah stroberi, aku jadi ingin mencicipinya.” Haneul mengiris-iris buah stroberi segar untuk digunakan sebagai penghias kue.

Nuna terlihat seperti chef profesional,” sela Jinyoung.

Jeongmalyo?” Haneul menghentikan sementara kegiatan mengirisnya lalu tersenyum ke arah kamera.
“Kau mau stroberi Youngie-ya?” Kamera mengangguk. Haneul mengambil satu buah dan memberikannya pada Jinyoung.

Uri Nuna akan menjadi istri yang baik karena Nuna pandai memasak.”

“Terima kasih atas pujiannya, uri namdongsaeng,” Haneul kembali asik dengan kegiatan mengirisnya.
“Minhee-ya,” Haneul berbicara pada kamera. “Jeongmal mianhaeyo, eonnie mu ini tidak sempat menjengukmu di rumah sakit. Eonnie sangat merasa bersalah padamu. Kau mau kan memaafkan eonnie mu ini, eo?” Haneul menatap kamera dengan ekspresi memelas..
Jja, aku akan mulai menghias kuenya. Let’s start!”

Haneul mengoleskan cream secara perlahan dan hati-hati diatas bolu berbentuk bulat. Cream itu menyelimuti seluruh permukaan bolu dari atas hingga bawah. Setelah itu, Haneul menghiasi pinggiran bolu dengan cream berwarna lain dan stroberi sebagai pemanis. Tak lupa ia menuliskan kata-kata, “Welcome home uri Han Minhee” sebagai pelengkap kue beraroma stroberi yang dibuatnya.
Kkeut~” Haneul tersenyum puas melihat hasil karyanya. Sebuah kue berbentuk bulat yang aromanya cukup menggiurkan terpampang dihadapannya. “Tadaaaa~ ini kue untukmu nae saranghaneun yeodongsaeng, Han Minhee. Semoga kau suka yaa,” Haneul mendekatkan kue itu ke arah kamera dan video message dari Haneul diakhiri dengan love sign pose beserta ucapan “Han minhee, saranghae.”

Di kediaman orangtua Minhee. Sebenarnya Haneul sudah bilang pada Minhee untuk menonton video message -nya nanti ketika Haneul sudah pulang, tapi Minhee ngotot ingin menontonnya saat itu juga, bersama Haneul. Dan disinilah mereka berdua, depan televisi yang menayangkan video message Haneul untuk Minhee. “Hihi… Haneul eonnie… Neomu kyieowo…,” ucap Minhee sambil menikmati kue beraroma stroberi buatan Haneul.

Gomawo,” Haneul ikut senang melihat Minhee bisa tersenyum lagi seperti saat ini. “Oiya, bagaimana rasa kuenya? Enak? Kau harus berkata jujur yaa.”

Neomu massita! Jinjja!” Ujar Minhee ceria dan penuh senyum. Ia masih terus mengunyah cake yang superlezat itu, masih dengan mulutnya yang penuh dengan kue, ia bertanya, “Eonnie-ah, bagaimana kabar persiapan pernikahan Haneul eonnie dengan Sungmin oppa?”

Haneul terdiam sesaat. Ia ragu apakah harus mengatakannya pada Minhee atau tidak. Haneul menimbang-nimbang serta memikirkan seperti apa reaksi yang akan ditunjukkan adiknya itu.
Desahan nafas berat mengiringi ucapan Haneul, “Sasireun.. (Sejujurnya) aku kembali dihadapkan pada keraguan tentang keputusanku untuk menikah dengannya. Keraguanku ini bukan tanpa alasan. Ada hal-hal ganjil yang aku rasakan ketika sedang bersama dengannya. Walaupun aku mencoba untuk mengabaikannya, tapi tetap saja ada bagian dari diriku yang egois, meminta penjelasan dari hal-hal ganjil ini.”
“Ah~ dwaeseo (sudahlah) Ini hari kepulanganmu dari rumah sakit. Kau baru saja sembuh. Tidak baik rasanya dirusak hanya dengan ceritaku ini,” Haneul berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Hmm, arasseo…,” Minhee menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih jauh, mungkin Haneul sedang tidak ingin membicarakan tentang itu. Akhirnya ia mencoba untuk menyibukkan dirinya sendiri dengan membaca sebuah majalah yang sedari tadi tergeletak di meja.

Igeo (itu)” Haneul memperhatikan pergelangan Minhee dengan seksama. “Cincin dan gelangmu itu lucu sekali, kyaaaa,” kini Haneul memegang lengan Minhee dan mengamati kedua benda itu lebih dekat. ”Kau beli dimana? Beneran deh ini lucu dan unik banget loh..” Haneul masih terus memperhatikan gelang dan cincin milik Minhee. ”Hoksi.. (Apa mungkin) Kim Jongwoon?!” Tanya Haneul dengan histeris.

Eomeo!” Minhee terkejut. Shoot! Tebakan Haneul tepat pada sasaran. Rona kemerahan mulai terlihat di pipi Minhee, ia mengalihkan pandangan kearah lain, tak berniat memperjelas tebakan 100% tepat Haneul.

“Eiiy,” Haneul mulai menggoda Minhee. “Sepertinya tebakanku benar yaa.. Iya kan.. ” Haneul berusaha menahan tawa melihat kedua pipi Minhee yang semakin merona.

Aigoooo, eonnie-ah!” Minhee salah tingkah dan memilih menutup wajahnya yg kemerahan dengan kedua tangannya.

Haneul baru saja ingin menggoda Minhee lagi ketika ponselnya berdering, dari nomer tak dikenal. “Yeoboseyo.”

“Haneul-yang,” jawab suara diujung sana. Haneul mengenal suara berat itu.

“Bagaimana kau tahu nomerku?” Suara Haneul mulai meninggi.

“Jangan panggil aku Cho Kyuhyun jika untuk urusan mencari nomer orang penting dihidupku aku tak bisa diandalkan.”

“Tch,” Haneul mendengus. Ingin rasanya ia memutus sambungan telepon.

“Kau tidak berpikiran untuk mengakhiri pembicaraan kita ini kan?” BINGO! Apa yang sedang dipikirkan Haneul dengan begitu mudah ditebak oleh Kyuhyun.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Cepat katakan!” Tegas Haneul.

“Bisakah kita bertemu?”

“Kalau aku berkata T-I-D-A-K, bagaimana?”

“Aku akan tetap menemuimu.”

“Terserah kau sajalah,” dan Haneul pun benar-benar mengakhiri pembicaraannya dengan Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun itu benar-benar tidak waras. Untuk apa ia mau menemuiku lagi?” Keluh Haneul seakan-akan meminta jawaban itu pada Minhee. Yang ditanyapun hanya bisa menggeleng dan terlihat bingung.

***

Di sebuah kafe kawasan Cheongdamdong.
“Ini.” Ryeowook menyerahkan sebuah map berwarna ungu. “Semua informasi tentang Lee Sungmin ada disitu, aku sudah membacanya dan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa tidak ada yang mencurigakan,” Ryeowook membetulkan posisi kaca mata bacanya.

Haneul menerima map dari tangan Ryeowook lalu membukanya. Pada halaman pertama ia menemukan biodata Lee Sungmin, lalu berlanjut pada lembar kedua dan seterusnya.

Hajiman,” Ryeowook kembali berkata, “Kalau kau tetap penasaran, kita bisa membuntutinya kemanapun ia pergi. Kau bisa menyaksikan sendiri apa saja aktivitas yang ia lakukan, bagaimana?” tawar Ryeowook.

Sesungguhnya hati kecil Haneul menolak tawaran yang baru saja dilontarkan Ryeowook. Hati kecilnya ingin menghentikan ini semua dan belajar untuk mempercayai Sungmin seutuhnya. Namun otaknya tidak sejalan dengan hatinya. Otaknya menyuruh Haneul untuk mengiyakan tawaran itu. Rupanya dalam hal ini, hati kecil Haneul yang lebih dominan. Haneul menggeleng, “Ani, aku rasa ini cukup. Terima kasih atas bantuanmu Wookie-ya. Aku berhutang budi padamu.”

Mwo? Kau yakin?” tanya Ryeowook sambil melepas kaca matanya.

Haneul mengangguk.

Keurae.” Ryeowook meyunggingkan senyum lembut. “Jangan sungkan untuk meminta bantuanku kapanpun itu. Dan satu lagi yang perlu kau ingat Haneul-ah, tidak ada yang namanya balas budi dalam persahabatan. Arachi?” Ryeowook mengacak lembut rambut Haneul.

Orang bilang persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak akan bisa bertahan lama. Jika keduanya tidak saling jatuh cinta, maka keduanya akan saling menjauh. Tapi Ryeowook dan Haneul membuktikan bahwa ‘kata orang’ itu tidak sepenuhnya benar.

Lelaki berperawakan kurus dengan tulang pipi yang terlihat jelas itu mengaduk-aduk avocado juice -nya, lalu tak lama ia menyesapnya hingga bersisa setengah dari ukuran gelas. “Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”

“Tentu saja melanjutkan persiapan pernikahanku,” jawab Haneul setelah ia menghabiskan sisa orange juice digelasnya.

“Apa ada yang bisa aku bantu?”

“Euuung,” Haneul mengalihkan pandangan matanya pada langit-langit kafe. “Apa kau bisa jadi MC diacara resepsi nanti? Ahh, ani.. ani..” dengan cepat Haneul menggelengkan kepalanya. “Aku lebih suka melihatmu bernyanyi dengan piano. Jadi, maukah kau memberikan hadiah padaku sebuah lagu pernikahan?”

“Siap laksanakan nona manis,” Ryeowook meraih ponselnya lalu membuka aplikasi kalender. “Tanggal berapa pernikahanmu?”

“Dua bulan lagi dengan tanggal yang sama dengan hari ini,” jelas Haneul.

Noted.” Ryeowook menandai tanggal yang dimaksud oleh Haneul dan menyalakan alarm reminder satu minggu sebelum tanggal itu.

***

Drrrt drrrrt…
Minhee langsung menyambar iPhone nya yang bergetar diatas meja belajarnya.

Satu pesan diterima.
Dari: Jongwoon Oppa

Sudah malam, mengapa jendela kamarmu belum juga kau tutup?

Minhee tersenyum setelah membaca pesan singkat dari kekasihnya itu, lalu ia buru-buru berlari menuju ujung balkon rumahnya. Ia melambai pada seseorang.

Annyeonghaseyo!” Minhee membukakan pintu rumahnya.

Dihadapannya saat ini berdirilah seorang pria yang sedikit lebih tinggi darinya, malam itu ia memakai kaos hitam yang dibalut jaket kulit berwarna sama, dan tak lupa sebuah topi bisbol berwarna hitam-merah, Jongwoon namanya.

Lelaki yang disapa Minhee tersenyum, “Sudah pukul sembilan, kau belum tidur?” Tanyanya.

Minhee menggeleng, “Aku belum mengantuk.” Jawab Minhee.

“Terima kasih sudah memakai pakaian hangat. Disini sangat dingin sekarang.” Kata Jongwoon.

Ne. Oh ya, bagaimana di Mouse and Rabbit tadi? Ramai pengunjung?” Tanya Minhee sambil duduk di sebuah kursi di teras rumahnya, diikuti Jongwoon yang duduk disebelahnya.

“Ya, Eomma dan Abeoji sampai kewalahan tadi. Hari ini Jongjin sedang berkencan dengan pacarnya, jadi dia tidak bisa membantu kami.” Jelas Jongwoon. “Ah ya, bagaimana keadaanmu? Sudah makin membaik? Sebaiknya kau istirahat dan cepat sehat agar bisa terus merawat kura-kuraku.” Canda Jongwoon sambil membelai lembut rambut Minhee.

Minhee menonjok pelan lengan Jongwoon “Mwoyaaaa? Kau ingin aku cepat sembuh agar Ddangko terawat dengan baik? Jahat…,” Minhee cemberut.

Aigooooo kyeopta!” Jongwoon malah mencubit hidung Minhee.

“Yaaaak oppa-ya!!! Apo…,” Minhee langsung mengelus-elus hidungnya.

“Minhee-ya…,”

Ne?”

“Aku tidak bisa kehilanganmu.”

Nado. Kurasa kau juga sudah tahu itu.”

Jongwoon menghela nafas, “Minggu depan aku harus berangkat ke Cina menemui seorang temanku, namanya Shiyuan. Dia adalah seorang member dari sebuah band terkenal di Cina, dia sedang membutuhkan bantuanku.”

“Hm, geurae… Berapa lama kau akan berada disana? Apa kau akan menemaniku datang ke resepsi pernikahan Haneul eonnie?”

“Ah, molla…,”

Wae wae waeeee???” Minhee mengernyitkan dahi.

“Hm, akan aku usahakan.” Ucap Jongwoon kemudian.

Arasseo…,”

Jongwoon bangkit dari kursi, “Tidurlah dan jangan lupa mimpikan aku.”

Sirheo!!!” Minhee pura-pura membuang muka.

Jeongmalyo?” Jongwoon mencubit kedua pipi Minhee.

“Yaaaaaak okay, okay!” Minhee mengusap-usap kedua pipinya.

Annyeonghi jumuseyo!!!” Jongwoon mengacak-acak rambut Minhee lalu kabur menuju rumahnya.

“Yaaaaaak neo jinjjaaaaa!!” Ujar Minhee sedikit berteriak. Lalu keduanya saling melambaikan tangan.

Minhee kembali masuk ke rumah, lalu bersandar dibelakang pintu, “Kenapa Jongwoon oppa berkata seperti itu? Kenapa dia tidak yakin bisa datang ke acara resepsi pernikahan Haneul eonnie dan Sungmin oppa?” Tanya Minhee dalam hati.

***

Malam kian larut dan Haneul masih melangkahkan kakinya menuju tempat favoritnya, sebuah rumah nyaman yang ia tinggali bersama dengan kedua orangtua dan adiknya. Dari kejauhan Haneul melihat ada sesosok lelaki berperawakan tinggi sedang berdiri tepat di depan gerbang rumahnya. Haneul waspada. Ia mengambil ponsel ditasnya lalu menghubungi nomer rumahnya, berkali-kali ia melakukan itu tapi tak ada satupun panggilannya yang direspon. Haneul mencoba menghubungi ponsel Jinyoung, hasilnya pun sama. Akhirnya Haneul memberanikan diri berjalan lebih dekat menuju rumahnya dengan semprotan merica yang ia sembunyikan dibelakang badannya. Kini jarak Haneul dan gerbang rumahnya tak lebih dari dua meter. Haneul berdehem. Lelaki berperawakan tinggi itu berbalik dan menatap Haneul.

“Sudah lama aku menunggumu,” suara berat itu, Haneul mengenalnya.

“Cho Kyuhyun?” Haneul bertanya seraya mengamati wajah yang tertutup topi berwarna abu.

Eo, naya (ini aku) Cho Kyuhyun.”

“Ada urusan apa kau datang menemuiku? Bukankah sudah kubilang aku tak ingin lagi bertemu denganmu!” tegas Haneul

“Tapi aku ingin!” bantah Kyuhyun masih dengan suara berat dan aksen memerintahnya.

“Aku lelah, sebaiknya kau pulang saja,” Haneul bermaksud membuka pintu gerbangnya ketika Kyuhyun berkata, “Aku mengetahui hal-hal yang tidak kau ketahui tentang Lee Sungmin.

Seperti ada petir yang menyambar, kata-kata Kyuhyun sukses membuat Haneul kaget.

[tbc]

===================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s